
"Ibu, sudah tidak marah lagi kan?" Kalimat pembukaan Arthur di meja makan
"Hmm."
"Ibu adalah wanita tercantik dan hebat di dunia ini. Semua bidadari yang belum lahir, lewat..." puji Arthur yang memang paling jago menyenangkan hati ibunya. Sementara ayahnya hanya tersenyum mendengar dialog antara sang ibu dan anaknya.
"Kamu memang pintar menyenangkan hati wanita. Beda dengan ayahmu, dari dulu pelit pujian." sindir sang ibu sambil milirik sang ayah yang duduk di sampingnya
"Besok ayah mau belikan piala untuk ibumu. Penghargaan sebagai istri sekaligus ibu terbaik di dunia. 2 piala cukup tidak ibu?" pertanyaan sang ayah sambil tersenyum menatap istrinya yang selalu haus pujian, mirip seperti Arthur.
"2 piala untuk masa pernikahan 27 tahun? Kurang ayah! Mengurus rumah, merawat suami dan anak itu bukan pekerjaan yang gampang. Apalagi tipe anak yang banyak maunya seperti Arthur, suka buat pusing kepala ibu."
__ADS_1
"Nanti ayah buatkan satu ruangan khusus untuk semua koleksi pialamu ibu." hibur sang ayah untuk mengobati semua kelelahan jiwa sang ibu
"Ide bagus ayah! Piala masak tingkat keluarga, piala juara cuci piring, piala juara ngurus anak. Kalau perlu sekalian dengan piagam penghargaannya, biar ada bukti tertulis untuk acara pamer di arisan hahaha..." usul Arthur sambil menyentuh tangan ibunya di atas meja sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu jangan lupa antar ibu arisan hari minggu. Jangan kebiasaan kabur dengan teman terus setiap akhir pekan. Bagaimanapun, keluarga tetap yang utama."
"Beres ibu! Jangan lupa juga ibu, jadwal ke spa minggu depan, aku ikutan ya? Biar badan selalu bersih dan terawat." akhirnya Arthur menunjukkan udang di balik semua batu pujian palsunya sejak awal
"Kamu cowok tapi hobinya perawatan ke spa. Urusan ke spa, ibu bisa pergi sendiri dengan supir." tolak ibu sambil membayangkan hitungan angka-angka pengeluaran bulanan yang mulai membengkak sejak Arthur mulai ketagihan ikut menikmati waktu di spa bersamanya
"Lakukan saja yang menurutmu terbaik, nikmati semua prosesnya. Ayah doakan semoga kamu sukses."
"Aku pasti bisa ayah! Aku punya aura kuat untuk jadi artis. Wajah tampan, badan atletis, penampilan modis, sifat romantis, dan punya banyak penggemar di sosial media. Betul tidak ibu?" akhirnya Arthur menyebutkan semua kelebihan yang dimilikinya, sekaligus pelangi perjalanan kisah cintanya yang kadang berubah menjadi badai untuk keluarganya.
__ADS_1
"Ah! Dari dulu kisah cinta Arthur memang selalu heboh. Ibu masih ingat dengan pacarnya dulu. Kita sampai ikut pertemuan keluarga, makan malam dengan keluarganya, hanya untuk membuat gadis cemburuan itu percaya kalau Arthur tidak selingkuh. Tapi akhirnya apa, putus juga."
"Haha..namanya juga anak muda ibu, cinta memang perlu pengorbanan. Aku memang tipe romantis ibu, dia akan melakukan segalanya saat jatuh cinta. Pegawai toko bunga sampai hafal dengan daftar pesananku. Hahaha.." balas Arthur dengan suara tawa mengingat kebodohannya sendiri
"Romantis sih boleh, tapi apa romantis itu harus di ukur dengan uang? Waktu pertemuan makan malam dengan keluarga pacarmu dulu, ibu sempat berpikir. Apa memang takdir Arthur menikah di usia muda? Ternyata cuma cinta numpang lewat seperti iklan. Dari awal ibu sudah merasa, cinta kalian cuma musiman. Pacarmu itu belum siap untuk menjadi istri, belum serius." pendapat ibu tentang salah satu kisah cinta Arthur yang sempat membuat sang ibu harus dandan heboh ke salon dan memilih restoran terbaik untuk pertemuan keluarga
"Sekarang dia sudah lebih dewasa, beda jauh saat masih jadi pacarku. Tapi tenang saja ibu, istilah kembali lagi ke mantan tidak ada di kamusku. Sama saja seperti belajar jalan mundur, hahaha.."
"Bagus! Itu baru anak ibu."
Arthur ibarat sebagai figur cowok modern yang selalu haus popularitas. Dia terus bergerak di dunia yang penuh dengan persaingan, penampilan yang selalu mengikuti perkembangan fashion terbaru dengan semua perlengkapan gadget yang serba canggih di tangannya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya🤗