Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Masa Lalu (5)


__ADS_3

Tangan putihnya dengan cekatan mengolah bumbu di dapur. Mencampurkan bubuk cabai, gula, dan rempah-rempah lainnya ke dalam wadah cekung terbuat dari aluminium. Dengan dibantu pelayan dirumah temannya ini, dia benar-benar terlena hingga lupa tujuan sebenarnya melangkah dalam rumah ini.


Orang tuanya memiliki sebuah restoran besar yang cukup terkenal di ibu kota. Masakan asli ibukota dengan bumbu racikan turun-temurun menjadikan masakan disana enak dan memiliki cita rasa yang khas. Li yang setiap hari melihat bagaimana pegawai di rumahnya membuat dirinya pandai memasak bahkan sejak dirinya belum lulus sekolah dasar.


Sentuhan di pundak, butuh berkali-kali hingga membuatnya sadar akan seseorang yang berada di belakang. Pada akhirnya ia menoleh dan mendapati wanita pemilik dapur yang berkacak pinggang mengerutkan kening. "Sampai kapan kau akan ada disini?"


Pipi Li tertarik menampakkan sebuah cekungan, segera saja meletakkan sebuah sendok pada meja pantri. "Sampai masakan ini selesai."


"Sampai nanti masakan ini tidak akan selesai. Sudahlah! letakkan saja, biarkan para pelayan yang akan menyelesaikannya. Nicho sedang menunggumu sekarang."


Li tersadar. Ia menepuk jidat membuka mulut begitu ingat akan tujuannya datang. "Astaga, maafkan aku bibi. Aku kesini untuk menemui tuan Nicho tapi aku malah merecoki dapurmu."


"Kalau begitu cepatlah datang kesana. Aku selalu hafal sifatmu yang akan menjadikan dapurku tempat tujuan pertama yang kau datangi setiap datang ke rumahku." Candaan berupa sindiran halus membuat kedua pipi Li memerah, ia memang begitu tertarik akan aroma bumbu yang menyebar kala memasuki penggorengan.


Emily tak pernah merasa keberatan akan adanya Li yang keluar masuk rumah seenaknya. Ia malah begitu suka, ia merasa seperti memiliki seorang putra lagi hingga memberikan kasih sayang yang sama diperoleh putra kandungnya.


Li dengan segera melepas celemek di punggung, sedikit kesulitan karena ia menarik ujung yang salah hingga ikatannya semakin mengerat. Sebelum ia bersuara, Emily sudah memposisikan tangannya membantu melepas ikatan. Setelah itu ia menuju ke kamar Nicholas.


"Hai tuan muda.."


"Sudah kubilang berkali-kali sebut saja namaku." mata Nicho menatap kesal


"Haha, tidak tahu kenapa aku lebih suka memanggilmu begitu." ucap Li sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Kau bukannya langsung menemuiku tapi malah ke dapur."


"Kau tahu sendiri kan tuan, aku hobi memasak."


"Sepertinya kau sangat cocok menjadi seorang koki."


"Entahlah, aku belum memikirkannya. Tuan, apa kau tidak bosan di rumah terus. Kan kita liburan setelah lulus sekolah, bagaimana kalau kita main saja di luar."


"Aku sedang tidak ingin."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita main game, ada game baru."


"Boleh juga. Kau selalu tahu apa yang membuatku senang."


"Tentu saja, jangan panggil aku Lionel kalau aku tidak tahu apa yang tuan muda inginkan."


Nicho tersenyum tipis


Flashback done


"Ugh menyebalkan. Semalam dia membuat aku takut. Tapi kalau dia tidur dia seperti bayi." Raisa sudah berdandan, memakai baju yang di siapkan oleh Nicho sejak dia di bawa masuk ke rumah ini.


Di tempat tidur, Nicho menggerakkan tangannya. Dia mendapati Raisa yang sudah tidak ada di sampingnya. Lalu turun dari ranjang dan bergegas keluar dari kamarnya.


"RAISA!! RAISA!!"


Raisa yang sedang berada di ruang tamu mendengus kesal mendengar Nicho memanggil namanya, segera dia ke lantai atas menemuinya.


"Bisa-bisanya kamu meninggalkanku. Aku mau mandi, cepat siapkan air."


"Baik tuan."


Raisa langsung masuk ke kamar mandi dan menyiapkan bak mandi. Lagi-lagi dia terperanjat saat Nicho sudah berdiri di belakangnya.


Sial mataku yang suci harus melihat tubuh telanjang ini lagi


Raisa menundukkan kepala agar tidak melihat tubuh Nicho yang melewatinya. Raisa masih berdiri mematung ketika Nicho sudah ada didalam bak mandi.


"Raisa, mendekatlah."


Raisa pun berjongkok di samping Nicho. Sebuah kecupan mendarat di bibirnya.


"Morning kiss.."

__ADS_1


Pipi Raisa merona, segera dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.


Benar-benar gila, bagaimana dia bisa begitu santainya telanjang di depan wanita. Ya, ya aku pernah jadi pelayanmu. Tapi malu sedikit kenapa.


Raisa bergegas menuju ke meja makan, langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang sedang duduk di ruang tamu. Sebenarnya dia enggan menyapa, karena laki-laki yang tidak di ketahui nama aslinya itu sangat jarang tersenyum dan terlihat misterius.


Dia kan sekretaris sialan itu. Pas sekali aku ingin menendang kakinya.


"Permisi sekretaris Li, bisa kita bicara?"


Li menundukkan kepala sopan, artinya mempersilahkan Raisa untuk bicara.


"Sekretaris Li, bolehkah saya pinjam ponsel anda?"


Li terdiam tanpa ekspresi


"Kau yang sudah membuatku dalam posisi ini, kau harus tanggung jawab."


"Saya hanya menjalankan perintah nona."


"Aku tahu kau akan mengatakan itu. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?"


Li mengerutkan alisnya


"Kalau anda mau membantu saya untuk bebas, saya bersedia menjadi pacar anda."


"Maaf nona, tapi saya lebih menyayangi kepala saya."


Raisa merasa geram, sedangkan Li berusaha menahan senyum.


Haha, gadis ini benar-benar mengagumkan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2