
"RAISA!!"
Raisa pun segera turun dan mendatangi Nicho.
Raisa : "Iya tuan, ada apa?"
Nicho : "Sekarang jelaskan padaku, kenapa kakakmu bisa datang kesini."
Raisa : "Hmm, hmm."
Nicho : "Jangan sampai aku mengulangi pertanyaanku."
Raisa : "Semalam kakak tidak sengaja menemukan surat perjanjian itu, ayah lupa menyimpannya."
Nicho : "Oh begitu ya."
Raisa : "Tolong maafkan sikap kakak saya tadi tuan. Atas nama kakak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
Nicho : "Maaf? Kakakmu itu menyebalkan sekali tahu."
Raisa terdiam dan menunduk
Terlihat, Nicho sedang mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.
"Hallo, datanglah ke rumahku secepatnya."
Setelah menelfon, Nicho meminta Raisa duduk di sofa. Mereka duduk cukup lama tanpa mengucap sepatah katapun. Nicho diam sambil mengetik ponselnya, sementara Raisa diam dengan gugup.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya seseorang yang di nantikan datang. Seorang pria dengan postur tinggi bertubuh kekar masuk dan memberi hormat pada Nicho.
"Selamat malam tuan."
"Li, kau tidak lupa pesanku?"
"Saya mengerti tuan."
__ADS_1
Raisa terkejut ketika sekretaris Li meliriknya dengan tajam
Sekretaris Li berjalan mendekat dan berdiri di samping Nicho, ia mengeluarkan stop map berwarna merah lalu ia letakkan di atas meja.
"Raisa, ini adalah perjanjian antara aku dengan ayahmu. Bacalah, itu yang harus kamu patuhi selama menjadi pelayanku."
Perlahan Raisa meraih benda itu. Sejujurnya walaupun dia terlihat tenang, namun jantungnya berdetak kencang.
Pihak pertama : Nicholas William
Pihak kedua : Raisa Angelina
Perjanjian yang berlaku selama bekerja menjadi pelayan adalah semua perintah pihak pertama harus di patuhi oleh pihak kedua.
Raisa mencoba mencerna kalimat yang tertulis di kertas itu. Sekarang ia menyadari laki-laki di hadapannya ini memang bisa melakukan apapun yang ia inginkan.
Raisa : "Tuan, apa maksudnya perjanjian ini?"
Nicho : "Apa kamu sungguh tidak tahu maksudnya?"
Nicho : "Selama ini aku pikir ayahmu sudah memberitahumu, ternyata tidak sama sekali ya."
Raisa : "Ayah tidak bilang apa-apa, dia hanya minta.."
Tiba-tiba sekelebat ingatan muncul ketika Raisa diantar oleh ayahnya berangkat ke rumah majikannya.
Ingat, kau harus membuatnya senang.
Tenggorokan Raisa tercekat, kini ia paham bahwa ia bukan hanya bekerja sebagai pelayan. Namun juga harga dirinya, telah menjadi milik laki-laki berhati dingin ini.
Raisa : "Saya benar-benar belum tahu apa saja perintah anda tuan."
Raisa masih tidak percaya, bagaimana mungkin ayahnya bisa sekejam ini.
Nicho : "Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya panjang lebar."
__ADS_1
Raisa terdiam menggenggam kedua tangannya, ia tak berani memandang lelaki yang ada di hadapannya ini. Sungguh saat ini ia benar-benar ingin menangis.
Nicho : "Sekarang kamu sudah mengerti kan? Li, ayo kita pergi."
Setelah menjelaskan semuanya, Nicho pun pergi bersama sekretarisnya meninggalkan Raisa sendirian di ruang tamu.
* * *
Di rumah, Steve tampak kesal setelah kembali dari rumah Nicho. Ibunya yang sedari tadi menunggu di ruang tamu datang menghampirinya.
"Steve, bagaimana? Dia bilang apa?"
"Aku gagal."
"Maksudnya?"
"Dia tetap mempertahankan Raisa, karena ayah sudah membuat perjanjian dengannya."
Ibu Steve tersenyum
"Ibu senang kan?"
"Steve, kenapa kamu bicara seperti itu pada ibu?"
"Karena begitulah kenyataannya. Ibu memang sengaja menjual Raisa pada pria itu, lalu mendapat keuntungan lebih. Iya kan?"
"Steve, bisa-bisanya kamu bicara begitu pada ibumu."
"Tapi benar kan? Ibu dan ayah sama saja. Sama-sama tidak waras."
"Begitu kah caramu bicara pada orang tua? Steve!"
Steve tidak menghiraukan ia langsung menuju ke lantai atas.
Bersambung
__ADS_1