
Kalau begini aku tidak akan bisa menahan diriku lagi
"Raisa, kamu pasti lelah kan. Istirahatlah."
Dasar laki-laki ini!
"Masuklah ke kamar, nanti aku menyusul."
Mata Raisa langsung melotot dan jantungnya berdetak kencang.
"Tuan, anda mau tidur bersama saya?"
"Iya, karena pekerjaanku sudah selesai. Dan aku akan memanjakanmu malam ini. Selama tiga hari kita tidak bersama kan, kecuali saat di meja makan."
Muka Raisa memerah, dia pun bergegas masuk ke kamarnya dengan perasaan berdebar-debar.
"Apa yang akan dia lakukan padaku, aku takut sekali membayangkannya."
Raisa bergumam sendirian sambil mondar mandir di dalam kamar Nicho.
"Fyuh, akhirnya selesai juga."
Nicho beranjak dari ruang kerja setelah itu pergi ke kamarnya. Saat pintu di buka, hening..tidak ada siapapun.
"Raisa dimana?"
Setelah itu Nicho menutup pintunya lalu bertanya pada para pelayan dimana Raisa, tapi semua pelayan sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukannya.
"Dimana gadis itu? Tidak mungkin kan dia bisa menghilang."
Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Nicho, ia pun kembali ke kamar.
__ADS_1
Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Bibirnya tersenyum licik.
"Raisa, kamu dimana?"
Ya Tuhan..kumohon selamatkan aku..
batin Raisa yang sedang bersembunyi di suatu tempat
"Raisa.."
Tiba-tiba Nicho melihat jemari tangan di bawah tempat tidurnya. Bibirnya kembali tersenyum.
"Aku tahu kamu sedang bersembunyi. Cepat keluar."
Deg - deg
"Aku hitung sampai tiga. Satu.. dua.. "
Nicho mematikan lampu kamarnya, membuat Raisa ketakutan lalu keluar dari kolong tempat tidur.
Nicho kembali menyalakan lampunya.
"Haha.. ternyata kamu takut gelap ya."
"Dasar serigala!"
"Iya, dan sekarang aku akan memangsamu."
Raisa menelan ludahnya, ia melangkah mundur saat Nicho melangkah mendekatinya.
"Tuan, ini masih jam setengah sembilan. Masih terlalu awal untuk tidur."
__ADS_1
"Memang kenapa? Bukannya bagus kalau tidur lebih cepat."
"Tapi.."
Langkah Raisa mentok di tepi ranjang, dia terduduk di tempat tidur. Nicho pun membaringkan tubuh Raisa dan menindihnya.
"Raisa, apa dalam hatimu tidak ada perasaan sedikitpun untukku?"
Sepasang mata mereka saling bertemu, dengan jarak yang begitu dekat hingga mereka bisa merasakan nafas satu sama lain.
"Raisa, jujurlah. Sebenarnya apa yang kamu rasakan? Apa kamu membenciku? Jika iya katakan iya."
Raisa tak bisa menjawab. Nicho semakin mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka menempel, kemudian menyatu. Nicho pun ******* bibir Raisa dengan lembut, karena tak bisa berbuat apapun Raisa hanya pasrah. Nicho memainkan ciumannya cukup lama sambil menangkup pipi Raisa untuk mempertahankan posisinya.
Setelah cukup lama mencium bibirnya, Nicho turun ke leher mencium leher Raisa dengan nafas memburu. Tanpa sadar membuat Raisa menggeliat.
"Oh tuan, tolong hentikan.."
Tapi Nicho tetap menciumi dan menyelusup ke leher Raisa.
"Aahhh.." Raisa mendesah tanpa sadar
Setelah itu Nicho kembali menatap Raisa dengan tatapan sayu.
"Apa kamu sangat membenciku Raisa? Kalau iya kenapa kamu diam saja. Jawablah pertanyaanku."
Raisa mengalihkan pandangannya. Nicho pun kembali mencium Raisa dengan lembut, melahap bibirnya hingga membuat nafas Raisa terengah-engah. Setelah melepas ciumannya, Nicho membaringkan tubuhnya di samping Raisa dan memeluknya dengan erat.
Muka Raisa memerah dengan jantung berdetak kencang. Sementara Nicho perlahan tertidur dengan memeluk Raisa dan melingkarkan kakinya di kaki Raisa.
Tuan terlihat sangat tampan dan polos saat dia sedang tidur. Imutnya..
__ADS_1
Bersambung