
[[ "Sekarang sekitar jam 7 waktu Jakarta. Kalula masih ketiduran di sofa sejak semalam aku pulang. Matanya terlihat bengkak. Mungkin kebanyakan menangis. Ingin kubangunkan tapi kasihan." ]]
Pesan itu dikirimkan Edward pada Seira beberapa menit yang lalu.
Tring!
Ponsel Edward berdering pelan.
Edward yang masih duduk di karpet sambil menunggui Kalula yang sedang tidur itu tampak terkejut. Seira membalas pesannya dengan cerita yang mengejutkan.
Intinya, Seira bilang ia semalam Edo sangat kacau dan Seira menjemputnya. Seira bilang Edo kalut dan menceritakan semua kisahnya. Lalu berujunglah Edo menginap di tempatnya dan terjadilah 'hal itu.'
[[ "Seira, arghhh! Aku tahu kamu gadis petualang. Ya walaupun kamu bilang kali ini kamu sungguhan jatuh cinta. Tapi tetap saja. Bayangkan kalau Kalula sampai tahu apa yang terjadi pada kamu dan Edo semalam. Dia pasti makin sakit hati." ]]
Tring!
Sepasang saudara sepupu yang akrab itu tampaknya masih asyik bertukar pesan. Jakarta-Tokyo, mereka saling berbagi obrolan.
Edward tak heran kalau Seira berganti-ganti pacar. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak ada statusnya. Hanya dekat saja tapi tentu cowok sedewasa Edward tahu mereka tak mungkin dekat kalau tak melakukan 'sesuatu.'
Tapi sekarang yang sedang Seira dekati adalah Edo. Ya, harusnya Edward senang sih. Awalnya ia juga yang menyuruh Seira, kan? Akhirnya cowok itu membuktikan sendiri semurah apa dirinya. Baru putus beberapa jam, dirayu Seira mempan-mempan saja tuh.
Walau puas dengan rencananya sendiri, Edward tetap merasa sedikit bersalah juga pada Kalula. Dipandanginya gadis manis yang emang tertidur lelap itu.
"Oh, Kal. Edo-mu yang kamu bangga-banggakan telah berubah menjadi cowok setia itu tidur sama Seira semalam. Tidur, Kal. 'Tidur' dalam artian lain. Ah, kamu tahu sendiri lah maksudnya. Setia dari mananya. Tingkahnya aja begitu." Edward menggerutu dalam hati.
Sambil menunggu pesan balasan dari Seira lagi, Edo tampak menahan tangannya sendiri untuk sekedar memebelai rambut Kalula atau mengelus pipinya.
Edward jadi terbayang semalam Kalula menangis sendirian tanpa teman karena ia sedang diomeli mamanya untuk menandatangani perjanjian itu.
Oh, Edward pikir janji hanya cukup lisan dan mamanya percaya. Tapi Amelia Santono sepertinya sudah terlalu lelah dengan sikapnya. Jadi ia menganggap putranya rekan bisnis, sampai perjanjian soal janji putranya saja ia suruh tanda tangan resmi.
Tring!
Pesan dari Seira masuk. Edward membukanya cepat-cepat dan membacanya. Alisnya mengernyit dan sesekali ia menggumam kesal membaca pesan dari Seira itu.
[[ "Ah, mereka udah putus, Ed. Lagian bukannya bagus kalau Kalula tahu. Biar dia benci Edo sekalian. Biar dia cepat move on. Biar kamu lebih mudah merebut hatinya.
__ADS_1
Oh ya, kemarin mamamu menelpon. Dia bilang padaku untuk membujukmu agar kamu segera jujur pada Kalula dan memintamu menikahinya. Oh, sungguh konyol! Memang menikah itu gampang apa. Tante Amelia sangat mencemaskanmu, makannya dia begitu." ]]
Seketika topik pembicaraan berubah. Edward agak kaget juga. Oh, ternyata mamanya menceritakan semua pada Seira. Pantas saja sih. Memang dari dulu mereka dekat seperti ini.
Tangan Edward hendak mengetik pesan balasan lagi tapi ia urungkan niatnya. Begitu melihat Kalula terbangun, Edward langsung menyingkirkan ponselnya.
"Kal, mata kamu bengkak." Edward menyapa dengan bibir tersenyum lebar diiringi dengan komentar terang-terangan.
Kalula dengan spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Edward tertawa kecil. Maksudnya menghibur, tapi ternyata suasana malah jadi canggung.
"Astaga! Serius? Separah apa bengkaknya? Kalau aku berangkat kerja nanti mencolok banget nggak? Seharusnya aku kompres pakai kantung es semalam." Kalula jadi panik sendiri.
Edward yang masih bersimpuh di depannya hanya nyengir sambil merasa bersalah.
"Ng--nggak papa, kok. Nggak parah. Beneran, Kal. Nggak terlalu kelihatan." Edward mencoba berbohong padahal jelas sekali mata Kalula seperti baru saja tersengat lebah.
Kalula lalu menyingkirkan tangan dari wajahnya dengan tatapan pasrah.
"Beneran nggak terlalu kelihatan kok, Kal. Nanti juga ilang sendiri habis kamu cuci muka." Edward masih saja mencoba membual.
Kalula meraba ponselnya di sela-sela sofa dan menyalakan kamera depan.
Argggh!
"Ed! Mataku seperti panda!" Kalula berseru syok begitu habis melihat pantulan wajahanya sendiri di layar kamera.
Edward masih bertahan dengan ekspresi sok polosnya. Habisnya mau gimana. Perempuan itu susah sekali dipahami. Jujur salah, bohong dikit salah.
"Ya gimana, Kal. Tadi kalau aku bilang bengkaknya parah pasti kamu makin panik. Udahlah, nggak papa agak bengkak dikit. Kamu tetap cantik kok." Oh, sungguh pujian yang tak mengubah apapun.
Kalula meletakkan ponselnya dan kembali murung. Memegang ponsel itu barusan membuatnya teringat lagi soal semalam. Ah, putus lewat telepon, apalagi dengan jarak yang begitu jauh, rasanya jelas hancur sekali.
"Aku pernah bengkak begini 2 hari baru agak normal. Dulu aku kebanyakan menangis waktu papaku meninggal." Suara Kalula terdengar lirih.
Edward masih duduk di bawah sedangkan Kalula duduk di sofa. Sungguh, tangan Edward sudah gatal ingin menggenggam tangan Kalula yang tampak bergerak gelisah di pangkuannya sendiri itu.
__ADS_1
Edward sangat menahan diri. Ia tahu Kalula bukan gadis murahan. Kalau ia suka sentuh-sentuh, apalagi kontak fisik di luar batas tanpa konteks, apa bedanya ia dengan Edo yang baru beberapa jam putus malah tid...
Arghhh! Sudahlah. Edward tak mau keceplosan dan menyebut kelakuan b**ng**Ketika Edo semalam.
"Jangan nangis lagi ya, Kal. Cowok kayak Edo nggak usah dipikirin lagi. Fokus sama diri kamu sendiri. Kalau memang nggak cocok ya bagusnya putus aja, Kal. Nggak perlu menyakiti diri sendiri dengan bertahan."
Edward pikir kata-katanya bijak sekali. Ia tak sadar kalau ia kelepasan bicara. Ia keceplosan.
Kalula langsung menatap Edo dengan dahi berkerut.
"Edward, aku bahkan belum sempat bilang apa-apa soal aku yang baru resmi putus dari Edo. Kamu tahu dari mana? Tahu dari siapa?" Suara Kalula terdengar menyelidik.
Edward mati kutu.
Aduh! Mau jawab apa ini! Ia membatin dengan panik.
Edward menarik nafas dan mencoba tetap tersenyum agar tak terlalu kelihatan panik.
"Mmm, Seira yang ngasih tahu. Kayaknya Edo cerita ke dia. Jadi aku ikutan tahu." Akhirnya ia menggunakan tameng Seira saja karena tak kepikiran alasan yang lain.
Kalula menghembuskan nafas panjang. "Oh, oke. Edo langsung cerita ke Seira. Berarti mereka memang sedekat itu. Udah, Kal. Udah. Ngapain cemburu? Edo bukan pacar kamu lagi sekarang!" Kalula meneriakkan kata-kata itu di dalam hatinya yang panas.
Edward masih bersikap manis di depannya. Ah, sekarang ia jadi tak enak sendiri karena tadi bertanya agak keras ke arah Edward.
Sudah menumpang, tak tahu diri lagi. Kalula menunduk. Ya, Edward sudah terlalu baik padanya.
"Sorry, Ed. Aku..., mmm aku tadi cuma bingung karena kamu tahu aku putus dari Edo padahal aku belum cerita apa-apa." Suara Kalula makin lirih.
Edward bilang tidak apa-apa lalu ia tertawa lagi. Entah kenapa kalau canggung ia malah tertawa.
Kalula menatapnya dengan tatapan tak biasa.
"Ed, kamu baik banget sama aku dari pertama kali kita kenal. Kita ini sebenarnya apa sih, Ed?" Kalula menatap makin serius.
Edward menangkap mata itu. Ia menatap balik, tak menghindar lagi.
Kita ini apa...?
__ADS_1
Bersambung ...