Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
64. Terhanyut


__ADS_3

Andrew Laksema yang matanya biru itu menoleh. Ia melepas kacamatanya lalu menepuk pundak Edo yang berjalan mendekat ke arahnya.


Aksen bicara Andrew masih terasa sangat kental, tapi Edo bisa paham ketika ia bicara. Andrew mencampur bahasanya dengan cepat. Inggris, Jepang, Indonesia. Tapi kebanyakan dia memakai bahasa Indonesia.


Sejujurnya kemampuan bahasa Inggris Edo lebih baik dibandingkan kemampuan bahasa Jepangnya. Ya setidaknya untuk saat ini.


Andrew lalu menceritakan apa yang Seira katakan padanya soal Edo. Soal pengalamannya bekerja magang di sebuah perusahaan arsitek di Jakarta dan semua hal yang berhubungan dengan itu.


Agak terkejut juga Edo. Oke, selain membocorkan rahasia hidup Kalula dan lika-likunya pada Beni, Seira juga membocorkan cerita Edo soal dirinya sendiri pada papanya. Ogh!


Entah Edo awalnya berprasangka. Tapi kalau dipikir Seira ini seolah membantu jalan keluarnya di setiap masalah. Lihat apa yang ia lakukan pada Beni. Setelah Seira mengajaknya bicara dan membujuknya, anak itu memutuskan untuk tidak mengadukan kecurangan Edo ke pihak sponsor beasiswa.


Lalu sekarang karena bujukan Seira juga, papanya malah memberi Edo kesempatan magang di kantornya.


Edo hanya bisa mencerna semua hal ini dengan mulut ternganga sementara Andrew Laksema menjabat tangannya.


"Gitu dong, Sei. Cari teman yang bagus. Positif. Nanti gaji kamu dihitung per jam aja ya." Andrew duduk lagi ke kurisnya setelah menepuk pundak Edo yang masih berdiri kaku macam robot.


"Eh, oh. Eng--enggak usah, Om. Saya sudah cukup senang diberi kesempatan belajar di kantor Om. Saya juga nggak diperbolehkan kerja paruh waktu sama pihak sponsor. Kalau menyalahi aturan malah bahaya untuk saya." Edo menjawab panik.


Ya sebenarnya kalau nggak ada yang lapor nggak akan ketahuan juga, sih. Kecuali perusahaan lain yang ketat dan benar-benar mewajibkan mahasiswa tertentu memiliki izin untuk bekerja paruh waktu.


"Halah, santai. Saya nggak akan catat nama kamu lah di daftar mahasiswa magang. Aman. Lagian nggak pernah mau saya ngasih kesempatan kalau bukan karena saya percaya sama orangnya.


Udah, itung-itung uang jajan. Kamu ke kantor juga anggap aja lagi main. Nanti Seira kasih tahu dimana kantor saya. Seira juga sering main ke sana kalau bosen. Kantor saya keren, Do. Nggak mirip kantor. Santai aja kayak tempat bermain. Kamu bakal betah pokoknya." Andrew Laksema tampak membereskan sebuah berkas saat bicara.


Edo hanya menjawab "I--iya, Om" saja dengan kegugupan yang begitu kentara.


Oh, pria bule yang pertama kali Seira kenalkan padanya saat bertemu ke rumah ini ternyata tidak kalah baik dibandingkan Seira. Edo merasa kaget.


Di bayangan Edo sebagai kalangan menengah ke bawah, ia menganggap orang kaya itu semuanya angkuh, jahat, dan merendahkan. Tapi Andrew Laksema tidak.

__ADS_1


Entah kalau Edward. Di bayangan Edo, Edward tetap menjadi tokoh jahat. Cowok kaya jahat yang merebut Kalula darinya. Bayangan itu tak pernah hilang dan membuatnya makin benci pada orang kaya. Ya kecuali Seira dan papanya mungkin. Berapa sih orang kaya yang pernah Edo kenal selama hidup?


Ah, tidak ada. Hanya Seira dan Edward saja yang "kaya" sungguhan di matanya. Nyatanya memang benar mereka keturunan kaya raya.


Jadi ingat lagi ibu-ibu kaya yang Roby bilang mengantar Kalula dengan mobil mewah. Siapa dia? Edo kepikiran lagi tapi lamunannya langsung hilang saat Andrew Laksema mengajaknya bicara lagi.


"Jangan sungkan-sungkan ya, Do. Saya sebenarnya cukup senang akhir-akhir ini Seira sering di rumah. Nggak bawa teman aneh-aneh lagi ke kamarnya. Cuma kamu teman dekatnya rasanya akhir-akhir ini. Jujur saja, saya lebih tenang kalau dia temenan sama anak Jakarta.


Apalagi sama kamu. Saya perhatikan kamu sopan, nggak pernah macam-macam, nggak ngajak pergi ke tempat aneh-aneh, malah minta izin magang dan belajar di kantor saya, serius kuliahnya. Saya senang ternyata kamu ngambil jurusan arsitek. Ke depannya saya harap kita akan nyambung ngobrolnya.


Oh, ya. Saya kan sering ke luar negeri. Kadang jarang di rumah juga. Titip Seira, ya. Jaga dia. Jangan sampai macam-macam." Andrew Laksema lalu kena tinju putrinya.


"Papa!" Seira memasang muka sok galak dan memelototi papanya.


Edo hanya tertawa canggung. Selain kaget karena semua hal mengejutkan ini, ia juga kaget karena tidak jadi kesal pada Seira.


"Makasih, Om. Saya nggak tahu harus bilang apa. Terima kasih sekali lagi untuk kesempatannya." Edo langsung menunduk sopan.


Andrew Laksema tertawa lagi. "Iya iya. Santai. Sabtu Minggu libur kuliah, kan? Ke kantor ya sama Seira. Mau saya kasih tahu kantor saya sekarang tapi saya lagi sibuk. Yasudah kalau gitu saya pergi ya. Bye, Sayang." Andrew langsung mengecup pelan kening Seira lalu pergi dengan tumpukan berkasnya.


"Gimana? Senang? Itung-itung nambah pengalaman kamu lah, Do. Orang-orang kantor papa baik, kok. Siapa tahu dengan belajar begini nanti pelajaran bahasa kamu makin ikut lancar. Ngerjain apa yang kamu suka itu hasilnya akan beda. Mood kamu akan ikut bagus, nggak kayak kemarin. Awut-awutan terus."


Seira langsung cerewet.


Ah, Edo tidak bisa berkata-kata lagi. Ia spontan memeluk Seira yang hanya dalam waktu satu hari bisa memecahkan dua masalah besarnya. Ya, masalah ketakutan dilaporkan dan masalah soal ia yang ingin menyerah soal kuliahnya.


"Do? It's okay. Aku senang bantu kamu. Aku sayang kamu, Do." Seira menepuk pelan pundak Edo lalu mengelusnya.


Edo memeluk gadis itu erat-erat. Ia tidak tahu semakin ia bergantung dan berhutang budi pada Seira, makin mudah juga gadis itu untuk mengikatnya hingga Edo susah melepaskan diri.


Mungkin inilah yang dinamakan terjerat gadis cantik.

__ADS_1


Edo benar-benar terjerat hingga larut dalam euphoria ini. Ia biarkan Seira menyentuh dan menuntunnya. Seira hanya kesepian. Edo hanya pelampiasan yang gadis itu sebut-sebut sebagai cinta.


Edo terlarut dengan kesemuan rasa kesepian Seira yang menuntut untuk ia penuhi hingga ia lupa janjinya.


Edo lupa ada acara makan malam sekaligus perayaan ulang tahun Yuki San-ibu semangnya. Ia lupa bahkan Erina yang kemarin marah dan tidak mau bicara dengannya tadi membuang egonya dan memintanya pulang agar bisa ikut acara ini.


Edo hanyut...


Edo lupa diri saking senangnya...


Hingga dering ponsel dan notifikasi pesan dari Roby pun ia abaikan begitu saja. Ponselnya teronggok di ranselnya sementara Edo teronggok tanpa pakaian di kamar Seira.


Ya, Edo hanya tidak sadar kalau sebenarnya yang tidak dewasa itu dia. Yang membuat hubungannya dengan Kalula putus itu bukan hanya karena tipu daya Edward, tapi karena ia sendiri yang begitu lemah dengan godaan.


[[  "Do, aku masih di kampus. Ada praktikum sampai malam. Aku kok masih kepikiran ya siapa ibu-ibu kaya yang tadi sama Kalula. Udah nanya dia langsung belum? Pikiranku jadi jelek dan ngelantur kemana-mana."  ]]


[[  "Do? Masih di kampus, ya? Sibuk? Biasanya kalau menyangkut soal Kalula kamu cemas dan cepat-cepat nyari kabar. Do?"  ]]


Dua pesan dari Roby terabaikan karena Edo sibuk berkeringat hingga ia ketiduran setelahnya.


Tokyo mengubah segalanya.


Tokyo mengubah Edo.


***


"Ini rumah saya, Kalula. Saya tinggal sendirian saat ini. Saya ingin kamu tinggal di sini. Saya mau kamu jadi asisten pribadi saya 24 jam, bukan hanya waktu saya di kantor. Lagian sama mau pensiun ngantor sebantar lagi, digantikan anak saya."


Amelia Santono melirik Kalula yang duduk di sampingnya dengan wajah terpana menatap rumah megah di pusat kota ini. Astaga berapa puluh miliar harganya, ya? Ia membatin.


"Ayo turun dari mobil. Biar saya bawa kamu masuk keliling rumah." Amelia Santono memberi kode pada sopirnya untuk membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Kalula masih terpana. Ini rumah apa istana, ya?


Bersambung ...


__ADS_2