Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Luka


__ADS_3

12 tahun yang lalu


Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun sedang berdiri menatap jendela. Manik mata hitam kelam yang terlihat sedih memandang bintang-bintang bertebaran di langit. Terkadang dalam hati ia merasa iri, karena jumlah mereka yang banyak. Sedangkan dirinya hanya seorang diri. Tinggal di rumah besar dan mewah, punya segalanya, dan di hormati oleh kalangan masyarakat. Kehidupan bagai seorang pangeran yang tinggal di istana. Semua orang pasti berpikir, dia sangat bahagia karena memiliki semuanya.


Anak laki-laki itu memang bahagia, namun itu dulu. Kini semuanya tinggal kenangan, hidupnya terasa hampa, sunyi, tak ada yang tahu apa yang ia rasakan. Kehidupan manis yang ia miliki bertolak belakang dengan kenyataan pahit yang ia terima. Di dalam rumah megah bak istana, pemilik manik hitam kelam itu hanya menghabiskan waktu berdiri menatap jendela dan tenggelam dalam lamunannya. Hanya satu orang yang mengerti tentang dirinya. Sang kepala pelayan membuka pintu, sebuah kamar mewah yang gelap gulita, ia menangkap siluet seorang anak laki-laki yang tengah berdiri dengan tirai jendela yang terbuka.


"Tuan muda, kenapa anda belum tidur? Sedari tadi anda berdiri di sana. Apa kaki anda tidak sakit?"


Manik hitam kelam itu menoleh dengan raut sedih, cahaya bulan semakin menampakkan kesedihannya dari jendela.


"Aku tidak apa-apa bibi. Kau tidak perlu mencemaskanku."


"Tapi tuan muda, anda bisa sakit. Ini sudah larut. Kalau anda sakit, tuan dan nyonya.."


"Apa mereka belum kembali?"


Deg


"Haha, biarkan saja aku sakit. Lagipula mereka tidak pernah peduli padaku. Sekarang mereka sudah tidak menyayangiku."

__ADS_1


"Tuan muda, tuan dan nyonya ada urusan di luar kota. Mereka akan pulang kalau urusannya sudah selesai."


"Bibi selalu mengatakan itu. Aku tahu bibi hanya ingin membuatku tenang. Selama ini hanya bibi yang peduli padaku."


"Tuan muda.."


"Tinggalkan aku, aku ingin sendirian."


Sang kepala pelayan menggigit bibir berusaha menahan air mata yang mau mengalir, ia akhirnya menutup pintu meninggalkan tuan mudanya yang kembali memandang dunia luar dari jendela kecilnya.


Flashback end


Sore berganti malam, akhirnya Raisa pulang dan tiba di rumah. Dia melihat kakaknya yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Terlihat lelah, seperti menyangga beban. Raisa pun mendekatinya. Tanpa ia sadari, ia telah membuat jantung kakaknya berdetak cepat seketika hanya dengan sentuhan lembut menepuk bahu kirinya.


Namun Steve membisu.


"Kak?"


Kenapa kamu menghampiriku Raisa? Kenapa tidak langsung ke kamarmu saja sana

__ADS_1


"Kak?"


Raisa terlihat cemas dengan mengerutkan alisnya. Steve menghela nafas, agar perasaannya tenang. Steve pun menoleh sembari menunjukkan senyuman hangat kepada adik yang di sayanginya sambil menggenggam tangannya yang masih bersandar di bahunya.


"Ada apa Raisa?"


"Kakak kenapa? Dari tadi ku panggil diam saja."


"Maaf, aku tidak dengar. Aku merasa lelah, aku sampai ketiduran disini."


"Kalau kakak lelah, kakak tidur saja di kamar. Kalau kakak tidur di sofa, nanti leher kakak sakit."


"Iya, nanti aku ke kamar. Sekarang kamu masuklah, pasti kamu lelah kan."


"Iya kak. Selamat malam kak."


"Selamat malam juga."


Raisa tersenyum, sebuah kecupan mendarat di kening Steven. Membuatnya terdiam cukup lama sembari memandang Raisa yang berjalan menapaki tangga.

__ADS_1


Raisa, kalau seperti ini. Bagaimana aku tidak semakin menyayangimu. Perasaanku padamu semakin lama semakin dalam. Aku takut suatu saat aku tidak dapat meredamnya lagi.


Bersambung


__ADS_2