
"Iya. Sumpah, Do! Dia bilang gitu waktu Mama ancam dia mau Mama aduin ke kamu. Katanya dia udah putus sama kamu. Mungkin bilang gitu biar cowok barunya percaya kali.
Makannya, Do. Mama belain kamu, loh. Kalula aja yang gatal sama cowok itu. Ayolah, Do. Satu juta juga nggak papa, Do. Transfer ke Mama."
Ya ampun! Uang lagi! Edo ingin membanting sesuatu rasanya untuk melampiaskan rasa kesalnya. Tapi karena ini di taman kampus, maka itu tak mungkin ia lakukan.
Edo benar-benar tidak tahan lagi. Ia berkata dengan ketus lalu ia menutup telepon itu. Tak lupa memblokir nomor baru itu juga.
"Ma, kemarin itu tabungan terakhir aku, ya. Aku sudah pinjamin, loh. Setidaknya Mama bayar dulu. Mama mau bayar pakai apa? Pasti minta uang Kalula lagi, kan?
Oh, baguslah sekarang dia nggak mau ngasih Mama. Mama masih bisa kerja. Karina juga bisa lah bantu-bantu. Jangan menggantungkan hidup pada orang lain, Ma. Kasihan Kalula. Mama ingat, ya. Mulai sekarang jangan pernah hubungin aku lagi. Anggap aja kita nggak saling kenal."
Lalu panggilan telepon itu diputus Edo.
Pada akhirnya setelah itu Edo stres juga. Benarkah apa yang Mama Sastri bilang tadi? Kalula tampak bersenang-senang dengan cowok bernama Edward itu? Dan dia juga bilang kalau mereka sudah putus?
Apa Mama Sastri membohonginya dan mengadu dombanya lagi seperti kemarin? Tapi bagaimana kalau memang benar Kalula bilang mereka sudah putus?
Edo tampak kuyu dan pucat. Ia memijit-mijit kepalanya sambil menatap kosong ke arah meja di taman kampus ini.
"Kamu kenapa sih, Do? Kok kayaknya suntuk banget," ucap Erina yang tiba-tiba duduk di depannya sambil membuka laptopnya.
Erina tahu waktu berjalan ke sini tadi ia melihat Edo baru saja menutup telepon. Diam-diam Erina memperhatikan, Edo selalu uring-uringan setelah menelpon seseorang.
Edo hanya menggeleng. Ia tidak mau membagi keluh kesahnya pada Erina. Nanti Kalula malah salah paham lagi. Tapi sepertinya sudah terlambat. Baik Erina maupun Seira sama-sama Kalula curigai. Hubungan mereka jadi kacau.
"Berantem lagi sama Kalula? Kemarin dia hubungin aku loh, Do. Dia nanyain kamu," ucap Erina yang akhirnya mengingkari janjinya pada kalula untuk tidak bilang ke Edo soal ini.
Edo membulatkan matanya. Ia langsung menginterogasi Erina sampai gadis itu terkaget-kaget karena nada antusias Edo memberondongnya dengan banyak pertanyaan sekaligus.
Erina mengalihkan pandangannya dari laptopnya. Kini ia menatap Edo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gini ya, Do. Pertama, sebagai sesama perempuan aku tahu Kalula itu cemburu sama aku karena ngira aku naksir kamu dan kita deket-deket. Ya gitu lah kira-kira.
Makannya aku kerasa sikapnya agak lain ke aku waktu kita ketemu saat dia antar kamu pemberkasan, waktu kita makan-makan bareng sebelum berangkat ke Tokyo. Ingat, deh.
Aku tahu dia jaga jarak dan selalu menatap sinis ke aku. Tapi secara mengejutkan, kemarin waktu aku posting waktu kita piknik di pinggir danau dia nanya. Katanya kok kamu nggak ikut. Biasanya ikut. Kamu ke mana? Ya gitulah kira-kira ia nanya.
Aku tahu dong bagi sesama perempuan, dia pasti benci banget sama aku dan terpaksa banget menghubungi aku. Ya cuma buat nanya kamu kemana. Kalian ini kenapa, sih?" Erina malah tertarik agar Edo terbuka dengan masalahnya.
Edo tidak ingin menjelaskan karena akan sangat panjang dan lebar. Ia malah meminta Erina untuk cerita kelanjutan chat Kalula.
"Ya udah. Aku bilang aja kamu emang nggak ikut. Kemarin kamu kan memang nggak mau ikut, kan? Beni bilang dia lihat kamu ketemuan sama temen kamu di cafe. Seira, kan?
Waktu itu kamu ngilang, kan? Sampai besoknya kamu juga nggak jujur loh sama anak-anak. Kamu ke mana dan ngapain. Sama cewek senior lagi? Kalula malah curiga kalau aku ada apa-apa sama kamu. Padahal kamu di sini main sama cewek lain.
Kamu ada apa sih sama Seira? Bukannya aku kepo, Do. Kalian langsung deket banget, loh. Dekatnya beda lagi. Skinship kalian juga kayaknya terlalu berlebihan kulihat kemarin.
Apa perlu aku bilang ini ke Kalula? Kalau di sini kamu mesra-mesraan sama cewek lain?" Erina menatap Edo dengan mata sipitnya.
Edo mendengus kesal. Erina malah memojokkan. Edo ingin marah padahal ucapan Erina benar.
"Arghhh! Nggak gitu, Er! Aduh! Sudahlah kamu nggak usah ikut campur. Kamu nggak tahu apa-apa, Er!" Edo malah enggan membahas ini. Ia justru mengemasi buku-bukunya dan pergi meninggalkan Erina sendiri.
Tak berapa lama kemudian Aldo dan Beni datang menyusul Erina. Mereka tampak bingung karena tadi sempat berpapasan dengan Edo yang wajahnya kelihatan kesal.
"Kenapa, Er? Kalian berantem? Dia kenapa, sih? Papasan sama kita terus pas kita sapa nyahut aja enggak. Gila ya! Dia berubah banget akhir-akhir ini!" Aldo pun duduk di samping Erina sambil mengomel sendiri.
Beni yang baru meletakkan tasnya di meja langsung menggerutu juga seperti menyindir.
"Edo merasa nggak butuh kita lagi tuh mungkin. Udah nggak pernah mau bareng-bareng lagi. Ngerasa udah paling jago aja mentang-mentang dapat cewek paling keren sekomunitas." Beni benar-benar kesal.
Ya iyalah semua cowok Jakarta di sini ngejar-ngejar dan cari perhatian sama Seira. Dia bisa dibilang sempurna.
__ADS_1
"Tadi aku bilang kalau Kalula nanyain dia ke aku. Aku kesel sih lihat Seira manja-manjaan sama dia di sini. Kayaknya terlalu berlebihan kan kalau sama teman begitu.
Aku nanya apa dia ada masalah sama Kalula. Nggak mau jawab. Yaudah aku bilang aku mau laporin aja kelakuannya di sini sekalian sama Kalula. Eh, dia marah. Yaudah." Erina mengangkat bahu.
Aldo dan Beni mendecak-decakkan bibirnya.
"Kemarin dari Disneyland, Edo kan nggak pulang. Mungkin nggak sih dia nginep di tempat Seira? Seira kan tinggal di rumah sendiri. Maksudnya rumah papanya," ucap Beni dengan makin sinis.
Selain kesal pada kelakuan Edo, sepertinya Beni diam-diam cemburu karena ia menyukai Seira. Ya siapa sih cowok Jakarta di kampus ini yang nggak suka Seira. Seira itu idola.
Mungkin Beni merasa kalau secara tampang dia lebih oke dibanding Edo. Edo biasa saja. Tak bisa dibilang jelek, tapi belum kayak dibilang tampan juga.
Erina dan Aldo saling lirik mendengar gerutuan Beni. Mereka membiarkan temannya yang satu itu menggerutu.
Sepertinya perpecahan lambat laun terjadi. 5 orang yang awalnya berjanji untuk saling kompak satu sama lain di Tokyo sudah mulai terpecah-belah. Dan semua ini diawali karena Edo.
Edo yang dari awal seolah menjaga jarak dari mereka, kini kelakuannya semakin menjadi-jadi.
"Udahlah gak usah dibahas. Nanti kalau butuh bantuan kita paling ya nyari kita-kita juga. Udahlah biarin aja dia mau apa. Fokus aja sama kuliah. Ya nggak?" Beni berusaha menetralkan obrolan setelah puas menggerutu.
Aldo dan Erina mengangguk saja. Ia sibuk mengeluarkan buku dan tampak menyibukkan diri. Erina dan Aldo saling lirik lagi sambil mengangkat bahu.
Tak lama kemudian Ajeng dengan rambut ikalnya datang menyusul. Rupanya ia baru datang dari kamar mandi.
"Eh, kenapa, sih? Kok diem? Kok jadi aneh gini? Habis ngomongin siapa hayo? Habis ngomongnya aku, kan?" Ajeng langsung cerewet dengan gaya bicaranya yang kekanakan.
"Habis ngomongin Edo." Beni menjawab singkat.
"Hah? Kenapa lagi dia? Barusan aku papasan di tangga turun. Seira nemuin dia dan langsung gandeng tangannya. Entah mau kemana." Ajeng menjawab polos.
Serentak Erina, Aldo, dan Beni saling pandang seolah ingin sama-sama bilang, "Tuh, kan!"
__ADS_1
Kemana lagi Seira dan Edo pergi berdua?
Bersambung ...