
Raisa memeluk Nicho dari sampingnya. Pertahanan Nicho akhirnya runtuh, ia membenamkan kepalanya di dada Raisa dan terisak. Dalam hatinya, ia merasa takut akan kehilangan seseorang lagi yang ia cintai.
Tanpa kau mengatakannya pun aku tahu apa yang kau rasakan tuan, aku pun merasakannya.
"Aku kesal sekali kamu melihat sisi diriku yang seperti ini Raisa."
"Tidak apa-apa tuan, setiap orang pasti pernah merasa sedih dan membutuhkan tempat bersandar."
"Apa kamu merasa bahagia bersama Arthur?"
Raisa tak bisa menjawab.
"Dia dulu temanku waktu SMA, anak itu sering berbuat ulah. Suka menantangku dan Alex berkelahi. Lalu dia menjadi seorang model setelah lulus kuliah, yang ku tahu dia itu playboy. Tapi aku terkejut dia mau menikah dengan cepat, apalagi denganmu."
Haruskah aku katakan yang sebenarnya?
"Alex sudah memberitahuku, bagaimana kalian bisa bertemu. Tapi, mungkin itu memang sudah skenario Tuhan untuk menyatukan kalian."
"Tuan.."
"Aku mau tidur Raisa."
Dengan pelan Raisa membantu Nicho membaringkan tubuhnya. Raisa pun tidur di sisi kiri Nicho dengan posisi memiringkan tubuhnya menghadap Nicho.
"Apa kamu benar-benar akan tidur di sampingku?"
"Iya tuan, saya akan menjaga anda. Jika anda butuh apapun anda tinggal membangunkan saya."
Nicho memejamkan matanya, karena sudah larut beberapa saat Raisa tertidur lelap. Namun Nicho belum benar-benar tidur, ia kembali membuka matanya lalu memiringkan tubuhnya menghadap Raisa.
__ADS_1
Tangannya menyibak rambut Raisa menatap wajahnya sangat dalam.
"Raisa, aku harap ini bukan mimpi. Aku takut memejamkan mataku, jika aku bangun nanti kamu menghilang dari sisiku."
Nicho menyentuh bibir Raisa, dia teringat saat-saat mereka berciuman. Namun hal itu membuatnya sedih.
"Aku sangat bodoh, aku sudah bermain-main denganmu. Ternyata aku justru terjebak dalam permainanku sendiri."
Perlahan Raisa membuka matanya, Nicho tersentak.
"Tuan, anda belum tidur?"
"Aku.. aku.. belum bisa tidur."
"Kalau tuan tidak bisa tidur, tuan boleh menggenggam tanganku."
Nicho pun mendengarkan Raisa, tangannya menggenggam tangan Raisa dengan erat. Seakan menahannya agar tidak pergi meninggalkannya.
Tak lama kemudian mereka tertidur.
💕💕💕
Keesokan Pagi
Raisa terbangun, dengan tangannya yang masih di genggam erat oleh tangan Nicho.
Dia menggenggam tanganku erat sekali
Raisa memandang Nicho yang masih tertidur lelap.
"Tuan, aku merindukanmu."
__ADS_1
Nicho mendengar ucapan Raisa namun samar, ia membuka matanya perlahan. Kini mereka saling memandang.
"Raisa?"
"Selamat pagi tuan."
"Jadi semalam aku tidak bermimpi?"
"Tidak tuan, saya menjaga anda semalaman."
Sejenak Nicho terhanyut oleh perasaannya, sesaat dia tersadar lalu segera melepas genggaman tangannya dari tangan Raisa. Nicho berusaha bangkit, Raisa pun membantunya duduk dan bersandar.
"Sampai kapan kamu disini? Pulanglah."
"Tuan, saya sudah katakan kalau saya akan menjaga tuan sampai tuan benar-benar sembuh."
"Kenapa kamu melakukan ini? Apa karena kasihan? Aku tidak mau di kasihani."
"Tuan.."
Nicho beranjak dari tempat tidur, dia berdiri semopoyongan. Raisa segera memegang lengan Nicho.
"Tuan mau kemana? Apa tuan mau ke kamar mandi? Biar saya antar."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Tapi kondisi anda masih lemah tuan."
"Lepaskan Raisa, aku bisa sendiri."
"Tidak, saya akan menuntun tuan."
__ADS_1
Bersambung