
Pukul 8 pagi.
Masih dengan sepatu lari, Edward berhenti di gang sempit. Ia menunggui Kalula yang sedang tampak bernegosiasi dengan pemilik kost. Ini tempat ketiga yang mereka sambangi sambil lari-lari pagi.
Edward iseng mengecek ponselnya. Matanya langsung berbinar begitu melihat kotak notifikasi. Seira merespon pesannya semalam.
Edward melihat jam tangannya. Ah, di Tokyo sudah jam 10 pagi. Pantas Seira tampak fast respon berbalas pesan dengannya.
[ "Ed, call me. Aku free buat angkat telpon. Biar lebih gampang kamu jelasinnya." ]
Edward membaca pesan sepupunya lalu ia melirik Kalula lagi. Sepertinya masih lama ia mengobrol dengan pemilik kost yang kelihatannya ramah itu.
Dibandingkan menelpon, Edward lebih memilih mengirimkan pesan suara. Ia lalu menyingkir agak jauh agar Kalula tak tidak bisa mendengarnya.
Ditekannya tombol rekam di ponselnya lalu ia mulai bicara.
"Seira, aku menyukai seorang gadis. Dia cantik, sederhana, tapi aku nggak bisa berpaling walau aku tahu dia sudah punya pacar. Pacarnya penerima program beasiswa di Waseda. Dia baru berangkat beberapa bulan lalu, atau sebulan lalu, pokoknya sekitar itu lah.
Mungkin kamu tahu orangnya, Sei. Nanti aku cari tahu siapa nama lengkapnya dan fotonya kalau bisa. Nah, kamu pernah cerita kan ada komunitas dari sesama perantau mahasiswa di Tokyo.
Ya, aku tahu sih kamu menatep ikut papamu di Tokyo, jadi nggak bisa dibilang perantau juga. Tapi kamu kan dulunya sekolah di sini. Mungkin ada teman atau orang yang bisa menghubungkan kamu sama cowok itu. Apalagi kalian satu kampus.
Namanya Edo. Dia pacar Kalula, cewek yang kutaksir. Hubungan mereka renggang karena LDR dan sering bertengkar, tapi sekarang sudah berbaikan lagi. Ah, posisiku jadi terancam.
Seira, aku tahu kamu cewek petualang dan suka tantangan macam ini. Kalau kamu berhasil mendekati Edo dan membuat mereka putus, itu akan sangat keren.
Aku nggak tahu pakai cara apa lagi buat misahin mereka. Aku tahu ini salah, tapi cewek ini benar-benar buat aku nggak bisa berpaling. Please, Seira."
Klik! Send!
"Kamu nelpon siapa, Ed?" Tahu-tahu Kalula sudah berjalan ke arahnya.
Edward hanya mengangkat bahu dan bilang ia tidak menelepon siapa-siapa. Ia malah mengalihkan perhatian Kalula dengan menanyakan soal tempat kost yang barusan ia lihat.
__ADS_1
"Ibu kost bilang harus bayar DP dulu. Aku bilang aku belum punya uang. Ya seminggu lagi, lah. Kalau sekarang ada sih uangku. Tapi kalau kubayar, nanti nggak ada buat makan seminggu ini.
Dia bilang kalau minggu depan masih kosong, nanti aku dihubungi lagi. Aku udah ngasih nomorku ke dia, sih. Semoga masih jodoh, lah.
Lokasinya nggak terlalu jauh kan dari cafe. Tempatnya juga lumayan, lah. Pemiliknya kayaknya cukup baik dan ramah. Kita pulang yuk, Ed. Nanti aku yang bikin sarapan, deh," ucap Kalula dengan ceria.
Edward mengangguk. Lalu masih dengan sepatu lari, mereka berdua berjalan melintasi zebra cross menuju pelataran gedung apartemen megah milik Edward itu.
Sambil terus berjalan, Edward dan Kalula terus bicara soal banyak hal. Edward bisa merasakan sendiri betapa aura Kalula berubah menjadi lebih ceria setelah berbaikan dengan Edo.
Edward merasa tidak suka akan hal itu. Makanya sambil mengobrol, ia terus memancing dan mencari celah untuk mengungkit lagi soal kesalahan-kesalahan Edo.
"Tapi kamu yakin Kal kalau Edo serius minta maaf. Kemarin dia kasar banget, loh. Aku aja kaget pas dia ngomong begitu ke kamu. Sorry, ya. Bukannya aku mau jelek-jelekin dia. Tapi ya aku dengar sendiri dia kasar kayak gitu.
Oh ya, kamu udah nanya soal dia yang terus deket-deket sama temennya itu? Yang kamu kasih lihat fotonya di postingan sosial medianya itu, Kal."
Sambil menunggu lampu berwarna merah, mereka berdiri di sisi jalan yang sudah mulai panas tersengat panas matahari pagi.
Wajah Kalula langsung berubah murung lagi. Ia lalu menggeleng dan menatap ke arah Edward.
Padahal Erina tahu aku follow akun dia, dan aku selalu melihat story-story dia. Erina jelas tahu aku pacar Edo. Ah, entahlah.
Aku tahu sih mereka temenan berlima, tapi kenapa sih di setiap foto atau video aku selalu lihat Erina itu duduknya deketan banget sama Edo."
Lampu berwarna merah. Kata-kata curhatan Kalula tertahan. Jemari Edward menggandengnya untuk menyeberang.
Setelah sampai seberang jalan yang lebih rindang karena dinaungi pepohonan besar itu, Edward mulai menghasut lagi.
"Kayaknya kamu juga harus bilang, deh. Rasa itu tumbuh karena terbiasa, loh. Terbiasa dekat-dekat, ketemu tiap hari," ucap Edward.
Kalula mengangguk-angguk. Padahal ia tidak merasa saja kalau hal yang sama sedang terjadi padanya.
Setiap hari ia bertemu Edward. Edward selalu ada untuknya. Dan rasa itu mungkin sudah ada, tumbuh sedikit demi sedikit tanpa ia sadari. Ya walaupun ia masih selalu merasa hatinya hanya untuk Edo. Padahal tidak juga.
__ADS_1
Kalula mulai merasa takut Edward marah, takut cowok itu kecewa, atau takut ia tersinggung. Ini bukan perasaan biasa sebagai seorang teman. Ini lebih.
Dan setiap sentuhan, ucapan, juga perlakuan manis Edward padanya membuatnya merasa nyaman. Nyaman yang berbeda. Tapi Kalula belum menyadari betul.
"Oh ya, kenapa sih zaman sekarang ada orang yang gak punya akun sosial media? Aneh. Kamu yakin Edo nggak punya akun sosial media? Jangan-jangan diam-diam dia punya.
Kamu pernah bilang dia nggak suka kalau kamu posting foto soal hubungan kalian di akun kamu. Katanya hubungan nggak perlu diumbar. Mungkin dia nggak mau orang lain tahu dia punya pacar. Ada hati lain yang dia jaga.
Aku punya teman yang begitu, Kal. Tahu-tahu dia bohong. Tak tahunya dia punya akun sosial media tapi buat deketin cewek lain juga.
Oh ya, nama lengkap Edo siapa, sih? Biar aku cari coba," ucap Edward memancing sambil mengeluarkan ponselnya.
Kalula menggeleng dengan wajah cemas. Omongan toxic Edward membuatnya khawatir kalau Edo sungguhan seperti yang dikatakannya.
"Nggak ada, Edward. Dari dulu dia nggak punya akun. Coba aja cari. Nama lengkap Edo itu Eduardo Arwino. Mau cari pakai nama lain pun nggak ada. Atau benar ya kayak kamu bilang. Dia pakai akun anonim.
Kalau soal foto, ada kok postingan foto dia di akun aku yang belum aku hapus. Ada di postingan bawah-bawah. Foto lama sih waktu kita masih pakai seragam SMA," ucap Kalula makin murung.
Yash! Umpannya termakan dengan sempurna. Oke, Eduardo Arwino. Edward mengingat baik-baik nama itu. Lalu akun sosial media Kalula yang sudah ia follow, bisa ia selidiki untuk mencari foto Edo yang dimaksudnya barusan.
Mereka terus mengobrol lagi bahkan saat di lift. Intinya Edward terus mengatakan kemungkinan yang tidak-tidak yang bisa terjadi selama Edo di Jepang.
Kalula tak sadar, pelan-pelan omongan Edward masuk ke telinganya dan berubah menjadi pikiran-pikiran negatif terhadap Edo.
Edward bilang ia mau mandi duluan dan Kalula sibuk membuat sarapan di dapur apartemen. Padahal Edward tidak mandi, ia justru menelepon Seira.
Sebelumnya ia tadi sudah mencatat nama lengkap Edo dan mengirim hasil foto tangkapan layar foto Edo yang ia ambil dari akun Kalula. Edward bergerak cepat.
"Serius cowok itu? Kemarin aku baru ketemu sama dia loh di kumpulan mahasiswa. Kebetulan ada acara. Kemarin ada yang ulang tahun, terus dirayain gede-gedean.
Eduardo, kan? Setahu aku yang namanya Eduardo ya cuma Edo yang itu," ucap Seira sambil mengunyah. Entah ia sedang makan apa.
"Serius kamu ketemu dia? Terus kalian sudah saling kenal?" tanya Edward dengan makin antusias.
__ADS_1
Edward merasa, angin kemenangan berhembus lagi ke arahnya. Seira bisa ia andalkan...
Bersambung ...