Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Tulus


__ADS_3

Raisa menuntun Nicho berjalan menuju kamar mandi.


"Apa tuan mau mandi? Biar saya siapkan air hangat dulu ya."


Raisa menyiapkan air hangat, ia meneteskan sabun dan aroma terapi dalam bak mandi.


"Tuan, biar saya bantu."


"Tidak usah."


"Tapi tubuh anda masih sempoyongan tuan."


Akhirnya mau tak mau Nicho menerima bantuan Raisa, Raisa membantu melepaskan pakaian Nicho dan membantunya berendam di dalam bak mandi.


"Apa tuan mau saya menggosok punggung tuan?"


"Tidak perlu! Memangnya aku anak kecil apa!"


Dasar! Biasanya kau juga menyuruhku begitu kan!


"Pergi sana!"


"Baik, saya akan pergi. Tapi nanti setelah anda selesai silahkan panggil saya."


"Hmm."


Raisa keluar dari kamar mandi, tapi dia menunggu di luar sampai Nicho memanggilnya.


Kurang lebih sepuluh menit kemudian..


"Raisa!!"

__ADS_1


"Iya tuan!!"


Raisa segera masuk ke dalam kamar mandi setelah Nicho berteriak memanggilnya.


"Hati-hati."


Raisa membantu memegang lengan Nicho beranjak dari bak mandi, setelah itu menunggu Nicho membersihkan dirinya dengan air hangat yang mengalir dari shower. Setelah selesai, Raisa mengambilkan handuk untuk Nicho. Lalu kembali ke kamar, Raisa dengan telaten membantu Nicho memakaikan pakaiannya.


"Tuan, apa anda ingin kopi? Biar saya buatkan."


"Boleh."


Raisa kemudian turun ke lantai bawah menuju ke dapur untuk membuat kopi. Setelah itu Raisa kembali ke lantai atas ke kamar Nicho. Ia meletakkan secangkir kopi itu di atas nakas.


"Tuan, apa kepala anda masih pusing?"


"Sedikit."


"Silahkan."


Nicho duduk bersila di atas ranjang, sedangkan Raisa berjongkok di belakangnya sambil memijat kepalanya. Mereka terdiam dalam kebisuan, dan terhanyut dalam lamunan masing-masing.


"Apa tuan mau minum kopi?"


Nicho bergeming. Tanpa menunggu jawaban darinya, Raisa mengambil kopi dan membantu Nicho meminumnya. Setelah itu Raisa kembali memijat kepala Nicho.


"Raisa, kenapa kamu baik sekali padaku?"


"Tuan, saya tulus merawat anda. Tidak ada alasan apapun."


"Lalu apa keluargamu tidak khawatir, kamu pergi dari rumah."

__ADS_1


"Anda tidak perlu cemas tuan, saya sudah minta izin kakak sebelum datang kesini."


"Apa! Kakakmu tahu kamu ada di rumahku!"


Aku terpaksa berbohong


"Aku bilang pada kakak, kalau aku menginap di rumah temanku."


"Syukurlah. Aku tidak mau menggagalkan pertunangan temanku untuk yang kedua kalinya."


"Apa maksud tuan?"


"Kamu ingat wanita yang pernah datang ke rumahku waktu itu? Namanya Elisabeth, dia mantan pacar Alex. Mereka pernah bertunangan, tapi setelah Alex kuliah di luar negeri akhirnya kami sering menghabiskan waktu bersama. Hubungan kami tidak lebih dari sekedar teman. Tapi Elis menganggap lebih dari itu."


"Saya kira anda ada hubungan spesial dengan nona itu."


"Elis bukan tipe ku."


Tanpa sadar Raisa tersenyum mendengar ucapan Nicho.


"Raisa, sudah cukup memijatnya."


Nicho sedikit menggeser badannya, lalu Raisa duduk di sampingnya. Jarak mereka sangat dekat. Secara refleks Nicho merangkul pundak Raisa, perlahan mendekatkan wajahnya, dan bibir mereka kini menyatu. Raisa terkejut, namun perlahan pandangannya berubah lembut sambil memejamkan kedua matanya. Satu tangan Nicho menarik tengkuk Raisa untuk memperdalam ciumannya, membuat mereka berdua terhanyut dalam perasaan yang tak bisa di jelaskan. Beberapa detik kemudian mata Nicho terbelalak.


Apa yang ku lakukan?


Nicho segera menarik bibirnya dan melepas pelukannya dari Raisa.


"Raisa, maafkan aku. Aku tidak sadar sudah melakukan itu padamu."


"Tuan.."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2