
Nicho dan sekretaris Li sudah masuk ke dalam mobil. Mereka melajukan mobil kembali ke rumah. Sekretaris Li mengirimkan pesan kepada Sam, lalu dia meletakkan ponsel dan fokus mengemudi.
Mobil menyusuri jalanan yang mulai lenggang, melaju dengan cepat masuk ke dalam gerbang besar dan sampailah di depan rumah utama. Nicho keluar dari mobil sementara Sam sudah menunggu di depan pintu dan berjalan mendekat.
"Selamat datang tuan muda."
"Pulanglah." kata Nicho pada Li
Li yang sudah mau ikut masuk menghentikan langkah kakinya.
"Baik tuan muda, selamat istirahat."
Dia menundukkan kepala, menunggu sampai Nicho masuk ke dalam rumah. Baru berbalik menuju mobil yang dia kendarai tadi lalu keluar dari gerbang utama.
***
Keesokan Hari
Raisa sudah tiba di restoran tempat ia bekerja. Desain interior bukan desain yang murahan. Jika siang akan menjadi tempat yang enak untuk meeting atau makan siang santai. Jika malam bisa di gunakan untuk candlelight dinner. Ia yakini semua yang ada di restoran ini dengan kualitas tinggi. Dengar-dengar pula restoran ini adalah milik salah satu konglomerat termuda.
"Selamat datang. Anda mau pesan apa tuan? Ini daftar menunya." kata Raisa pada pelanggan yang baru datang
"Nona, cantik-cantik kok mau jadi waitress sih?" goda pelanggan yang disambut dengan tepukan lembut di lengannya oleh Raisa
__ADS_1
Raisa tersenyum saja dan menjaga diri untuk tetap profesional. "Terima kasih atas pujiannya tuan. Apabila sudah siap memesan, silahkan panggil saya. Raisa. Permisi." Raisa meninggalkan meja kemudian menghampiri temannya, Selly. Kebetulan restoran masih sepi karena baru di buka.
Tak lama kemudian Raisa melihat managernya datang menuju ke arah meja tempat pelanggan tadi duduk.
Raisa : "Loh, Selly?"
Selly : "Ada apa?"
Raisa : "Kenapa bos mendatangi laki-laki itu?"
Selly : "Oh iya, aku lupa memberitahumu tadi. Dia adalah pemilik restoran ini, dan dia adalah seorang CEO bisnis kuliner."
Raisa : "Apa! Jadi aku tadi melakukan hal bodoh ya. Aku sudah menawarkan pesanan padanya."
Jimmy : "Tumben kau datang kesini agak pagi."
"Karena kalau siang jalanan ramai dan macet."
Jimmy : "Menurutku, macet itu artinya penduduknya semakin makmur. Kau lihat saja mobil jumlahnya semakin banyak. Mungkin bagi orang kaya jaman sekarang, beli mobil sudah sama kayak beli krupuk. Hahaha."
Apa itu benar-benar bos? Kemarin aku melamar kerja disini sikapnya dingin. Tapi sekarang sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.
batin Raisa dalam hati.
__ADS_1
Jimmy : "Oh iya, kau bilang anak itu akan segera balik dari New York ya?"
"Iya, dia chat aku dari akunnya."
Jimmy : "Aku jadi ingat kenangan kita jaman sekolah dulu. Sebenarnya awal keributan kalian apa sih, kok bisa jadi musuh bebuyutan? Haha."
"Sampai sekarang aku juga tidak mengerti, apa maunya anak itu."
Jimmy : "Sehari tidak menantangmu berkelahi, mungkin anak itu bakal susah napas. Hahaha."
"Tapi sekarang penampilannya beda jauh, tidak berantakan seperti waktu SMA dulu."
Jimmy : "Hebat dia bisa sampai ke New York, dulu aku pikir dia tidak akan bisa keluar pulau. Masa depan tidak jelas, gaya sok preman sekolah. Hahaha."
"Tapi kali ini ada sesuatu yang membuatku terkejut. Aku berusaha menahan senyum saat dia datang menanyakan pesanan padaku tadi. Apa dia anak baru?"
Jimmy : "Maksudmu, Raisa? Iya, dia baru kerja dua hari ini."
"Hmm, begitu ya."
Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Raisa Angelina..
__ADS_1
Bersambung