
Ya Tuhan.. kenapa sekarang semuanya jadi begini. Aku memang ingin terbebas darinya. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku kehilangan kakak. Sekarang kakak juga seperti orang asing bagiku. Aku sendirian. Bahkan sekarang rasanya jauh lebih menyakitkan.
Raisa merenung di dalam kamarnya. Dia juga berpikir ingin mencoba untuk mencari pekerjaan. Pertama ia akan pergi ke restoran besar, supaya pendapatannya sedikit lebih banyak. Jika gagal, ia akan pergi ke restoran lebih kecil. Jika masih gagal, yah ia akan tetap berusaha. Kebetulan Raisa punya teman SMA yang menjadi kepala waitress di sebuah restoran mewah. Segera ia mengambil ponselnya di tempat tidur.
"Hallo?"
"Siapa ini?"
"Ini aku, Raisa. Teman sekelasmu dulu."
"Oh, Raisa."
"Maaf ya, malam-malam menelfonmu. Aku dengar kamu sekarang jadi kepala waitress di sebuah restoran. Aku ingin melamar kerja."
"Kebetulan sekali, ada lowongan sih. Besok datanglah kesana, nanti aku chat alamatnya."
"Ok. Terima kasih Selly."
***
Keesokan harinya
Setelah berganti pakaian dengan baju baru yang ia beli, Raisa bergegas keluar dari kamar. Dia sudah memesan ojek online. Menuruni tangga sambil membawa tas yang selalu ia pakai.
__ADS_1
"Wah- wah, mau kemana kamu?" tanya ibu tirinya di bawah tangga
"Aku mau melamar kerja ibu. Lagipula aku sudah tidak bekerja lagi di rumah majikanku. Jadi aku merasa jenuh di rumah karena tidak banyak kegiatan."
"Itu akibat kebodohanmu sendiri. Wanita di luar sana, berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya. Tapi kamu justru mengacuhkannya. Padahal sudah beruntung dia mau melamarmu."
"Maaf ibu, aku berangkat dulu."
***
Dalam perjalanannya, Raisa menghabiskan waktu dengan berpikir. Tidak ada pembicaraan apa-apa dengan driver yang fokus membawa motornya. Raisa masih memikirkan pekerjaan apa yang bisa ia kerjakan nantinya, masak? ia bisa. Atau menjadi seorang waitress? Raisa terkejut saat motor ternyata sudah berhenti di depan sebuah restoran.
Raisa mendatangi restoran Prancis, semoga dia mendapat keberuntungan disini. Raisa disuruh langsung bertemu dengan managernya untuk penyeleksian lebih lanjut. Dia memasuki ruangan dimana seorang kepala waitress mengantarnya. Raisa sedikit gugup masuk ke dalamnya, dia bisa melihat manager tersebut masih membelakanginya. Saat manager itu menghadap ke arahnya, dia adalah seorang pria dengan ciri-ciri rambut merah muda, dan sikapnya terlihat tegas.
"Iya bos." Raisa berusaha untuk tersenyum
"Siapa namamu?" tanya Jimmy dengan suara tenang
"Raisa Angelina."
"Kamu bisa apa?" kali ini dia memperhatikan kulit tangan Raisa yang tampak halus di matanya
__ADS_1
"Apa saja."
"Kamu yakin butuh bekerja, parasmu menunjukkan kamu dari keluarga terpandang."
"Bukan hanya paras bos, tapi saya benar-benar dari kalangan bawah dan butuh uang." pungkas Raisa segera, ternyata calon bosnya ini begitu jeli menilai seseorang.
"Sepertinya kamu memang sedang sangat butuh uang. Dan karena aku bukan orang yang tega, baiklah kamu sudah bisa bekerja mulai besok." ucap Jimmy. Hati Raisa membuncah karena senang.
Sesaat setelah Raisa keluar dari ruangan.
"Hei, bagaimana aktingku?" tanya Jimmy pada Selly yang berdiri di depannya
"Ok bos, anda sangat hebat." jawab Selly sambil mengacungkan jempol
Setelah itu Selly keluar dari ruangan.
"Raisa, apa kamu tadi gugup?"
"Sedikit."
"Bos memang begitu. Dia orangnya dingin, tapi sebenarnya dia baik."
__ADS_1
Astaga.. aku ingin tertawa rasanya.
Bersambung