Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Minggu Pagi


__ADS_3

"Hahaha."


Raisa mendengar tawa dari arah ruang tengah.


Kenapa laki-laki itu tertawa sendirian


Raisa kemudian berjalan mendekat ke ruang tengah, ternyata Nicho sedang asyik menonton tv. Raisa segera mengalihkan pandangannya, dia hendak menuju ke kamar pelayan untuk ganti pakaian.


"Eh, Raisa?"


Langkah Raisa terhenti saat Nicho menoleh ke arahnya.


"Ternyata kamu sudah datang."


"Selamat pagi tuan." Raisa segera memberi hormat


"Raisa, kemarilah."


Hah! Ada apa lagi ini?


"Raisa, cepat kesini."


"Iya tuan." Raisa berjalan mendekat ke tempat Nicho duduk


"Apa ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Iya, tolong ya pijat punggungku. Rasanya lelah sekali. Belakangan ini pekerjaanku menumpuk, aku jadi sering begadang semalaman."


"Baik tuan." Raisa kemudian berdiri di belakang sofa Nicho duduk


"Hmm, tanganmu enak sekali Raisa. Lain kali aku akan minta kamu memijatku lagi."


Apa! Dekat denganmu semenit saja aku tahan-tahan. Apalagi harus sering memijatmu?


"Raisa, lihatlah. Acaranya seru kan? Lihat itu yang bentuknya kotak warna kuning, dia tertawa lebar sekali. Apalagi rumahnya terbuat dari nanas. Terus yang bintang laut merah jambu, dia tinggal di dalam batu. Haha."

__ADS_1


"Iya, lucu sekali tuan."


"Yang merah jambu lucu sekali saat menyamar jadi perempuan, haha."


Raisa hanya membalas dengan tertawa kecil.


"Raisa, apa kamu tidak ingin tanya. Semalam aku pergi kemana."


Hah! Memang apa hubungannya denganku. Kamu mau apa juga memang itu urusanku!


"Semalam aku pergi ke bar. Begitu sampai disana para gadis langsung mengerubungiku. Mereka pada rebutan untuk menciumku."


Kenapa dia menceritakan hal itu padaku.


"Makanya, aku jadi lelah sekali karena tadi malam."


Kumohon hentikan. Aku sangat kesal mendengarnya.


"Raisa, menurutmu aku ini tampan kan?"


"Tentu saja tuan, anda sangat tampan. Siapapun akan terpesona dengan kharisma yang anda miliki."


"Wow Raisa, aku terkejut sekali kamu mengatakan itu. Ternyata seleramu bagus juga ya."


Apa! Aku mengatakan itu hanya untuk menyenangkanmu tahu. Karena aku masih ingin bertahan hidup.


"Enaknya malam ini aku undang saja mereka ke rumah, pasti seru sekali."


Tanpa sadar Raisa memijat punggung Nicho dengan keras karena merasa kesal.


Nicho : "Aduh! Sakit!."


Raisa : "Hah! Tuan, kenapa?"


Nicho : "Punggungku sakit sekali. Kamu pijatnya jangan kencang-kencang."

__ADS_1


Raisa : "Ma maaf tuan. Saya terlalu bersemangat."


Nicho : "Sudah, jangan pijat aku lagi. Aku mau makan cheese cake, suapi aku."


Apa! Lagi? Kenapa harus aku yang menyuapimu.


Nicho : "Tunggu apa lagi? Cepat sana pergi ke dapur!"


Raisa : "Baik tuan."


***


Di Dapur


"Huft! Menyebalkan, bisa tidak sih dia tidak membuat aku kesal satu hari saja."


Raisa mengambil kue di dalam kulkas lalu kembali ke ruang tengah.


Raisa : "Ini tuan."


Nicho : "Duduklah."


Raisa : "Hmm."


Nicho : "Duduklah di sampingku."


Raisa pun duduk di sebelah Nicho dengan gugup.


Memangnya dia tidak bisa makan sendiri apa. Kenapa sih harus aku yang dia minta melakukan ini. Kapan aku bisa bebas dari laki-laki ini.


Saat suapan kedua, Nicho menahan tangan Raisa. Lalu memakan kue itu seraya memandang wajahnya.


Ada apa ini, kenapa jantungku berdetak kencang. Kapan dia akan melepas tanganku.


Nicho menatap mata Raisa dalam, perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Raisa dengan lembut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2