Jadi Pelayan Tuan Muda

Jadi Pelayan Tuan Muda
Permainan


__ADS_3

"Sore ini aku merasa bosan. Benar-benar bosan. Bagaimana kalau kita mainkan sebuah permainan? Baiklah, sekarang aku yang akan menjadi majikan. Dan kamulah pelayannya. Mari kita sambut pelayan baru kita.. Jreng-jreng!! Nicholas William."


Nicho dalam posisi berdiri sambil menunduk, tangannya tergenggam erat.


"Hei, ganti bajumu. Aku sudah siapkan baju spesial untukmu. Setelan baju celemek dan rok selutut. Hahaha, kamu cocok sekali pakai baju itu."


"Terima kasih atas pujian anda nyonya."


"Sekarang mulai bersih-bersih! Cuci piring, pel lantainya, dan bersihkan kamarku."


Nicho mulai mengerjakan tugasnya, sementara Raisa duduk bersantai di ruang tamu sambil bermain ponselnya.


Beberapa jam kemudian


"Nicho!! Nicho!!"


Tap


         


   Tap


     


      Tap


"Iya nyonya, apa ada yang anda butuhkan?"


"Pijat kakiku!"


"Baik nyonya."


"Hei! Yang kencang! Apa kamu benar-benar laki-laki. Yang benar kalau kerja, atau kamu ku pecat!"


"Jangan nyonya, tolong jangan pecat saya."


"Wah enaknya jadi nyonya besar! Hahaha!"


* * *


Nicho baru pulang kerja disambut oleh para pelayannya.


"Eh, suara apa itu?"

__ADS_1


Nicho menuju kamar Raisa, dia melihat Raisa yang sedang tertawa sendirian sambil guling-guling di tempat tidur.


"Raisa! Hei Raisa! Kamu kenapa?"


"Eh, tuan!"


"Ayo kita ke dokter, otakmu harus di periksa."


"Tidak mau! Saya tidak gila."


"Lalu kenapa kamu tertawa sendirian tadi?"


"Tidak apa-apa tuan."


"Ayo katakan padaku."


"Saya sedang berkhayal."


"Berkhayal? Memang kamu mengkhayal apa sampai tertawa seperti tadi?"


Bagaimana ini, kalau aku bilang aku sedang membayangkan dia jadi pelayanku bisa-bisa dia menghukumku.


"Oh aku tahu, pasti kamu membayangkan tentang kita sedang bermesraan ya?"


"Tidak tuan!"


"Kamu bohong. Sudahlah Raisa, kamu tidak perlu malu-malu."


Baru Raisa membuka mulutnya mau menjawab, Nicho segera memotong.


"Sudahlah, ayo temani aku mandi."


Apa! Lagi


* * *


"Raisa, kenapa ya? Aku senang sekali di mandikan olehmu."


Dasar! Kamu senang aku yang menderita


"Raisa, aku ingin tanya."


Raisa sedikit terkejut namun dia tetap diam

__ADS_1


"Apa kamu pernah punya pacar?"


Kenapa dia menanyakan hal itu. Kalau aku bilang belum, dia pasti akan mentertawakanku.


Raisa tersenyum licik


"Tentu saja tuan. Saya sudah pernah punya pacar, biar begini saya ini berpengalaman." Raisa bersikap angkuh


"Ha! Masa sih?"


"Tentu saja."


"Seperti apa orangnya."


"Tentu saja dia sangat tampan. Dia tidak kalah tampan dari tuan."


"Benarkah? Kalau begitu apa kamu pernah memandikannya juga?"


Memangnya kamu pikir semua laki-laki sama gilanya sepertimu apa


"Kalau begitu nanti tunjukkan fotonya padaku. Aku ingin lihat seperti apa orangnya."


Bagaimana ini. Aku tidak kepikiran sampai sejauh ini.


* * *


Setelah selesai, Nicho pun keluar dari kamar mandi. Kemudian Raisa juga keluar dari kamar mandi, dia mengeringkan tangannya dengan handuk kecil.


"Keringkan rambutku." Nicho melemparkan handuk tepat di wajah Raisa. Raisa melakukan apa yang Nicho mau tanpa bicara sepatah katapun. Dia hanya menggigit bibirnya menahan kekesalannya.


"Tadi kamu bilang sudah pernah punya pacar kan? Sekarang tunjukkan padaku. Kalau ada bukti, baru aku percaya."


Hah! Memang itu penting? Kenapa dia sampai seperti ini


"Hei! Kamu dengar tidak sih!"


"I iya tuan. Saya ambil ponsel saya dulu."


Di belakang Nicho, Raisa diam-diam mengepalkan tangannya seakan mau memukul kepala Nicho sambil bergumam. Setelah Raisa mengambil ponselnya, dia menunjukkan sebuah foto pada Nicho.



Ok juga!

__ADS_1


Haha dasar bodoh! Itu kan foto ayah waktu masih muda


Bersambung


__ADS_2