Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
6. Hasutan Mama Tiri


__ADS_3

Edward mengembalikan ponsel Kalula di tas gadis itu lagi tanpa merasa bersalah sama sekali.


Padahal di Tokyo sana, Edo pasti sedang kelabakan karena Kalula tidak bisa dihubungi, ditambah lagi ponselnya mati.


Edward sungguh-sungguh tak peduli. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Yang penting Kalula di sini. Ia yang obsesif terhadap gadis itu tentu lebih senang kalau Kalula berdua saja dengannya tanpa gangguan siapapun.


Edo masih enggan mengenakan baju. Ia pikir Kalula akan terpesona melihat otot-otot tubuhnya yang kekar. Padahal Kalula justru malu. Ia tak terbiasa melihat pria dengan tampilan maskulin yang pamer badan di depannya.


Edward membuat kopi. Ia meletakkan dua cangkir di meja ruang tengah. Satu untuk Kalula, satu untuknya. Ia menatap puas kopi buatannya. Beberapa pekan mengenalnya, ia tahu gadis itu suka cappuccino.


Hingga akhirnya Edward kembali ke kamar bertepatan dengan Kalula yang baru keluar dari kamar mandi.


Edward tidak bisa menyembunyikan senyumnya begitu melihat gadis favoritnya muncul di depannya dengan malu-malu.


Rambutnya sedikit basah dan baju yang ia pakai kebesaran.


Jelas saja kebesaran. Kalula biasa memakai ukuran S, sedangkan baju Edward berukuran XL. Kalula tampak seperti memakai karung, tapi karena auranya memang cantik mau pakai pakaian apapun dia tetap kelihatan menggemaskan.


"Ed, jangan menatap aku seperti itu, please." Kalula lalu berusaha memeluk pundaknya sendiri yang Edward tahu kalau ia sedang berusaha menutupi sesuatu.


Ya, bukankah tadi dia bilang semua pakaiannya basah. Berarti termasuk semua pakaian dalamnya, kan? Itulah alasan Kalula meminta menukar pakaian berwarna gelap dan berbahan lebih tebal tadi.


"Hei, aku cuma menatapmu seperti biasa. Kenapa? Kal, dengar. Aku bukan cowok cabul. Keringkan bajumu yang basah di dekat balkon agar cepat kering. Lalu kalau sudah, sana duduklah di sofa ruang tengah. Aku tadi sudah membuatkan cappuccino hangat untukmu," ucap Edward sambil menahan senyum.


Kalula mengangguk tersipu lalu pergi ke arah balkon. Ia menjemur bajunya lalu menyesap dengan nikmat kopi buatan Edward.


Beberapa menit kemudian Edward yang baru selesai mandi itu muncul di depannya. Ia memakai celana panjang santai dan tangannya membawa selembar kaos.


Mau tak mau mata Kalula tertuju ke arahnya. Sebenarnya Kalula mengakui tubuh Edward sangat atletis dan keren. Tapi perlukah ia pamer badan begini di depannya?


Atau mungkin ia saja yang terlalu berprasangka. Edward buru-buru ke sini setelah selesai mandi, makannya ia baru sempat memakai kaos di sini. Lebih tepatnya beberapa meter di depan Kalula.


Kalula agak menahan nafasnya menyaksikkan pemandangan itu. Bahkan ia saja tak pernah melihat Edo membuka baju di depannya begini, kecuali mereka sedang berenang.


Selain itu tidak ada interaksi intens begini, apalagi memperlihatkan fisik satu sama lain, walaupun mereka sudah lama berpacaran.


Edo sangat menjaga dirinya. Itulah mengapa papa Kalula dulu sangat mempercayai pemuda itu.


"Cappuccino buatanmu enak. Enak sekali." Kalula mengeluarkan kalimat pujian begitu Edward berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.


"Kal, kamu lupa aku barista? Jelas kopi buatanku enak. Apalagi di dapur ada mesin kopi. Maksudku mesin kopi milik sepupuku. Aku bebas memakainya." Edward nyengir meralat kalimatnya sendiri.

__ADS_1


Kalula mengangguk-angguk. Ia lalu menatap kosong ke arah layar televisi berukuran besar di depannya.


"Mau kunyalakan?" Edward menawarkan.


Kalula menggeleng. Lalu keduanya diam. Bermenit-menit berlalu. Edward minum kopi lalu meletakkan gelasnya. Kalula ikut minum lalu meletakkan gelasnya juga.


Adegan itu berulang seperti film yang monoton. Hingga akhirnya Edward kembali bersuara.


"Kal? Apa keputusanmu selanjutnya? Jangan bilang kamu mau kembali ke rumah itu? Aku sarankan jangan. Sementara ini kamu bisa tinggal di sini sampai menemukan tempat tinggal baru.


Sepupuku baru kembali ke luar negeri. Entah bulan berapa dia pulang lagi. Tempat ini jadi milikku sementara. Orang tuaku juga tidak akan mengomeli aku karena aku menyembunyikan seorang gadis di sini. Ya, mamaku di luar kota.


Tenang saja. Aku juga tidak akan bilang kepada anak-anak di cafe kalau kita tinggal satu apartemen," ucap Edward terus terang. Ia sangat ingin Kalula tetap di sini, selama mungkin.


Kalula menggeleng pelan. Ia juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tahu rahasia mengejutkan itu membuat hatinya terguncang, jadi semua tindakan spontan yang ia lakukan pasti tanpa pikir panjang, termasuk ikut Edward ke sini.


"Entahlah, Ed. Kalau mama Sastri minta maaf, aku akan kembali ke rumah itu. Bagaimanapun dia yang membesarkanku dari aku kecil sampai sekarang. Ya walaupun dengan segala kelakuan-kelakuan ajaibnya.


Tapi mungkin aku akan lebih tegas lagi soal uang setelahnya seperti kamu bilang tadi. Sejak lulus SMA aku pontang-panting kerja serabutan sana-sini untuk menabung biaya kuliah. Tapi sudah 3 tahunan aku nggak dapat apa-apa. Uangnya habis buat mama sama Karina. Kayaknya memang aku harus mikirin diriku sendiri mulai sekarang," ucap Kalula.


Edward mengangguk-angguk lalu ia kembali menyesap kopinya.


"Ceritakan soal keluargamu, Ed. Tidak adil rasanya. Dari kemarin kamu mendengarkan curhatanku soal Edo, soal keluargaku. Ah, ya ampun. Padahal kita belum mengenal terlalu lama, Ed. Maafkan jika cerita-ceritaku membuatmu merasa terbebani atau sebal.


Edward tentu tak mungkin menceritakan kisah aslinya. Ia tak ingin Kalula tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Setidaknya nanti, entah kapan ia akan jujur. Ia belum siap. Ia takut Kalula menjauhinya setelah ia tahu Edward siapa.


"Mmm, apa ya? Tidak ada yang menarik dari keluargaku, Kal. Papaku juga sudah meninggal. Ya belum lama ini. Jadi kita sama.


Ah, sudahlah, Kal. Bahaslah yang lain. Jangan aku. Hidupku tak menarik. Apapun atau sesuatu yang membuatmu senang. Aku akan menemanimu sampai malam. Sampai kamu bosan dan tak sedih lagi," ucap Edward.


Dan ternyata hati Kalula begitu mudah dirogoh. Malam itu hingga larut Kalula dan Edward terus mengobrol.


Banyak sekali topik yang mereka bicarakan. Dari film favorit, anime, pengalaman sekolah mereka dulu, buku-buku yang kebetulan sama-sama mereka suka. Apapun mereka obrolkan untuk menghibur hati Kalula.


Sebenarnya kalau dipikir-pikir, dibandingkan dengan Edo, Edward lebih punya banyak kesamaan dengan dirinya. Mungkin inilah alasan Kalula nyaman berada di dekat Edward, walaupun belum terlalu lama mengenalnya.


Saking nyamannya, Kalula sampai lupa mengecek ponselnya yang mati alias dimatikan Edward.


Kalula ketiduran di sofa dan Edward menyelimutinya. Dipandanginya gadis itu.


Ah, makin dilihat makin jatuh cinta ia. Edward tahu, ia menyukai gadis ini dan ia bertekad akan merebutnya dari Edo.

__ADS_1


***


"Nggak bisa dihubungi, Ma. Aku sudah coba. Aku juga sudah kirim puluhan pesan tapi nggak terkirim. Nomornya nggak aktif." Edo mengangkat telepon di jam dua malam waktu Jepang.


Kepalanya yang pusing memikirkan materi kuliah makin pusing karena aduan mama Kalula yang ia panggil "mama" juga itu saking akrabnya mereka.


Terdengar suara panik dari seberang panggilan itu. Edo makin ikut panik. Posisinya yang yang begini membuatnya makin kalut.


"Cerita pelan-pelan, Ma. Kalian bertengkar? Terus Kalula pergi? Gitu?" Edo turun dari tempat tidurnya dan mencari obat sakit kepala.


Sastri tahu hanya Edo yang bisa membujuk Kalula untuk pulang. Tapi ia tak mungkin kan menyebutkan alasan pertengkaran itu?


Sastri tak mungkin bilang kalau ia keceplosan menyebut soal status Kalula yang bukan anak kandungnya.


Perempuan mata duitan itu lalu memutar otak. Maka tercetuslah ide itu.


"Iya, Edo. Kalula pulang naik taksi diantar cowok. Mama cuma nanya dia siapa? Mama bilang Kalula harus jaga perasaan Edo. Masak baru ditinggal ke Tokyo berapa minggu sudah jalan sama cowok lain.


Kalula marah, Do! Dia langsung naik taksi lagi sama cowok itu. Makannya Mama takut Kalula kenapa-kenapa sama cowok itu. Cari dia, Do! Hubungi dia dan suruh dia pulang, ya. Mama cemas." Sastri berbohong dengan meyakinkan. Memang perempuan bermulut ular.


"Hah? Cowok? Orangnya kayak apa, Ma?" Edo yang setengah mengantuk langsung melek seketika.


"Ya pokoknya ganteng, deh. Tinggi, putih, matanya coklat, kayak bule, Do. Katanya teman kerja. Mama nggak tahu lagi, deh. Pokoknya kamu hubungi dia dan suruh dia pulang, ya. Mama takut nggak ada kamu di sini, anak itu nggak bisa jaga diri. Ya, Do?" Sastri makin membual.


"Iya, Ma." Edo menjawab lirih lalu diakhirinya panggilan telepon antar negara itu.


Lutut Edo langsung lemas.


Bisa-bisanya Kalula...


***


Pukul lima pagi di Tokyo, berarti pukul tiga pagi di Jakarta.


Edo kelabakan dan masih terus mencoba menghubungi Kalula. Bahkan kini ponselnya sambil ia masukkan ke kontak pengisi daya karena baterainya habis saking ia pakai berjam-jam.


Tangannya gemetaran. Antara cemas sekaligus ingin marah. Pikirannya sudah mengembara ke mana-mana.


Kalula pergi sama cowok itu. Cowok yang kata Mama Sastri cukup ganteng dan terdengar seperti tipe cowok idaman Kalula.


Edo tak tahu. Di Jakarta, Kalula sedang tertidur lelap dengan Edward menjaganya. Edward memilih tidur di karpet bawah sofa, padahal ia bisa tidur di kasur empuk kamarnya.

__ADS_1


Andai saja ia tahu...


Bersambung ...


__ADS_2