
Sore hari
Steve mengendarai mobilnya dalam perjalanan pulang dari kantor. Terlihat dia sedang merenung memikirkan seseorang yang begitu bearti baginya.
Kenapa tiba-tiba aku teringat Raisa. Kenapa setiap ingat dia jantungku berdetak kencang. Tidak ini tidak mungkin. Tidak mungkin aku merasakan perasaan itu padanya. Tapi kenapa debaran ini selalu ku rasakan. Aku sudah berusaha untuk mengalihkan pikiranku darinya. Tapi semuanya sia-sia. Ini sudah terjadi sejak saat itu.
Flashback
Raisa : "Huhu.. kakiku sakit."
Ah sial! Kenapa lagi-lagi anak itu dapat masalah.
Raisa : "Sakit.. huhu.."
Steve yang masih berumur 21 tahun dan Raisa 15 tahun, Steve merasa ragu antara menolong Raisa atau tidak, yang saat ini melihat Raisa dalam kondisi kakinya berdarah. Akhirnya dia mendorong kakinya untuk mendekati Raisa yang sedang terduduk sambil memegang lututnya yang terluka.
Steve : "Sebenarnya kamu ini kenapa sih, kenapa bisa jatuh? Apa karena ibuku? Kalau kamu diam bearti iya kan?"
Steve membawa obat merah, lalu mengoleskannya ke lutut Raisa.
Steve : "Jangan cengeng! Kalau kamu seperti ini, semua orang akan menindasmu."
Raisa tersentak mendengar perkataan Steve, seketika dia berhenti menangis.
Steve : "Nah, sudah. Nanti tinggal di olesi obat ini saja sampai lukanya kering."
Steve berdiri hendak pergi.
Raisa : "Terima kasih kakak."
Apa! Dia memanggilku kakak?
Raisa : "Aku tahu kakak sebenarnya baik, tapi kakak menutupinya karena takut pada ibu kan?"
__ADS_1
Steve : "Bicara apa kamu ini?"
Raisa : "Kakak tidak perlu pura-pura, aku tahu kakak sebenarnya peduli padaku."
Steve terdiam dengan semburat merah di pipinya.
Steve : "Aku melakukan ini karena aku kasihan padamu, kamu jangan terlalu percaya diri."
Raisa tertawa kecil
Steve : "Hei kenapa kamu tertawa?"
Raisa : "Aku tahu kakak bohong."
Sejak saat itu, Steve semakin dekat dengan Raisa. Curahan kasih sayangnya semakin dalam. Entah karena apa, Steve merasa dia harus melindungi Raisa. Perasaan itu muncul begitu saja di dalam hatinya. Sampai menjadi kebiasaan setiap Raisa sulit untuk tidur, dia rela menemani Raisa sambil membelai lembut rambutnya, dan Raisa menggenggam tangannya dengan erat.
Pada suatu pagi di meja makan, Steve menggoda Raisa sambil menutup mata Raisa dengan kedua tangannya.
Steve : "Ayo tebak, hari ini hari apa?"
Raisa : "Hari senin."
Steve : "Kamu benar, tapi bukan itu yang ku maksud."
Raisa : "Lalu apa kak?"
Steve : "Kamu jahat sekali Raisa, masa kamu tidak tahu hari ini aku ulang tahun."
Raisa melepas kedua tangan Steve dari wajahnya
Raisa : "Maaf, aku tidak tahu hari ini hari ulang tahun kakak."
Steve cemberut
__ADS_1
Raisa : "Ayolah kak, jangan marah."
Raisa beranjak dari duduk, lalu memegang tangan Steve.
Steve : "Ya sudah, aku akan memaafkanmu. Tapi.."
Raisa : "Tapi apa?"
Steve mengacungkan jari telunjuknya pada pipinya.
Raisa tersenyum
"Emmuuacchh."
Raisa mencium pipi kanan kemudian pipi kiri Steve.
Raisa : "Selamat ulang tahun kakakku sayang.."
Steve menangkup pipi Raisa dengan kedua tangannya.
"Terima kasih banyak Raisa."
Setelah itu dia mencium kening Raisa
"Aku sangat menyayangimu"
Flashback end
Raisa adalah adikku. Bagaimana mungkin aku menyukainya. Ini tidak benar. Dadaku terasa sesak setiap debaran ini muncul. Aku ingin menghilangkan perasaan ini. Tapi bagaimana caranya. Apalagi kami tinggal serumah. Tapi aku tidak mau jauh darinya.
Bersambung
Jangan lupa like & komen ya😀
__ADS_1