
...🔞WARNING🔞...
...Chapter ini mengandung konten dewasa!!...
...18++ area...
"Marisa!!"
Nicho berteriak memanggil wanita itu, setelah itu dia muncul di hadapannya.
"Sekarang jelaskan semuanya kepada istriku."
Marisa memandang Raisa dengan menunduk.
"Di antara kami tidak ada hubungan apa-apa. Aku minta maaf atas kelancanganku."
Raisa bersedekap. "Dan sekarang kau boleh pergi."
Dalam hati Marisa sangat kesal, karena telah dipermalukan oleh seorang gadis di hadapannya ini. Terlebih usia Raisa masih 20 tahun. Dia terlihat begitu angkuh disamping Nicho yang merangkul pundaknya.
"Tunggu apalagi? Cepat sana pergi! Kau tidak dengar istriku bilang apa?"
Marisa melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu kemudian menghilang dari ambang pintu.
Nicho mengajak Raisa masuk ke kamar, mereka duduk disisi ranjang.
"Istriku, rasanya aku lelah sekali. Aku mau langsung tidur."
"Iya suamiku, aku juga lelah."
Mereka berbaring, tak lama Nicho terlelap. Tapi Raisa masih belum bisa tidur dan merasa gelisah.
Aduh, kenapa ini. Kenapa rasanya aku ingin sekali. Tapi kelihatannya suamiku sangat lelah. Apalagi setelah menghajar preman-preman tadi. Selama kami menikah, aku belum pernah minta duluan. Apa aku harus membangunkannya.
Raisa melirik ke samping kanan, memandang wajah suaminya, lalu turun ke bawah. Tangannya menyelinap masuk ke dalam boxer. Nicho membuka mata, merasa ada yang bergerak didalam celananya.
__ADS_1
"Kamu sedang apa sayang?"
Raisa segera menarik tangannya.
"Tidak sedang apa-apa."
Nicho tersenyum.
"Oh.. istriku nakal sekali."
Nicho senang menggoda istrinya yang tampak malu-malu. Dia lantas mengecup dahi istrinya sekilas. Kini tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.
Nicho melumt bibir Raisa, perlahan menurun ke lehernya. Menghisap dan memberikan sedikit bekas kepemilikannya.
"Ah.." Raisa mendesah pelan saat bibir Nicho mulai memainkan puncak dadanya yang sudah menantang. Memainkan beberapa kali dengan tangan yang meremas lembut. Bibir Nicho menurun lagi, mencium perut ramping istrinya dan perlahan mengarah ke bagian paling sensitif.
"Ah..." tubuh Raisa bergerak tak karuan saat lidah Nicho mulai mengoyak bagian terdalamnya. Menjulur ke lubang senggamanya dan memainkannya secara brutal. Menariknya, menghisapnya, dan kembali mengoyaknya dengan jari yang sibuk memainkan ujung bagian tersensitifnya, lantas kembali ke senggamanya dan mengeruk didalam sana.
"Akhh.." mendapat perlakuan seluar biasa itu, tentu saja Raisa berteriak kenikmatan. Dia tidak peduli dengan volume yang dia keluarkan.
Toh mereka berada di lantai dua, tubuh Raisa semakin melengkung saat lidah suaminya bergerak kembali di pusat paling sensitifnya. Menghisap kuat dan menggigitnya pelan lalu menghisapnya kembali. Rasanya sungguh luar biasa nikmat. Raisa yakin di bawah sana sudah sangat basah. Nicho kembali menghisap inti miliknya dengan kedua jari yang mengoyak senggama.
Jari Nicho semakin cepat bermain di senggamanya dan lidahnya tidak berhenti memainkan inti dari milik istrinya.
"Akhh.." tubuh Raisa bergetar hebat. Dadanya naik turun mengatur nafasnya yang tersengal. Bibir Raisa terbuka dengan mata yang terpejam berusaha meraih oksigen sebanyak-banyaknya. Tapi Nicho kembali meraup bibirnya dengan agak terburu-buru. Menekan tengkuk istrinya memperdalam ciuman mereka. Nafas Raisa memburu juga tersengal dengan wajah memerahnya menahan gairah yang sudah mencapai ubun-ubun.
Raisa memberanikan diri membalik tubuhnya, memegang milik suaminya dan memainkannya. Entah dorongan darimana kini Raisa berani memulainya, dia tidak akan melakukannya jika suaminya tidak meminta. Nicho sampai terkejut istrinya seagresif ini.
"Ahh.. sayang.. aku.." teriakan Nicho mulai menjadi saat Raisa mempercepat gerakan tangannya.
Bisa Raisa lihat, tubuh suaminya tiba-tiba menegang. Nicho keluar begitu saja dan menyembur begitu banyak.
Raisa menatap sendu ke arah Nicho dan mulai merangkak naik ke atasnya, kembali mlumat bibirnya yang masih terbuka. Dengan cepat Nicho membalikkan tubuhnya, menatap Raisa saat tautan bibir keduanya terlepas.
"Sayang.." ucapannya terjeda. Raisa kembali meraih tengkuknya, mengecup ujung hidung suaminya.
__ADS_1
"Jangan katakan apapun, kumohon.." gumam Raisa merona. Raisa tahu dirinya terlihat sangat liar. Dia sendiri pun terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba begitu berani.
Nicho kembali meraup bibir istrinya, mlumatnya pelan hingga mata setengah bulan itu kembali terpejam. Kedua alis Raisa terpaut saat dia merasakan ereksi suaminya mulai memasuki dirinya.
"Ahh.." Raisa meremas punggung lebar itu saat merasakan penyatuannya. Mereka mengerang, mendesah bersama. Nicho memandang tatapan istrinya yang penuh nafsu, saat ujung miliknya yang panjang menyentuh puncak rahimnya.
Dengan pelan dia mulai menggerakkannya, menghujamnya dengan tempo lambat. Perlahan kenikmatan menghampiri Raisa. Setiap hentakan dari Nicho, mampu membuat tubuhnya melayang. Menghentak pelan disertai ciuman yang mampu menenggelamkan.
Perlahan namun pasti, Nicho mengoyak dan menghujamnya berkali-kali. Raisa semakin mendesah tak karuan dikala Nicho semakin mempercepat temponya. Menusuk semakin dalam, terasa sampai ulu hati.
"Sayang.." bisik Raisa didekat telinga Nicho
"A apakah aku menyakitimu?"
Raisa menggeleng kuat. "Kamu bisa lebih cepat?" pintanya.
Mungkin terlalu berani dia meminta, tapi karena sudah terlanjur. Raisa tidak mau lagi setengah hati. Dia menginginkan kenikmatan lebih, maka dari itu dia meminta. Kala miliknya menginginkan hal yang lain, hujaman kuat dengan tempo yang cepat, tanpa menunggu lagi. Nicho memeluk erat tubuh istrinya dan menambah kecepatan gerakannya. Semakin dalam, semakin membuat Raisa berteriak tak karuan. Ranjang yang mereka tempati sampai bergetar hebat. Mengikuti setiap hentakan dari dua insan yang tengah bergelut nikmat.
"Ahhh.."
Tubuh Raisa menegang lagi, rasa itu kembali lagi. Kenikmatan surgawi yang sungguh luar biasa itu menghampiri, membuat bibirnya yang terbuka dengan mata yang terpejam. Walau Nicho tahu Raisa sudah org*sme, hentakannya tak melambat sama sekali. Semakin cepat, semakin tidak beraturan. Dia mengejar kenikmatannya, mengerang dengan peluh yang menetes.
"Ahhh... sayang." erangnya semakin memperdalam miliknya, menghujam dalam sampai menyesakkan dada.
"Aarghhh..!" erangannya semakin keras saat tubuhnya menegang. Rahim Raisa seketika hangat saat cairannya menyembur penuh kedalamnya. Menyatu dengan cairan milik istrinya.
Mata Nicho yang sempat terpejam, perlahan terbuka. Menatap Raisa sendu. Dahi mereka kembali menempel, saling tersenyum penuh kepuasan dengan nafas yang saling tidak beraturan, menderu dengan sedikit tawa menyadari apa yang baru saja mereka lakukan. Puas, keduanya sangat puas.
Nicho turun dari atas tubuh Raisa setelah melepaskan tautannya. Terlentang dengan wajah memerahnya dan perlahan menarik selimutnya lalu membungkus tubuh mereka berdua hingga tertutup sampai dada.
"Sayang.."
"Hmm?"
"Kemarilah." Nicho menepuk lengannya yang terlentang menutupi bantal, menyuruh Raisa untuk pindah tidur di lengannya.
__ADS_1
Raisa tersenyum tipis, perlahan mengubah posisi tidurnya hingga kepalanya jatuh di lengan Nicho. Seketika pria itu menarik Raisa kedalam pelukannya, mendekap tubuh polos istrinya ke dada bidang miliknya. Tanpa malu-malu Raisa mengeratkan sebelah tangannya ke pinggang suaminya. Saling memeluk menghangatkan.
Bersambung