
Amelia Santono bangun dari kasur empuknya lalu membuka laptopnya yang mengecek database perusahaan.
Ia cek siapa-siapa saja manajer cafe cabang yang ia pekerjakan. Tanpa menunggu waktu lama pun ia segera tahu kalau Dika-lah yang memegang kendali cabang cafe di Jalan Aksara itu.
Amelia langsung menghubungi karyawannya itu tak peduli ini jam berapa.
"Halo. Ini Pradika, kan?" Amelia menyapa, padahal ini jam 6 pagi saja belum genap. Ia tak peduli jam.
"Oh, i--iya, Bu Amelia. Kenapa ya, Bu?" Dika yang suaranya terdengar serak menjawab gugup. Mungkin ia baru bangun tidur atau bahkan tadi masih tidur saat Amelia meneleponnya.
"Sejak Edward saya tugasin untuk ngecek cabang-cabang bisnis keluarga kami, sudah berapa kali dia datang ke cafe di Jalan Aksara? Kamu kan yang bertanggung jawab atas semua operasional cafe?" tanya Amelia Santono tak mau berbasa-basi.
Dika langsung terdiam. Ia ingat soal janjinya pada Edward untuk tidak mengatakan apapun soal kelakuannya yang menyamar sebagai barista. Tapi Dika pun tahu kedudukan Amelia Santono lebih tinggi dan ia bisa dipecat kalau ketahuan berbohong. Bagaimana ini? Ia bingung.
"Pradika, saya mau jawaban jujur. Kalau kamu bohong, saya akan pecat kamu, ya. Saya sudah kirim orang saya untuk ngecek dan saya lihat anak saya di situ kemarin. Dia pakai seragam barista.
Terus dia juga kelihatan dekat sama seorang gadis yang memakai seragam pelayan. Dia siapa? Kenapa anak saya di situ seolah-olah jadi pegawai biasa?" tanya Amelia Santono dengan nada tak sabaran.
Dika terdiam. Ia lalu panik dan hanya menjawab anu-anu dengan bingung saja hingga Amelia Santono membentaknya.
"Pradika, kamu diancam biar gak ngasih tahu saya ya sama Edward. Sudah, sekarang jujur saja. Jelasin semuanya!" ucapannya Amelia tahu bagaimana cara menggertak orang.
Lalu Dika pun menjelaskan semuanya dengan terbata-bata, tanpa kecuali. Soal Edward yang tiba-tiba ingin menyamar menjadi barista, lalu memintanya menerima lamaran seorang gadis yang telat wawancara. Dan ia bilang gadis itu bernama Kalula.
Dika menjelaskan kalau selama beberapa pekan ini ia tidak bisa menegur dan hanya bisa diam saja ketika Edward terus mendekati Kalula di cafe.
"Sedekat apa mereka? Kenapa anak saya sampai sebegitunya? Menyamar jadi barista? Terus tiap hari dia benar-benar datang dan kerja?" tanya Amelia dengan syok.
"I--iya, Bu. Pak Edward meminta saya merahasiakan identitas aslinya dari semua orang, terlebih Kalula. Soal mereka sedekat apa, saya nggak tahu, Bu. Saya nggak terlalu ikut campur.
__ADS_1
Ibu tahu kan posisi saya sesulit apa? Pak Edward bilang ini dan itu lalu saya hanya bisa menuruti maunya," ucap Dika yang ini kata-katanya lebih tertata dan tak segugup tadi. Tapi nadanya tetap terdengar kalau ia sedang tertekan.
"Gadis itu, tadi siapa namanya? Ah, ya. Kalula. Waktu lamar kerja di cafe, dia ninggalin berkas data pribadi, kan? Nah, kamu scan terus kamu kirim ke saya," ucapkan Amelia Santono memerintah dengan tegas.
"Se--sekarang juga, Bu?" tanya Dika dengan bingung.
"Ya, iya lah. Terus mau kapan? Tahun depan? Saya butuhnya sekarang," ucapnya lagi dengan nada makin mendesak.
"Tapi data-datanya ada di kantor cafe, Bu. Saya sedang di rumah sekarang," ucap Dika pasrah.
"Saya nggak mau tahu! Sebelum jam 7 pagi, kamu sudah harus kirim ke saya. Bagaimanapun caranya! Ngerti?" Lalu Amelia menutup panggilan secara sepihak tanpa menunggu Dika merespon.
Ia kemudian memijit-mijit pelipisnya dan berteriak memanggil pelayan rumah.
"Mbak! Siapkan saya sarapan lebih pagi! Panggilan dokter juga. Kepala saya sakit!" Amelia lalu berjalan terhuyung ke kamar mandi.
"Iya, Bu."
"Mama senang Ed kamu dekat sama perempuan. Tapi kenapa harus pelayan cafe, sih? Bikin Mama makin pusing aja kamu. Udah nggak pernah mau pulang ke rumah. Mau jadi apa kamu, Nak. Mama makin tua. Pusing urus bisnis. Kamu malah bawa nginep gadis tidak jelas ke apartemen kamu." Amelia menggerutu sendiri.
***
Di dalam mobil mewahnya, Amelia membaca ulang profil data pribadi milik kalula yang tadi pagi dikirimkan Dika.
"Anak itu cuma lulusan SMA. Usianya masih cukup muda. Tak punya pekerjaan yang jelas, latar belakang keluarga juga nggak bisa dicari di internet. Jelas ia bukan siapa-siapa.
Bisa-bisanya Edward tertarik pada gadis semacam itu. Cantik sih memang. Tapi tetap saja. Tidak selevel." Amelia menggerutu lagi.
Tadi pagi dokter pribadinya sudah memberikan obat sakit kepala dan bilang ia tidak apa-apa, hanya stres saja.
__ADS_1
Sekarang ia nekat saja mendatangi cafe itu tanpa sepengetahuan Dita maupun Edward. Ia ingin membuat kejutan. Ia ingin menergoki sendiri putranya itu bermain-main di sana.
"Sudah sampai, Bu," ucap sopirnya yang sudah memarkirkan mobilnya di area parkir khusus pengunjung cafe.
Amelia lalu mengangguk dan turun setelah sebelumnya meminta sopirnya tidak usah membukakan pintu mobil. Ia tidak ingin kedatangannya terlalu mencolok. Ia tak mau Edward curiga.
Amelia pun tadi sudah menukar mobil yang biasa ia pakai dengan mobil kantor sebelum berangkat ke sini. Ia benar-benar berniat untuk menangkap basah putranya.
Dari meja barista, Edward melihat sosok itu bia yang tadinya sibuk melayani pesanan langsung memberi kode pada Dika dan meninggalkan begitu saja pekerjaannya.
Dika langsung pucat. Ia tahu Sang Nyonya Besar sedang mengadakan kunjungan dadakan. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk mencari putranya. Dan mencari Kalula juga mungkin.
Dengan reflek, mata Dika langsung menengok ke arah Kalula yang sedang sibuk mengelap meja di sudut sebelah sana.
Dada Dika benar-benar berdebar cepat dan jantungnya terasa mau copot. Tadi pagi Amelia sudah menjaminnya kalau Edward marah dan memecatnya, Amelia akan memperkerjakannya di tempat usahanya yang lain.
Bagaimanapun bagi orang-orang kalangan atas, Dika hanya bekerja biasa yang bisa dibuang kapanpun. Dan Dika merasa bersyukur untuk jaminan itu.
***
Edward melepas apron baristanya dan langsung melemparkannya pada Dika yang berdiri terpaku dengan tegang. Ia mengamati Nyonya-nya yang berjalan makin dekat ke arah mereka.
Edward langsung berlari dan menarik tangannya mamanya untuk keluar.
Ia tahu, mamanya ke sini bukan tanpa tujuan. Pasti ada sesuatu.
Amelia Santono tidak menyangka putranya akan bereaksi sebegitunya padanya.
"Mama ngapain ke sini?" tanya Edward dengan tangannya yang masih memegangi lengan mamanya.
__ADS_1
Bersambung ...