
Pukul tiga pagi waktu Jakarta.
Kalula terbangun dan menggosok-gosok matanya yang bengkak karena kebanyakan menangis.
Dilihatnya Edward sedang meringkuk tidur di karpet tebal di bawah sofanya.
Kalula tersenyum. Ia tahu walaupun belum mengenal Edward begitu lama tapi pria itu tulus. Buktinya ia lebih memilih tidur di sini menemaninya, padahal ia bisa tidur di kasur empuknya di kamarnya sana.
Setelah menjalin hubungan dengan Edo sejak masa SMA-nya, dunia Kalula monoton. Teman-temannya hanya itu-itu saja. Ia tidak terlalu mengenal banyak teman terutama lawan jenis. Makanya ia tidak tahu kalau perhatian Edward kepadanya itu berintensi lain. Bukan sebatas teman, tapi Edward ingin lebih dari itu.
Kalula duduk di sofa dan menarik selimutnya. Ia tersenyum melihat Edward yang terlelap bagaikan bayi. Begitu tenang.
Dari samping begini hidung mancung Edward terlihat lebih mencuat. Sungguh cocok dan pas sekali membingkai garis wajahnya yang tampan. Rahangnya yang kokoh dan alisnya yang tebal menawan. Lalu mata coklat itu begitu indah. Edward memang tipenya.
Kalula tertawa sendiri menyadari ia sudah berimajinasi begitu jauh.
Ia jadi ingat dulu ia pernah bilang pada Edo kalau tipe cowok idamannya adalah Anthony Aston. Dia adalah penyanyi favoritnya. Cowok Inggris yang ciri-ciri fisiknya kurang lebih seperti Edward. Hanya saja matanya biru, bukan cokelat.
Ah, ia jadi teringat Edo juga soal ini. Waktu itu Edo bilang tipe cewek idamannya adalah Jenifer William, bintang film favoritnya.
Mereka teramat dekat hingga mengobrolkan hal-hal semacam itu rasanya biasa saja. Tidak ada yang marah atau cemburu.
Toh tipe-tipe idaman itu hanya di angan-angan saja. Nyatanya hubungan mereka lebih hebat dari itu. Edo dan Kalula jauh dari tipe-tipe idaman masing-masing. Tapi toh mereka saling cinta. Bukankah itu yang paling penting?
Mengingat Edo membuat Kalula terperanjat.
Mana ponselnya? Kalula kelabakan mencari. Ia begitu penasaran apa Edo menghubunginya?
Kalula tahu pacarnya itu habis makan-makan bersama teman-teman kuliahnya dari Jakarta. Walau tak dikabari, tapi Kalula tahu dari postingan sosmed Erina. Mungkin ia terlalu lelah untuk mengabari langsung. Kalula pikir siapa tahu Edo menghubunginya.
"Ah, ya! Di kamar Edward. Tadi tasku kuletakkan di atas kasurnya."
Kalula lalu turun dari sofa perlahan. Ia takut Edward terbangun karenanya.
Dengan mengendap-endap, ia masuk ke kamar Edward lagi untuk mengambil ponsel di tasnya.
"Loh? Kok mati?" Kalula tampak bingung. Ia duduk di tepi ranjang kamar Edward dan menyalakan ponselnya.
Sembari menunggu, Kalula tampak berpikir. Mungkin ponselnya mati karena kepencet di taksi. Atau mati sendiri karena basah kena hujan. Ia menduga begitu karena tasnya agak basah di bagian luar.
Drttt!
Tring!
Drttt!
Begitu ponselnya menyala, ratusan notifikasi muncul dengan mengejutkan.
Edo!
Edo mencoba menghubunginya sejak tengah malam! Bahkan ia mengirimkan banyak pesan dan panik mencarinya.
Kalula hanya bisa membeku di tempat dan merasa bersalah karena malah asyik dengan Edward. Semalam ia mencurahkan masalahnya pada Edward hingga ia lupa kalau ia punya Edo yang biasa menjadi sandaran segala keluh-kesahnya.
"Astaga Edo... . Sorry." Kalula bergumam lirih dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
Kalula menatap jam. Sudah pukul 3 lebih di sini. Artinya di Tokyo sudah jam 5 atau mungkin setengah enam pagi. Sudahkah Edo bangun?
Ditatapnya ratusan chat menumpuk dari Edo yang belum sempat ia baca itu. Entah apa isinya. Kalula pikir Edo hanya panik mencarinya saja karena nomornya tak aktif saat ponselnya sempat mati sendiri tadi.
Dengan ragu Kalula membuka kontak Edo dan tangannya hampir memencet tombol "Dial." Tapi belum sempat ia menekan tombol panggilan itu, sebuah panggilan masuk lebih dulu mengejutkannya.
"My Edo Calling."
Kalula tanpa ragu langsung mengangkat panggilan antar negara itu.
"Halo, Do. Aku..."
"KAL! KAMU DIMANA?" Edo menyambar dengan setengah berteriak.
Kalula sangat terkejut. Ia tahu Edo ini memang tipe yang berapi-api, mudah terpancing, dan emosional. Tapi apa pemicunya sampai ia berteriak begini?
Kalula bingung. Apa Edo semarah ini karena ponselnya mati?
"Aku... . Aku di..." Kalula langsung bungkam. Ia tak mungkin bilang ia sedang berada di apartemen Edward. Kalau sampai Edo tahu ia menginap di tempat cowok yang tak ia kenal, maka matilah ia.
"DIMANA KUTANYA?" Edo masih meneriakinya.
"Aku di rumah." Kalula menjawab dengan terbata.
"RUMAH? RUMAH SIAPA? MAMA NELPON AKU YA TENGAH MALAM. DIA BILANG KALIAN BERTENGKAR DAN KAMU KABUR DARI RUMAH SAMA COWOK. JAWAB! KAMU DIMANA?" Edo seperti orang mengamuk.
Kalula menahan napasnya. Oke. Mama Sastri menelpon Edo dan mengadu soal pertengkaran mereka? Seharusnya Edo membelanya. Tapi kenapa ia memarahinya.
"Do! Tunggu dulu. Tenang dulu. Aku bisa jelasin. Mama bilang apa? Mama nggak bilang kita berantem karena apa?" Mata Kalula mulai berkaca-kaca.
"Mama Sastri bilang kamu pulang kerja malem banget diantar cowok. Mama cuma nanya kenapa kamu jalan sama cowok lain. Padahal aku baru ninggalin kamu ke Tokyo beberapa minggu.
Mama nyuruh kamu menjaga perasaan aku. Tapi katanya kamu malah marah. Lalu kalian berantem dan kamu naik taksi lagi kabur sama cowok itu. Jadi, Kal. Kamu sekarang dima..."
"DO! NGGAK GITU! MAMA BOHONG!" Kini Kalula yang berteriak. Ia tak terima mamanya memfitnahnya begini.
Jelas-jelas mereka bertengkar karena mamanya memintanya uang lalu membuatnya malu di depan Edward. Dan setelahnya mamanya mengungkit-ungkit soal status Kalula yang hanya hanya tirinya. Kalula marah karena merasa dibohongi.
Dibohongi ternyata selama ini bukan anak kandung itu bukan perkara ringan macam dibohongi soal uang atau apa. Ini membuatnya terluka.
Kenapa Edo terhasut?
"LOH, KOK KAMU MALAH NERIAKIN AKU! KALULA! AKU NGGAK TIDUR DARI SEMALAM KARENA NYARI KAMU. TERUS BERUSAHA MENGHUBUNGI KAMU TAPI NOMOR KAMU NGGAK AKTIF. SEHARUSNYA AKU YANG MARAH!" Edo mulai tersulut kembali.
Kalula menangis. Kenapa jadi salah paham sefatal ini, sih?
Mendengar Edo tak tidur karena mencarinya sejak semalam membuat Kalula merasa bersalah juga. Tapi bentakan Edo dan teriakannya barusan tetap membuatnya kesal dan sakit hati juga.
Kemarahan Edo akhirnya terhenti begitu mendengar Kalula menangis. Bagaimanapun jarak Jakarta-Tokyo itu cukup jauh, tapi Edo tahu hati mereka sangat dekat. Mendengar suara Kalula menangis membuat ia tersentuh juga. Emosinya turun lagi dengan sendirinya.
"Do, please dengar dulu. Mama bohong. Kita tidak bertengkar karena itu. Ini masalah yang lain lagi, Do. Kamu nggak ngasih aku kesempatan untuk menjelaskan. Kamu nggak dengerin aku dulu," ucap Kalula di tengah-tengah isak tangisnya.
Entah berapa lama mereka hanya hening. Edo mencoba diam dulu sampai Kalula lelah menangis.
"Oke. Sorry. Aku emosi. Aku capek seharian dan baru tidur 2 jam. Lalu 3 jam lagi aku ada kuliah pagi. Kita bicara pelan-pelan sekarang. Oke?" Edo mulai melunak. Nadanya kembali lembut.
__ADS_1
"Oke," sahut Kalula dengan lirih. Suara serak dan ingus ditarik itu terdengar ke telinga Edo yang mulai dingin kepalanya.
"Kal, aku perlu tahu dulu kamu dimana. Aku ingin memastikan kamu aman dulu. Soalnya mama Sastri bilang kamu nggak pulang ke rumah.
Sekarang kumatikan panggilannya. Kita beralih ke panggilan video. Oke? Kalau aku lihat wajah kamu langsung dan tahu kamu dimana, aku akan lebih tenang." Edo berujar dengan lembut.
Kalula panik. Video call?
"D--Do. Nggak usah. Kita..."
Tut... tut... tut...
Kalula melempar handphone-nya ke kasur. Ia lalu memegang kepalanya dengan frustasi.
Oke. Video call! Apa yang harus ia lakukan? Edo tak boleh tahu kalau ia menginap di tempat teman lelakinya.
Kalula berdiri dan mengamati seluruh penjuru kamar yang terlihat sangat 'cowok' karena poster-poster band, papan skateboard antik yang dipajang di dinding, dan... Arghhh!
Kalula makin panik saat melihat layar ponselnya menyala. Video call dari Edo menunggu diangkat.
Dilarikannya ponsel itu menuju sudut dinding yang polos di dekat pintu kamar yang terbuka itu. Kalula merapikan kaos Edward yang ia pinjam dan mengangkat panggilan video dari Edo dengan gemetar.
"Do..." Kalula menyapa lebih dulu.
Edo diam saja. Tapi wajahnya langsung tersentuh begitu melihat mata Kalula yang bengkak dan wajahnya yang kelihatan kacau.
Kalula mencoba tersenyum. Jakarta-Tokyo, bertemu dalam satu layar virtual.
Edo mencoba tersenyum juga ke arah pacar yang ia cemaskan sejak semalam itu. Tapi senyumnya langsung ia tarik dari bibirnya begitu menyadari kaos yang dipakai Kalula.
"Kal? Itu baju siapa?" Edo langsung bertanya menyelidik.
Kalula lalu melirik ke arah kaos yang Edward pinjamkan padanya. Oke, ia bisa bohong soal ini.
"Eh, oh. I--ini punya temanku. Aku nginep di rumah teman kerja aku. Cewek. Dia jadi kasir di cafe itu, Do. Baju aku basah kena hujan jadi aku pinjam bajunya." Kalula mulai berbohong. Ia melakukannya karena tak mau menambah masalah. Ia tak mau Edo salah paham.
Wajah Edo masih tetap datar.
"Teman kam cewek dan dia pinjamin kamu kaos band metal?" Wajah Edo mulai kelihatan curiga.
Kalula melirik panik. Ya! Bodohnya ia. Terlihat jelas bagian dada kaos yang ia pakai itu tergambar foto personil band metal.
"Y--ya. Kebetulan selera musiknya begitu." Kalula yang panik mencoba beralasan.
Edo masih diam. Antara ia percaya atau tidak Kalula tak tahu. Edo bukan tipe pria yang mudah dibodoh-bodohi. Apalagi Kalula tak pandai berbohong. Wajahnya kelihatan panik.
"Kal? Kamu bangun?" Suara Edward tiba-tiba masuk ke dalam panggilan.
Mata Kalula langsung melotot panik.
Di layar ponselnya, Kalula melihat wajah Edo langsung berubah menjadi marah.
"ITU SUARA SIAPA, KAL?" Suara lembut Edo juga seketika berubah.
Kalula pucat di tempat.
__ADS_1
Bersambung ...