Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
66. Tentengan Belanjaan Mahal


__ADS_3

Di dalam perjalanan pulang, Kalula diantar sopir Nyonya Amelia Santono, tentu beserta mobil mewahnya juga.


Jujur saja Kalula gugup. Tapi ia harus membiasakan diri. Mbak Shanty bilang bekerja dengan Nyonya Sania Narita membuatnya harus mau tak mau dituntut untuk menghadapi situasi macam-macam.


Kalula menutup matanya. Mencoba mencerna semua ini. Seharusnya ia senang dapat pekerjaan dengan gaji tinggi, tapi agak aneh juga ia dengan semua rentetan kebetulan ini.


Pergi dari apartemen Edward setelah tahu dibohongi, berperang dingin tarik ulur masalah gaji dan mendendam diam-diam, berujung resign dari cafe, bertemu anak ibu kost, bertemu Nyonya Amelia Santono yang sepertinya menyimpan banyak rahasia.


Kalula mungkin merasa ini murni takdir saja. Setidaknya sampai saat ini. Tapi takdir ini semi rancangan. Rancangan Si Nyonya Kaya.


"Nyonya Amelia Santono sakit apa?" Hati Kalula bertanya-tanya.


Katanya belum waktunya bercerita. Entah apa maksudnya itu. Lalu soal putranya yang tidak akur dengannya dan tidak mau tinggal di rumah mewah itu membuat Kalula agak bingung juga.


Kebingungannya memikirkan semua ini berujung pada kemalasan berpikirnya dan menganggap ini kelakuan aneh orang kaya saja.


Kalula sibuk berkonfik dengan mama tirinya soal uang gajinya yang sedikit. Nyonya Amelia Santono berkonfik dengan putranya karena putranya malas mengelola bisnis keluarga alias menolak uang banyak.


Oh, sungguh kontras.


Kalula seharusnya sangat terkejut nanti begitu tahu putra nyonya barunya adalah Edward, pria kaya aneh yang mencintainya tapi ia tolak.


"Mbak Kalula? Kita ke Mall Citra dulu kata Bu Amel tadi. Benar, kan? Sebentar lagi sampai, saya turunkan di lobby. Nanti hubungi saya kalau sudah selesai. Saya akan jemput lagi di lobby." Sang sopir yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Dirman itu memberi tahu dengan sopan.


Kalula lalu terbangun dari lamunannya. Setelah mengiyakan ucapan Pak Dirman dan menyadari mobil sudah berbelok masuk mall, Kalula langsung panik meraba isi tas.


Tadi Nyonya Amelia Santono memberinya secara amplop berisi kertas pesan untuk manager butik. Kalula awalnya tidak tahu untuk apa tapi Nyonya Amelia Santono menjelaskan.


"Ya, tadi di mobil kamu sudah saya tanyain kan soal ukuran baju, sepatu. Sudah saya pesan untuk kamu kerja. Tinggal ambil. Saya sudah bayar." Begitu katanya tadi.


Kalula mengucapkan banyak-banyak terima kasih sebelum pergi. Ia pikir hanya dibelikan pakaian layak beberapa potong saja agar tidak tampil memalukan. Tapi begitu kertas diserahkan, pegawai toko itu memberinya banyak paper bag berisi belanjaan yang bahkan ia bawa sendiri saja tidak sanggup.

__ADS_1


"I--ini semua buat saya?" Kalula menatap tas-tas belanjaan di dekat meja kasir butik mewah itu dengan tatapan melotot.


"Iya, Nona. Bu Amelia membuat pesanan siang tadi. Anda perlu diantar? Memang terlalu banyak untuk dibawa sendiri. Kami akan bantu. Nona bawa mobil? Atau sopir?" Sang manager butik bahkan memperlakukannya dengan penuh hormat.


Kalula yang seumur-umur bahkan belum pernah menginjakkan kaki di butik semewah ini masih mematung dengan bingung.


"Y--ya. Sa--saya ada sopir. Sebentar biar saya hubungi." Kalula menyahut dengan terbata.


Ia bahkan kaget sendiri dengan kata-katanya. Oh, dia punya sopir sekarang. Sopir yang sedang ia telpon untuk menuju ke lobby.


"Su--sudah. Saya akan ke depan." Kalula berkata canggung sambil berusaha memungut paper bag di lantai dekat kasir dengan bingung.


Sang manager butik mulai memberi kode pada pegawainya untuk mengantar Kalula membawa barang-barang.


Kalula melangkah dengan rasa tidak percaya diri. Entah kenapa dia malah merasa canggung melintas mall dengan tentengan belanjaan branded di tangan. Bukannya seharusnya bangga? Bahkan ada dua pegawai lain yang membantunya dan mengikutinya di belakang.


Sesampainya di lobby para pegawai itu pergi setelah Pak Dirman membantu memasukkan barang-barang belanjaan itu ke dalam mobil.


Oh, semua hal mewah ini terasa baru, menyenangkan, menegangkan, membingungkan, tapi sekaligus membuat pikirannya tidak bisa fokus. Ia terlalu terpaku pada semua hal baru ini sampai mengecek ponsel saja tidak sempat.


Kalula tidak tahu Edo mencemaskannya dan mengiriminya beberapa pesan singkat dari Tokyo.


Kalula menatap isi paper bag yang menyembul beberapa dengan penasaran. Sungguh ia ingin tahu apa saja yang Nyonya Amelia Santono itu belikan untuknya. Katanya baju kerja dan sepatu saja, kan? Tapi kenapa sebanyak ini? Apa mungkin ini titipan saja?


Ah, rasanya iya. Setelah ke tempat kost Bu Rudy untuk mengambil barang kan ia kembali lagi ke rumah itu untuk mulai tanggal di sana.


"Ya, tidak mungkin ini untukku semua. Gila apa! Mahal-mahal semua begini. Bahkan ada yang harganya setengah gaji yang ditawarkan untukku dalam sebulan." Kalula membatin sambil melamun lagi. Hari ini ia banyak melamun.


Ia baru tersadar dari lamunan saat mobil mewah Nyonya Amelia Santono itu berbelok dari jalan raya menuju gang yang sedikit lebih sempit.


Kalula duduk dengan tegak, bersiap untuk turun. Apalagi begitu dilihatnya Bu Rudy sendiri yang membukakan pintu gerbang untuknya.

__ADS_1


Ya, wanita paruh baya itu yang memeluknya sambil menangis di rumah sakit. Shanty putri satu-satunya kesayangannya menceritakan semuanya. Kalula dianggap berjasa. Entah apa jadinya kalau Shanty jatuh dan pendarahan sendirian pagi kemarin.


"Mobilnya nunggu, kan?" Bu Rudy mengamit lengan Kalula masuk ke dalam rumah.


Kalula mengangguk. Ditatapnya lantai teras yang kemarin berlumuran darah bercampur air siraman tanaman itu. Ah, kini sudah bersih dan bahkan dilapisi rumput sintetis agar tidak licin. Bu Rudy sangat menyesali kejadian ini. Apalagi ia sedang tidak di rumah.


"Berarti suaminya Mbak Shanty sudah datang, Bu?" Kalula bertanya basa-basi sambil berjalan masuk.


"Iya. Siang tadi, Kal. Kalau belum datang mana mungkin saya pulang. Nanti gantian jaga. Kasihan juga dia habis dari luar kota bahkan belum ganti seragam lapangan langsung ke sini saking khawatir sama Shanty. Makasih sekali lagi ya, Kal." Bu Rudy menyentuh tangan Kalula dengan tulus.


Kalula mengangguk malu. Ah, niatnya kan hanya menolong saja. Ia tak tahu betapa berartinya pertolongan itu untuk Shanty dan bayi di dalam kandungannya.


"Saya tahu kamu anak baik sejak kamu pertama datang ke sini. Sayangnya belum berjodoh jadi anak kost saya. Selamat ya dapat kerjaan baru dan boss yang baik. Bu Amel itu baik. Sayang Shanty hamil dan memutuskan resign.


Semoga Kalula betah, ya. Jangan sungkan untuk main ke sini. Ibu senang kenal kamu walau sebentar." Bu Rudy yang duduk di atas kasur kamar yang ditempati Kalula kemarin itu dengan mata berkaca-kaca.


Kalula lagi-lagi hanya mengangguk. Ia tak terbiasa dipuji. Ia malu, bahkan justru merasa tidak nyaman.


"Udah? Itu aja barang kamu?" Bu Rudy menatap Kalula yang sudah siap dengan ransel dan dua tas jinjing.


Kalula lagi-lagi mengangguk. Memang barangnya sedikit. Bahkan kalau dipikir lebih banyak barang di mobil yang barusan ia angkut dari mall.


"Yasudah sini Ibu bantu. Benar ya main-main ke sini kalau libur kerja atau ada waktu." Bu Rudy mengambil satu tas dari tangan Kalula dan membimbingnya keluar rumah.


Lalu menjelang malam itu diakhiri dengan lambaian tangan Bu Rudy yang Kalula balas dari atas mobil yang berbelok melaju pergi.


Hari ini takdir baru Kalula dimulai. Ia akan tinggal di rumah Nyonya Kaya yang tidak ia ketahui kalau beliau adalah mama Edward.


Kemanakah takdir akan membawa hatinya? Apakah kejutan baru yang menunggunya di rumah megah itu?


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2