Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
56. Mengakulah...


__ADS_3

Setelah bercerita panjang lebar Kalula lalu menatap mata Amelia Santono yang kini tampak takjub menatapnya.


Sungguh ucapan Kalula barusan dan cerita hidupnya yang panjang, yang 30 menit lebih ia simak, membuat pandangannya pada gadis itu berubah total.


Ternyata gadis ini begitu tahu cara menghargai dirinya sendiri. Ia tahu ia miskin tapi tetap berharga. Ia bahkan terang-terangan menolak Edward karena merasa ditipu.


Dalam hati Amelia Santono ingin tertawa juga. Menertawakan putranya lebih tepatnya.


"Oh, Edward sayang. Gadis impianmu yang kamu tes karena kamu takut dia suka padamu karena kekayaanmu ternyata membantaimu balik. Gadis ini tak butuh uangmu. Kamu tertipu ilusimu. Trik kamu salah."


Amelia Santono menarik nafas panjang dan tersenyum puas.


Ah, gadis ini pantas. Kalula bukan tipe gadis yang akan menghabiskan uangnya untuk bermewah-mewahan dan bergaya seperti wanita norak mendadak kaya.


Kalula tahu artinya kerja keras dan pintar. Amalia Santono menyunggingkan senyumnya lagi.


"Saran saya jangan hubungi boss kaya kamu yang sengak itu. Ia hanya menggertak. Bahkan mungkin gaji kamu ditahan dengan sengaja agar kamu bergantung padanya. Mungkin dia dendam juga karena ditolak. Lelaki macam itu pantas diberi pelajaran." Amelia Santono malah menghasut, bahkan putranya sendiri ia katai sebagai bos kaya yang sengak.


Sungguh Amelia Santono ingin tertawa. Putranya yang kemarin ngeyel-ngeyel membantahnya soal perjodohan ternyata kalah telak.


Kalula tampak menutup mulutnya dengan tangan. Ya, rupanya ia baru kepikiran.


"Oh, iya. Mungkin dia sengaja nahan gaji saya." Kalula berseru lirih dengan wajah sedih.


Nyonya Amelia Santono tertawa kecil sambil mengelus pundak Kalula.


"Nah, kan. Banyak lelaki kaya yang memanfaatkan jabatannya begitu. Udah, nggak usah hubungi dia. Blokir nomornya kalau perlu. Kamu ikut kerja sama saya saja. Oke?


Soal gaji, tempat tinggal, jangan cemas. Kamu tinggal di rumah saya juga, ya. Saya berniat pensiun dini setelah anak saya melanjutkan bisnis. Saya butuh teman untuk mendampingi saya ke acara-acara, menemani saya belanja, dan liburan mungkin.


Gimana. Mau? Kamu pengin kuliah, kan? Saya bisa biayai kamu. Siang kerja untuk saya. Malam kuliah. Ambil kelas karyawan saja. Daftar untuk tahun depan. Itu sih kalau kamu masih betah kerja di saya."


Ah, janji-janji surga ini jelas membuat Kalula runtuh.


Ia mengangguk-angguk tanpa pikir panjang. Ia tentu tak curiga sama sekali karena cerita dari Shanty tadi pagi benar-benar nyata.


Nyonya Amelia Santono benar-benar di atas angin.


"Oke deal?" Diulurkannya tangannya ke arah Kalula.

__ADS_1


Kalula menjabat tangan mama Edward itu dengan penuh keyakinan 100%.


"Deal." Kalula menjawab tanpa ragu lagi.


"Oke, sebagai tanda deal, kamu blokir nomor boss kamu, lalu simpan nomor saya. Nanti kita kontakan ya."


"Iya, Bu..."


Dan Kalula benar-benar memblokir nomor Edward dengan polosnya.


"Kamu resmi saya terima kerja, ya. Kamu urus dulu Shanty. Kasihan dia. Kalau boss lama kamu nanya kamu dimana dan kerja apa sekarang, jangan kamu kasih tahu. Oh, saya bisa meraba dia sangat bermasalah dan toxic. Saya cuma mau kamu fokus kerja di saya aja nanti. Ngerti?"


Dan Kalula mengangguk lagi seperti kerbau dicucuk hidungnya.


***


Lalu hari itu ketika Edward kebingungan mencari Kalula dan makin uring-uringan karena nomor Kalula tidak bisa dihubungi lagi, Kalula justru tersnyum lega.


Ia menunggui Shanty di rumah sakit dengan wajah sumringah. Shanty tersnyum senang menatapnya, tapi ada sedikit rasa cemas juga.


"Bu Amelia baik ya, Mbak. Saya senang. Merasa seperti ajaib banget kebetulan saya bisa punya pekerjaan baru tanpa disangka-sangka." Kalula tak berhenti tersnyum.


***


Lalu di cafe Edward sudah di puncak kesalnya. Dika bilang nomor Kalula masih aktif dan bisa dihubungi. Di titik itu Edward tersadar kalau mungkin nomornya doblokir.


"Beneran nyambung?" Edward menatap Dika yang sepertinya menahan tawa mendengar nomor Edward diblokir Kalula.


"Nyambung, Pak. Cuma nggak diangkat aja. Saya kirim pesan juga terkirim, kok." Dika bahkan menunjukkan ponselnya pada Edward.


Edward tampak mondar-mandir. Hari sudah makin gelap saja. Ia jadi cemas. Kalula ini sebenarnya sedang dimana dan baik-baik saja atau tidak. Ia khawatir.


"Mmm, gini aja, Dik. Kamu telepon dia. Bilang kamu mau ngasih gajinya secara cash. Ya bilang kek sudah diurus dan sekarang boleh cash. Nah, kamu janjian di tempat mana gitu. Biar dia percaya kalau nggak ada saya di situ. Nanti saya mata-matai dari jauh dan ikuti dia diam-diam biar saya tahu dia pindah dimana. Oke?"


Edward merasa idenya kali ini cukup cemerlang. Sebaliknya, Dika tampak seperti keberatan.


"Ta--tapi, Pak...".


"Halah nggak usah tapi tapi. Cepetan telepon. Buruan." Edward memelototi Dika.

__ADS_1


Dika benar-benar tak punya pilihan. Tangannya bergerak menekan tombol 'panggil.'


Seperti biasa Edward memintanya menyalakan load speaker.


"Tut...tut...tut..."


Edward duduk tenang di kursi Dika. Menunggu nada tunggu itu diangkat Kalula.


"Halo Pak Dika?" Suara Kalula terdengar.


Edward merasa lega. Dika menatap Edward dengan bingung. Edward langsung memelototi Dika dan menyuruhnya cepat bicara.


"Halo? Ada apa lagi ya, Pak?" Suara Kalula terdengar cuek dan percaya diri dibandingkan tadi.


Jelas, Kalula yang merasa dipermainkan Edward soal gaji kini merasa di atas angin. Ia sudah punya pekerjaan baru dan merasa tidak perlu kembali lagi ke cafe.


"Mmm, gini..."


Dika malah tak kunjung bicara karena bingung mau memulai darimana. Apalagi di bawah tekanan dari pelototan Edward membuatnya tidak fokus.


"Kok nggak marah-marah kayak tadi, Pak? Tadi saya dimarahi. Padahal saya sudah jelaskan baik-baik alasan saya tidak masuk. Setahu saya waktu tanda tangan kontrak kerja, saya nggak melihat poin izin kerja 2 hari akan dipecat." Kalula rupanya sudah menemukan kembali keberaniannya.


Edward menepuk jidatnya. Ah, ia lupa Kalula cukup cerdas untuk mencerna semuanya sekarang.


"Mmm, nggak gitu, Kal. Saya cuma emosi tadi. Kamu ke cafe bisa nggak? Saya mau kasih gaji kamu yang ketahan kemarin." Suara Dika terdengar tidak yakin.


Edward duduk sambil menatap layar ponsel Dika. Sungguh ia berdebar menunggu jawaban Kalula.


Ia makin tegang ketika mendengar suara nafas Kalula seperti terdengar muak.


"Pak Dika, tanpa mengurangi rasa hormat saya, Pak Dika jujur deh. Yang nyuruh Pak Dika nahan gaji saya, nyuruh saya hubungi pak Edward; itu dia sendiri, kan? Pak Edward sengaja melakukannya?" Suara Kalula terdengar seperti tuduhan.


Dika mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Merasa tertangkap basah.


Sedangkan Edward hanya bisa menutup wajahanya dengan tangan. Ah, bagaimana ini? Kalula rupanya menyadari ini dan jadi salah paham.


Kalula pasti herpikir kalau Edward sangat jahat...


"Pak Dika? Jawab saya." Suara Kalula kembali terdengar. Suasana sungguh mencekam.

__ADS_1


__ADS_2