
"Lelah sekali, emm.."
Raisa meregangkan tangannya selesai bersih-bersih.
"Kamu mau pulang?"
Ketika Raisa menoleh ke arah suara itu, matanya langsung membulat.
"T tuan?"
Nicho berjalan mendekati Raisa yang saat ini berdiri di depan kamarnya.
"Aku mau mandi, cepat siapkan air hangat untukku."
Nicho baru pulang kantor jam 5 sore, begitu pulang dia langsung melepas seluruh pakaiannya dan kini hanya mengenakan handuk yang menutup pusar sampai pahanya.
"I iya tuan."
***
Di kamar mandi
Raisa sudah mengisi air di dalam bathub, dia menambahkan sabun dan beberapa tetes aroma terapi yang ada di dekat tempat sabun.
"Tuan, airnya sudah saya siapkan."
"Kalau begitu cepatlah keluar!" ucap Nicho yang sedari tadi berdiri didekat Raisa
"Iya tuan."
Baru saja Raisa melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia terpeleset karena lantainya licin. Nicho segera menangkap tubuhnya yang hampir jatuh. Mereka pun saling memandang. Beberapa saat kemudian Nicho tersadar.
"Dasar ceroboh, lain kali hati-hati. Coba kalau aku tidak menolongmu, pasti kepalamu sudah terbentur."
__ADS_1
"Maafkan saya tuan."
Raisa pun bergegas keluar, tapi baru satu langkah, majikannya kembali menghentikannya.
"Kamu mau kemana?"
"Keluar, bukankah tuan mau mandi?"
"Siapa yang menyuruhmu pergi?"
Raisa mengernyit
"Aku ingin kamu menemaniku, mandikan aku."
Raisa membelalak
"Apa!"
Tanpa mendengar persetujuan Raisa, Nicho berendam di dalam bathub. Dia melepas handuknya.
"Hah!"
Raisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Mau sampai kapan kamu berdiri disitu? Kemarilah."
Raisa mulai mendekat, dia melangkahkan kakinya pelan ke arah Nicho.
"T tuan, sebaiknya pakai handukmu."
"Aku kan mau mandi, masa handuknya dipakai."
"Tapi.."
__ADS_1
"Kamu kebanyakan protes."
Nicho memandang Raisa dengan tajam, Raisa pun segera mendekatinya. Dia berusaha memandikan Nicho dengan mengalihkan pandangannya.
"Sudahlah, kamu santai saja. Anggap saja sedang memandikan bayi."
Bayi macam apa badannya sebesar ini
"Gosok tubuhku yang benar."
Raisa menggosok tubuh majikannya, setelah selesai dia mencuci rambutnya. Nicho sangat menyukai sentuhan Raisa dan pijatan kepalanya. Dia begitu menikmatinya dengan memejamkan kedua matanya.
"Ternyata kamu pintar juga ya, kalau begini aku akan menyuruhmu memijat kepalaku setiap hari."
Dasar brengs*k! Dia tidak sadar apa
sedari tadi aku menahan diri, berdua dengannya didalam kamar mandi.
"Jika begini aku tidak perlu minum obat, kamu bisa menyembuhkan sakit kepalaku."
Dasar sint*ng
***
Jam 19.00
Raisa akhirnya pulang, karena pekerjaannya sudah selesai. Sesuai perjanjian dia boleh pulang pada jam 7 malam. Raisa di antarkan pulang oleh supir Nicho.
Dari balik jendela Nicho membuka tirai, dia memandang pelayan barunya sampai menghilang dari pandangannya. Sekilas senyuman terukir dari bibirnya mengingat momen hari ini.
Baru kali ini aku merasa sesenang ini. Rasanya menyenangkan sekali mengerjai dia. Raisa, sampai ketemu besok..
Bersambung
__ADS_1