
Setelah mengantar Raisa pulang ke rumahnya, Sekretaris Li melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Membelah keramaian malam kota.
Sekretaris Li, tangan kanan sekaligus orang berpengaruh kedua di William Group. Jika Nicholas hanya terdiam lalu mendesah, entah mengapa laki-laki itu sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia berhati dingin, wajahnya juga tampan namun jarang sekali tersenyum.
Li melirik kaca spion, akhir-akhir ini dia melihat cukup perubahan dalam diri CEO muda yang sudah di layaninya sekian lama.
Gadis itu benar-benar sudah berhasil mengubah Tuan Nicho. Tapi sayang sekali gadis itu menolak perasaannya. Dia sudah melakukan kesalahan besar. Padahal hati Tuan Nicho mulai kembali melunak, tapi setelah ini akan kembali membeku sedingin es.
Li memasuki area parkir, para penjaga sudah mengenali mobil siapa yang datang. Mereka bergegas mendekat, membungkuk hormat saat Nicho keluar dari mobil. Li tahu, sebenarnya Nicho tidak terlalu suka tempat ini, dia juga bukan type lelaki yang suka minum alkohol. Tapi hanya dengan cara itu, dia bisa melepas beban pikirannya. Wanita yang duduk di sampingnya bahkan tidak di izinkan untuk menyentuhnya.
Li membukakan pintu dan dia berjalan di belakang tuannya. Lalu masuklah dua orang wanita cantik membawakan minuman.
"Selamat malam tuan." sapa mereka dengan ramah
Salah seorang gadis tadi duduk di samping kanan Nicho. Sementara Li duduk di kursi sebelah kiri Nicho. Li duduk diam tanpa ekspresi, hanya mengamati keadaan sekitar.
Nicho menunjuk gelas minumannya, wanita di sebelahnya sigap mengambilkan dan menyerahkan dengan hati-hati.
__ADS_1
Wanita itu menoleh, tidak tahu karena terpesonanya dengan ketampanan Nicholas. Tangannya terulur tanpa sadar menyentuh wajahnya.
"Maafkan saya tuan." gadis itu gemetar ketakutan
"Beraninya kau menyentuh tuan muda. Bukankah sudah ku peringatkan berkali-kali, Tuan Nicho tidak suka disentuh."
"Maafkan saya tuan, maafkan saya." Gadis itu bersimpuh dan berlutut
Sekretaris Li sesuai dengan rumornya, kejam dan berdarah dingin. Li hendak menampar wanita itu, tapi Nicho menghentikannya.
***
"Kakak, apa yang kakak lakukan di kamarku?"
Raisa bergeming di ambang pintu. Steve mulai beranjak dan berjalan mendekatinya.
"Aku ingin bertanya satu hal. Apa kamu jatuh hati pada pria itu?"
"Kakak, kenapa bertanya soal itu?"
__ADS_1
Steve menarik tangan Raisa masuk dan menutup pintunya. Dia menyandarkan tangan kanannya ke dinding.
"Apa yang kakak lakukan!"
"Raisa, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku akan mengatakan semuanya."
"Apa maksud kakak?"
Steve menatap mata Raisa begitu dalam, hingga akhirnya ciuman mendarat di bibirnya. Bibir mereka kini menyatu. Raisa terdiam, tak lama kemudian Steve melepas ciumannya.
"Raisa, aku mencintaimu."
"Kakak, bagaimana mungkin kau bisa.."
"Menurutmu ini aneh, tapi beginilah kenyataannya. Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Aku pun tidak bisa membohongi perasaanku."
"Tapi bagiku kakak sudah seperti kakakku sendiri."
"Iya, aku tahu. Kita tidak mungkin bisa bersama. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku. Dan aku minta maaf, untuk yang tadi."
__ADS_1
Setelah itu Steve keluar dari kamar, sementara Raisa sangat syok dengan apa yang baru saja di alaminya.
Bersambung