Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Halusinasi


__ADS_3

"Jadi kamu pikir kamu sedang berkhayal?"


Nicho tersenyum licik


"Sekarang akan ku buktikan padamu kalau aku nyata di depanmu."


Nicho mengangkat dagu Raisa, menempelkan bibir mereka. Mata Raisa terbelalak, Nicho mengecup bibirnya."


"Bagaimana? sekarang kamu sudah sadar kan kalau aku bukan khayalan."


Raisa diam mematung, berusaha mencerna dengan apa yang baru saja di alaminya.


"Ayo keluar dan pakai bajumu, lihat celanaku jadi basah karena kamu." ucap Nicho sembari keluar dari kolam air panas, sementara Raisa masih mematung.


Tadi itu, dia menciumku? tidak, tidak mungkin.


***


Mereka bergegas pulang, di perjalanan Raisa masih terdiam, terhanyut dalam lamunannya.


"Lain kali, kalau mau pergi minta izin dulu. Jadi aku tidak perlu melakukan ini."


Nicho memandang Raisa dengan bingung, dia merasa terabaikan.


"Hei, Raisa!"


Nicho mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Raisa, perlahan Raisa tersadar.


"Tuan?"


"Dari tadi aku bicara, ternyata kamu asyik melamun ya?"


"Emm.."


"Apa yang kamu pikirkan?"


Raisa tak bisa menjawab

__ADS_1


Gadis ini pasti memikirkan yang tadi, pasti dia sangat terkejut.


***


Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah, Nicholas berdiri menginterogasi Raisa di ruang tamu.


"Kamu tahu, betapa bingungnya aku saat kamu tidak datang juga kesini?"


"Saya minta maaf." ujar Raisa dengan menundukkan kepalanya dan menggenggam kedua tangannya


"Entah sudah berapa kali aku mendengar permintaan maaf darimu."


"Saya hanya, ingin liburan sebentar."


"Raisa, aku tidak bermaksud menekan kebebasanmu. Tapi, jangan kamu pikir ini hari minggu. Kamu bisa seenaknya memutuskan untuk libur. Kamu boleh pergi jalan-jalan saat weekend. Tapi, dengan izinku."


"Baik tuan."


"Ya sudah, sekarang buatkan aku minum. Aku haus, aku ingin jus apel."


"Iya tuan, akan saya buatkan. Permisi.."


***


Di dapur, Raisa masih memikirkan kejadian hari ini. Dia mondar-mandir sambil menggigit kukunya dengan resah.


Tidak, tidak mungkin. Dia tidak mungkin menciumku, saat itu pasti aku berhalusinasi. Mana mungkin, seorang pria kaya raya dan angkuh macam dia mau menciumku. Apalagi statusku adalah seorang pelayan disini. Iya, pasti itu halusinasi.


***


Raisa menghentikan lamunannya, dia kembali ke ruang tamu untuk memberikan apa yang diminta majikannya.


"Ini tuan.."


"Apa ini? aku minta jus apel kenapa kamu membuat teh jahe?"


"Hah.. em.. tadi, bukannya anda minta teh jahe?

__ADS_1


"Astaga.."


Nicho menepuk keningnya


"Aku tidak selera lagi. Ini, minum sendiri."


Dia memberikan segelas minuman itu ke Raisa, Raisa tampak bingung lalu kembali ke dapur.


"Hari ini aku kenapa, kenapa aku bisa melakukan kesalahan begini? haaa... pikiranku benar-benar kacau."


gumam Raisa di dapur yang terus memikirkan momen ciumannya bersama Nicho


Sementara Nicho mengintipnya dari luar dapur


Jadi begitu, gadis itu masih kepikiran yang tadi.


***


Keesokan harinya


Nicho pergi bersama sekretarisnya untuk menemui klien di luar kantor.


Nicho masuk ke dalam mobil. Dia duduk bersandar, lalu terdengar tawa dari mulutnya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang membuatnya sampai tertawa seperti itu. Sekretaris Li sudah duduk di belakang kemudi dan memasukkan kunci mobil. Bulu kuduknya berdiri melihat Nicholas tertawa seperti itu.


"Li."


"Iya tuan muda."


Sekretaris Li menghidupkan mobil kemudian keluar dari area parkir dan melajukan mobil membelah jalanan yang ramai.


"Kejadian kemarin sangat konyol, hahaha."


Sekretaris Li hanya terdiam. Dia melirik kaca spion melihat Nicho di belakang. Terlihat sangat terhibur dengan apa yang jadi objek pembicaraannya.


"Sepertinya aku suka padanya, dia pasti akan jadi mainan yang tidak membosankan."


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like & komen ya💗


__ADS_2