
Kalula berjalan meninggalkan rumah kontrakan ini dengan dada sesak.
Rumah kontrakan yang kesekian yang ia tinggali bersama mendiang papanya. Rumah ini rumah tempat papanya tinggal sebelum akhirnya meninggal. Tentu berat keluar dari rumah dengan kondisi begini. Tapi tekad Kalula sudah bulat.
Edward yang sudah menantinya di pintu dengan cepat lalu memasukkan barang-barang Kalula ke mobil. Mereka tancap gas pergi. Kalula sempat menoleh ke belakang. Ia melihat mamanya berdiri di ujung jalan dengan tatapan marah.
"Kal, aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu. Kamu merasa bersalah. Kamu merasa durhaka. Biar, Kal. Biar perasaan itu ada. Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah pergi dari sana. Itu langkah yang berani.
Sekarang, mulai detik ini, mulailah hidup untuk diri kamu sendiri. Jangan pikirkan orang lain, apalagi orang lain yang hanya bisa menyakiti kamu dan memanfaatkan kamu.
Kamu tidak lebih dari sekedar mesin uang mama tiri kamu dan adik dari kamu yang nggak tahu diri itu. Tata hidupmu kembali. Aku akan ada di belakang membantumu," ucap Edward sambil terus menyetir.
Kalula tidak menyahut, tapi ia menangis sesenggukan tanpa malu-malu lagi.
Ya, di depan Edward ia merasa bisa meluapkan semua perasaannya tanpa takut.
Berbeda kalau di hadapan Edo. Edo selalu bilang menangis itu lemah. Kalau Kalula menangis dan mengeluh, ia terus menguatkan. Padahal kadang Kalula hanya butuh meluapkan semuanya.
Merasa lemah itu bukan salah, kan? Yang salah adalah terus pura-pura kuat dan menyakiti diri sendiri, pura-pura baik-baik saja padahal rapuh di dalam."
Kalula mengusap air matanya.
"Thanks, Ed. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus ke mana dan ngapain," ucap Kalula.
***
Edo sedang kumpul dan makan dengan teman-temannya ketika nomor Karina menelponnya. Sejak kemarin mama Kalula menelponnya dengan handphone Karina karena handphone-nya sendiri rusak.
"Do, Kalula pulang tadi siang sama cowok itu. Dia bawa baju-bajunya dan barang-barangnya pergi. Mama nggak ngerti lagi, Do. Kalula bilang nggak mau lagi ngurusin Mama sama Karina.
Kamu bisa kan pinjamin Mama uang, Do? Mama sudah telat bayar kontrakan sama uang sekolah Karina. Tolong dong, Do. Kalula sudah lepas tangan. Mama nggak tahu lagi minta tolong sama siapa."
Dan bukan Edo namanya kalau ia menolak. Ia bilang iya-iya saja dan mentransfer dengan tabungan cadangannya yang sudah Kalula bilang agar ia simpan baik-baik saja untuk berjaga-jaga. Karena namanya hidup di negara orang itu harus serba waspada dan punya simpanan uang.
Edo kembali ke meja dengan wajah murung. Erina hanya meliriknya dengan gesture ragu untuk bertanya.
Aldo, Beni, dan Ajeng tampak meledeknya. Mereka berempat tahu Edo galau karena meninggalkan pacarnya di Jakarta.
"Udah, Do. Mending jomblo aja kayak aku sama Aldo. Pacaran itu cuma bikin ribet. Tuh kan, bentar-bentar nerima telepon, bentar-bentar mukanya kusut. Kamu juga jadi nggak fokus di kelas.
Udahlah, Do. Putusin aja kalau banyak berantemnya. Beberapa bulan lagi pasti Kalula juga udah jalan sama cowok lain. LDR itu nggak cocok untuk semua orang, Do.
__ADS_1
Putus aja. Kita masih muda, masih banyak waktu untuk nyari-nyari yang lebih cocok. Masa depan masih panjang." Beni meledek lalu semua tertawa seolah-olah Ini lucu.
Edo hanya ikut tertawa pelan sambil mencoba untuk terlihat baik-baik saja.
Ya, inilah alasannya dia jarang untuk mengabari Kalula ketika sedang bersama teman-temannya. Dia akan diledeki budak cinta dan dianggap tidak asik lagi karena malah sibuk sendiri.
Sekarang di tengah suara tawa dan bercandaan teman-temannya itu ia hanya duduk seperti patung. Di kota yang masih asing baginya ini, dengan orang-orang yang berlalu-lalang dengan bahasa yang belum sepenuhnya ia paham.
Ternyata sudah beberapa pekan tapi Tokyo masih terasa sulit baginya. Dan Kalula... . Arghhh! Apa yang ada di pikiran pacarnya itu? Dia membawa barang-barang dan juga baju-bajunya untuk pergi bersama lelaki itu?
Edward yang katanya hanya mengantar dan ikut menginap karena sudah terlalu malam. Tapi nyata-nyata ketika panggilan video call itu berlangsung, Edo sempat mendengar kata-kata "di kamarku saja."
Apa artinya? Artinya mereka di rumah lelaki itu, bukan teman perempuan Kalula.
Edo memijit-mijit kepalanya yang terasa berdenyut ingin meledak.
Kenapa kisah cintanya tidak berjalan mulus-mulus aja, sih?
Ia lalu menatap jam tangan. Ingin rasanya teman-temannya cepat pulang agar ia juga bisa ikut pulang. Ia tidak enak izin pulang lebih dulu karena akan dianggap tidak solid dengan kebersamaan ini.
Sesungguhnya ia ingin cepat sampai kamarnya lalu ia ingin menelepon Kalula.
***
Edward bilang Kalula bisa memakai kamar sebelah yang kosong. Dan sore ini mereka sedang membersihkan kamar dan menata barang-barang Kalula.
Edward datang mengetuk pintu dan membawakan kursi dari kamarnya untuk kamar Kalula.
Kalula yang baru selesai mandi itu membukakan pintu. Edward mentertawakannya karena handuk yang ia lilitkan di kepalanya membuatnya terlihat sangat lucu. Kepalanya mengembang dengan besar.
"Jangan ketawa, Ed. Tadi drama sekali sampai hair dryer-ku ketinggalan." Kalula lalu duduk di atas kasur.
Edward menghentikan tawanya lalu ikut duduk di sampingnya.
"Sorry, aku nggak punya benda itu di sini. Aku biasanya cuek. Kubiarkan rambutku kering sendiri," ujar Edward lalu ia tertawa.
Kalula sedang mengobrolkan soal ketakutannya kalau besok manajer cafe tempat mereka bekerja itu akan mengomelinya karena ia tidak masuk, tapi Edward menenangkannya.
Sayangnya obrolan itu terjeda oleh panggilan video yang masuk ke ponsel Kalula. Kalula melirik nama yang tertera dan hatinya berdesir.
Edo menghubunginya.
__ADS_1
Pasti ia sudah pulang kuliah dan kepalanya sudah dingin untuk membicarakan masalah mereka. Tapi ada Edward di sini. Kalula tak enak hati untuk mengusir. Ia menjadi serba salah.
Tapi Edward peka. Ia memberi kode untuknya agar mengangkat telepon itu.
Edward berdiri. Kalula mengira ia akan pergi, tapi ternyata tidak. Edward hanya berpindah posisi duduk menjadi di depannya agar tidak terlihat dari kamera Kalula.
Kalula mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu. Hening. Beberapa detik mereka hanya saling tatap. Edward masih di sana, di antara mereka.
"Kamu habis keramas?" Edo membuka obrolan dengan canggung setelah pertengkaran hebat mereka tadi pagi.
"Ya." Kalula menyahut singkat.
"Kamu kabur dari rumah? Kost? Dimana? Biar aku suruh teman kaku untuk cek keadaan kamu." Suara Edo masih terdengar kaku.
"Nggak perlu, Do. Aku bisa urus diri kamu sendiri." Kalula berkata datar.
Edo sepertinya mulai kesal. Respon Kalula tak sesuai dengan yang ia harapkan. Kalula ternyata cuek. Gengsinya untuk mengalah dan minta maaf duluan juga tinggi.
"Oh, gitu? Udah bisa urus diri sendiri? Atau diurusin cowok itu? Siapa namanya tadi? Edward?" Nada Edo mulai naik.
"Do, stop! Setidaknya dia baik dan bantu aku." Kalula menatap sinis ke arah Edo yang wajahnya terpampang kesal di layar ponselnya itu.
"Bantu? Mama bilang kamu ambil baju-baju kamu diantar dia? Bahkan dia kasar dan dorong mama ke lantai. Kal, kamu bergaul sama siapa sih selama aku nggak ada? Kamu sembunyiin apa dari aku? Pantas kamu jarang cerita soal kerjaan kamu di tempat baru.
Bisa ya kamu begini? Dibawa cowok yang bukan pasangannya kayak cewek murahan. Apa bedanya kamu sama pel**c*r!" Edo tampak emosi.
Kalula terbungkam tapi air matanya mulai merebak.
Dalam satu hari orang yang dulu ia cintai dan ia anggap berharga mengeluarkan kata-kata sekasar itu padanya.
Pertama mamanya mengatainya anak tak tahu diri dan bilang ingin membuangnya ke tempat sampah sewaktu bayi. Lalu Edo...
Kalula menutup bibirnya dengan sebelah tangan. Tangisnya pecah. Edward yang duduk di depan Kalula langsung panas. Direbutnya ponsel Kalula.
Jakarta-Tokyo, Edward-Edo. Mereka bertatap lewat layar ponsel. Edo memaki. Edward membalas. Kalula makin menangis tersedu.
"Nggak pantas mulut lo bilang kayak gitu ke Kalula! Br***sek!" Edward lalu mematikan panggilan itu dan melemparkan ponsel itu ke kasur.
Tanpa banyak bicara ia memeluk Kalula. Membiarkan ia menangis di pelukannnya untuk ketiga kalinya.
Bersambung ...
__ADS_1