Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Sisi Lembut


__ADS_3

Kenapa tiba-tiba aku merasa ada aura membunuh dari laki-laki ini, menyeramkan.


"Saya hanya bercanda tuan, haha."


"Jangan pikir kamu bisa punya pacar di luar sana. Kalau sampai aku mendapatimu bersama laki-laki lain. Aku akan hancurkan siapapun yang berani merebut milikku."


Setelah mengatakan ancamannya, Nicho berlalu meninggalkan Raisa di dapur.


Ya Tuhan, apakah laki-laki itu benar-benar manusia. Aku sudah tidak memiliki kebebasan lagi sekarang.


***


Malam harinya


"Akhirnya aku bisa bernafas lega."


"Raisa."


Ibu Steve memanggil Raisa dari ruang tamu.


"Ibu?"


"Duduklah, aku ingin bicara denganmu."


Raisa berjalan mendekat, dia duduk di hadapan ibu tirinya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak sudi untuk bicara empat mata denganmu. Tapi berhubung ini ada kaitannya dengan suamiku, aku harus melakukan ini."


"Apa yang ingin ibu bicarakan denganku?"


"Apa kau betah bekerja di rumah majikanmu?"


Raisa terdiam menatap ibu tirinya.


"Kenapa tiba-tiba ibu bertanya soal itu?"


"Aku sangat berharap kalau kau bekerja disana dalam waktu yang lama, tidak. Sekalian saja kau menjadi istri majikanmu."


"Ibu, kenapa ibu tega berbicara seperti itu?"


"Asal kau tahu, aku sangat berharap kau keluar secepatnya dari rumah ini. Karena aku tidak pernah menganggapmu siapapun disini. Apalagi ayahmu, ayahmu juga tidak peduli padamu. Aku akan sangat senang kalau kau pergi jauh-jauh dari kehidupan kami."


"Pertanyaan bodoh. Tentu saja, karena kau bukan darah dagingku."


Raisa menggigit bibirnya, berusaha untuk membendung air mata yang mau menetes.


"Oh iya Raisa, aku punya saran untukmu. Majikanmu adalah pria kaya raya, sebaiknya kau dekati dia. Cari cara untuk membuatnya tertarik, aku yakin dia pasti akan menyukaimu." Ibu Steve tersenyum sinis lalu pergi meninggalkan ruang tamu


Ya Tuhan, aku begitu hina di mata ibu. Tapi apa yang di katakan ibu memang benar. Aku sudah kehilangan harga diri. Semua yang ku miliki dari diriku, sekarang menjadi milik laki-laki itu.


Raisa beranjak dari duduk lalu masuk ke kamarnya. Dia mengambil album foto almarhum ibunya dan memandangnya.

__ADS_1


"Ibu, kenapa hidupku jadi begini. Sekarang sudah tidak ada lagi yang ku harapkan. Ibu tiriku tidak menyayangiku. Ayah menjualku. Aku pun kehilangan hak atas diriku. Aku ingin ikut ibu."


Pertahanan Raisa pun runtuh, air matanya mengalir deras membasahi album foto, setelah cukup lama dia menangis akhirnya dia tertidur.


***


Keesokan pagi


Ancaman tuan kemarin masih terngiang di kepalaku. Laki-laki itu benar-benar menakutkan. Tapi aku tidak mau terus menjomblo.


Raisa melamun berdiri di ruang tamu. Sementara Nicho muncul dari kamarnya sudah memakai setelan jas dan rambutnya tersisir rapi.


Apa kata-kataku kemarin keterlaluan ya. Sepertinya dia benar-benar ketakutan saat aku bilang akan menghancurkan siapapun yang berani merebutnya.


Setelah selesai merapikan dasinya, dia berjalan mendekat ke ruang tamu.


"Raisa, hari ini temani aku sarapan ya."


"Baik tuan." Raisa berusaha tersenyum


Nicho duduk di sofa, sedangkan Raisa memakaikan kaos kaki dan sepatu untuknya. Setelah selesai memakaikan sepatu untuk Nicho, mereka pergi ke meja makan. Seperti biasa, kepala pelayan menarik kursi untuk Nicho. Dan Raisa kini duduk di sampingnya.


"Raisa, suapi aku."


Tidak tahu kenapa rasanya aku seperti mengurus anak kecil. Dari luar dia memang terlihat dingin, tapi terkadang aku merasa dia mempunyai sisi lembut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2