
Irama musik masih mengalun, saat ini Raisa masih berdansa dengan laki-laki yang baru ia kenal. Pada saat itu, seseorang tampak resah melihat mereka dari arah yang tak jauh.
Alex : "Kalau aku boleh tahu, ada hubungan apa di antara kamu dengan laki-laki itu?"
Raisa : "Apa yang anda maksud tu, hmm maksudku Nicho."
Hampir saja keceplosan
Alex : "Iya, pria itu. Aku malas sekali menyebut namanya."
Sebenarnya ada apa dengan laki-laki ini
Alex : "Nona, lebih baik pacaran saja denganku. Aku 100x lebih baik dari dia."
Raisa : "Sepertinya anda salah paham. Saya tidak ada hubungan spesial dengannya. Kami hanya berteman."
Alex : "Baguslah, jadi aku punya kesempatan untuk mengenal nona lebih dekat."
Raisa : "Sayangnya saya tidak menginginkannya." kata Raisa ketus lalu mengalihkan pandangannya
Akhirnya alunan musik berhenti, Raisa bergegas pergi meninggalkan Alex dan menghampiri Nicholas.
Raisa : "Tuan."
Nich : "Hei, sebut namaku."
Raisa : "Maaf, saya lupa."
Alex masih memandang Raisa dari tempat mereka dansa tadi, ia juga memandang Nicho dengan tatapan tajam. Nicho pun menyadarinya tapi ia tak menghiraukan.
__ADS_1
Setelah itu mereka kembali bertemu dengan John dan Catherin. John mengajak Nicho duduk berdua bersamanya, begitupun Catherin ia mengajak Raisa duduk berdua bersamanya.
Cath : "Raisa, penampilanmu tadi luar biasa."
Raisa : "Terima kasih kak atas pujiannya. Ini pertama kalinya aku berdansa."
Cath : "Oh ya? tapi gerakanmu tadi sangat luwes."
Raisa : "Itu berkat tu, emm maksudku.. Ni cho."
Cath : "Sepertinya kamu kesulitan sekali menyebut namanya."
Aduh aku harus bagaimana? Rasanya aneh sekali menyebut nama laki-laki itu
Cath : "Ah lupakan. Aku ingin tanya."
Cath : "Menurutmu, dia orangnya bagaimana?"
Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah satu hal. Dia itu majikan gila. Masa di hari pertama kerja dia menyuruhku memandikannya.
Cath : "Raisa?"
Mendengar panggilan Cath, Raisa pun tersadar dari lamunannya.
Raisa : "Menurutku, dia adalah laki-laki yang sangat lembut, baik hati, dan juga ramah."
Astaga, aku tidak menyangka akan mengatakan ini. Tuan, berterima kasihlah padaku. Aku menyelamatkanmu malam ini.
Cath : "Wah Raisa, aku kagum sekali padamu. Pasti dia sudah memperlakukanmu dengan baik. Aku sangat bersyukur dia bertemu denganmu."
__ADS_1
Raisa tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya membalas dengan senyuman.
Cath : "Raisa, aku keluar dulu ya. Aku mau terima telfon, disini sangat ramai."
Raisa : "Iya kak."
Setelah beberapa menit di tinggal pergi oleh Cath, Raisa melihat ada beberapa botol minuman di atas meja. Ia merasa haus sekali karena sejak tadi ia datang, ia belum meminum apapun apalagi ia sudah berdansa dua kali.
Raisa menuangkan minuman ke gelas, ia tidak tahu kalau minuman itu mengandung alkohol. Karena sangat haus, ia sampai habis 2 gelas. Perlahan, ia merasa pusing teramat berat. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya, sambil merintih kesakitan.
Nicho pun berdiri dari duduk, ia merasa sudah saatnya untuk pulang. Apalagi Raisa pasti kelelahan, karena besok ia harus kembali bekerja. Lalu ia menuju ke tempat Raisa duduk bersama Cath, ia terkejut melihat Raisa dalam kondisi mabuk.
"Raisa! kamu kenapa?" Nicho melihat gelas yang terdapat sisa wine yang tadi Raisa minum
"Kamu habis minum?"
Namun Raisa hanya merintih kesakitan. Akhirnya Nicho membopongnya keluar menuju mobil, ia tak peduli semua orang memperhatikannya. Sekretaris Li yang sedari tadi menunggu mereka, dengan cepat ia melajukan mobilnya bergegas kembali ke rumah atasannya.
"Tuan, aku sangat membencimu." Raisa bergumam selama perjalanan, Nicho tak menghiraukan.
"Nicholas brengs*k! Nicholas bodoh! Kamu sudah menodai mataku. Huhu.."
Nicholas tersentak dengan ucapan Raisa
"Kamu.."
Belum sempat Raisa meneruskan, Nicho segera membungkamnya. Ia melirik sekretaris Li karena takut ia berpikir macam-macam.
Bersambung
__ADS_1