Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
36. Bicara dengan Kepala Dingin


__ADS_3

Ya, Edo sadar pasti Aldo ikut mendengar ucapan Beni tadi. Jarak mereka begitu dekat.


"Sepupuku nggak lolos beasiswa ini. Dan kamu yang lolos? Kamu nggak layak, Do! Nggak pantas!" Aldo mendesis menahan marah.


Aldo lalu pergi dengan tatapan penuh kecewa pada Edo.


Edo jadi makin panik dan lemas. Amarah yang tadinya menguasai diri langsung lenyap begitu saja.


Ajeng dan Erina yang menyingkir ke pinggir hanya bisa menatap ngeri. Mungkin tadi mereka tidak mendengar bisikan Beni soal beasiswa.


Edo harap mereka tak mendengar.


Tak berapa lama kemudian Ajeng menyusul pergi. Tinggallah Edo dan Erina berdua saja.


Erina tampak menatap Edo dengan tatapan kecewa juga. Dan tatapannya begitu menakutkan. Edo tahu betul, Erina yang selama ini paling vokal soal aturan. Di angkatan yang terdiri dari 5 orang penerima beasiswa ini, Erina lah leader-nya.


Erina yang paling dekat dengan pihak sponshorship beasiswa dan menjadi perwakilan mereka. Kalau sampai Erina lapor...


Edo benar-benar tidak bisa membayangkan ini. Ia menatap Erina dengan frustasi.


"Er, aku..."


"Aku apa?" Erina berjalan mendekat.


Ketika jarak mereka sudah begitu dekat, Edo hanya bisa menatap Erina dengan tatapan memelas, minta dikasihani.


Jangan! Jangan sampai Erina dengar soal beasiswa tadi dan mengadu. Jangan! Edo panik sendiri.


"Kalula, Er..." Edo berusaha membelokkan pembicaraan mulutnya macam kelu saja.


Erina melipat tangannya ke dada. Ia menghembuskan nafas panjang dan tampak menahan kesal.


"Tenang. Aku nggak bilang apa-apa soal kamu sama Seira ke Kalula. Aku nggak mau ikut campur. Lagian mana dia percaya. Kan dia ngiranya aku yang justru berusaha dekat sama kamu.


Padahal dari awal tatapan aku beda banget ke kamu karena kamu mirip mendiang kakakku yang meninggal belum lama karena kecelakaan." Erina berkata lirih. Matanya berkaca-kaca saat menyebut soal kakaknya.


Edo membeku. Oh begitu...


"Do, aku pikir kita teman. Kita, Do. Bukan aku sama kamu aja. Tapi aku, kamu, Ajeng, Beni, Aldo. Aku nggak tahu kamu lagi ada masalah apa dengan Kalula atau keluargamu di Jakarta. Atau kamu kesulitan ngikutin perkuliahan? Kesulitan adaptasi?


Kamu nggak pernah cerita sama kita. Kamu selalu diam. Bahkan waktu ibu semang menawarkan untuk menggabungkan kamar kamu sama Beni dan Aldo kamu nolak.


Kamu memang menutup diri dari awal. Nggak usah denial soal itu. Tapi kalau sekarang kamu dekat dengan Seira dan mesra-mesraan, orang-orang jadi risih, Do. Kamu sudah lewat batas.


Iya kok kita tahu Seira cantik dan keren. Anak-anak juga udah tahu. Bahkan senior aku juga sampai nanya. Dia bilang Seira itu memang pergaulannya beda dari kita-kita. Dia agak bebas.


Hati-hati aja, Do. Sebagai seorang teman yang masih berusaha peduli, aku cuma bisa ngingetin," ucap Erina lalu ia menatap Edo untuk yang terakhir kalinya dan pergi ke kamarnya.


Edo terdiam di tempat. Tas ranselnya yang tadi menggantung di pundaknya kini terasa 5 kali lebih berat.

__ADS_1


Kacau. Hidupnya di Tokyo kacau. Ia merasa lemas sekaligus ingin marah pada dirinya sendiri.


Kuliah kacau, hubungan dengan Kalula kacau, kecurangan beasisiwanya terendus, teman-teman menjauh.


Edo memegangi kepalanya yang serasa mau meledak. Ada emosi terpendam yang ia sendiri bingung bagaimana cara mengeluarkannya.


Drttt! Drttt!


Ponsel yang ia simpan di saku celananya bergetar. Edo yang masih berdiri dengan lemas berusaha mengejar dan kaget begitu melihat nama Kalula.


Kalula mengirimkan dua pesan. Sambil berjalan menuju kamarnya di ujung ruangan, Edo membaca pesan itu.


[[  "Do, selama kamu pergi dan aku banyak masalah keluarga, aku memang banyak bohong ke kamu. Aku punya alasan untuk itu.


Tapi jangan lupa. Kamu juga banyak bohong. Soal Erina, Seira. Coba kita saling jujur soal semuanya. Biar kita ngerti hubungan kita itu lagi dimana? Bisa diselamatkan nggak? Nggak gantung gini."  ]]


Lalu pesan kedua lebih singkat lagi isinya. S


Edo membacanya sambil merenung.


[[  "Telpon aku kalau kamu sudah bisa janji pada diri kamu sendiri buat berpikir jernih. Kabari kalau kepalamu sudah dingin buat diskusi. Janji kalau nggak akan marah-marah. Kita bicara serius kalau kamu sudah siap."  ]]


Edo mengunci pintu kamarnya lalu meletakkan ransel.


Ia pun membalas pesan Kalula. [[  "10 menit lagi. Aku baru pulang. Kamu belum tidur, kan?" ]]


Saat ia mengeringkan wajahnya dengan handuk, Seira mengiriminya pesan. Edo hanya melirik ponslenya saja. Ia mengabaikannya.


Nanti. Seira nanti saja. Sekarang fokus pada Kalula dulu.


***


Sementara di Jakarta,..


Kalula berjalan mondar-mandir. Sejak mengirim pesan balasan, ia tampak terus memelototi layar ponselnya. Berharap Edo segera membalas.


Dan akhirnya setelah mendapat balasan, ia justru tegang. 10 menit terasa lama.


"Oke, kalau memang kita putus ya udah. Nggak papa. Daripada sama-sama tersiksa terus begini." Ia membatin dalam hati lalu berjalan keluar dari kamar.


Ya, Edward belum pulang entah kemana. Dan Kalula merasa sesak. Ia butuh menenangkan diri sementara sambil menunggu Edo menelpon balik.


Ditatapnya landscape kota dan gedung-gedung tinggi menjelang dari apartemen mewah Edward ini. Begitu indah.


Kalula melamun. Di Tokyo sana, apa saja yang sudah Edo lihat? Tempat-tempat impiannya yang dulu sering ia ceritakan?


Tiba-tiba perasaan melankolis menghampiri hatinya yang sepi.


Drttt! Drttt! Drttt!

__ADS_1


'My Edo memanggil.'


Ya, Kalula bahkan belum mengganti nama kontak Edo di ponselnya.


***


"Halo, Kal?" sapa Edo dengan suara lirih.


"Halo." Kalula menyahut dengan tak kalah pelan.


Hening.


Wajah Edo yang tampak masih sedikit basah karena habis cuci muka itu ia seka. Edo duduk di lantai kamar sambil bersandar pada ranjangnya.


Ingin ia mencurahkan segala kegundahan ini pada Kalula. Tapi ia gengsi.


"Kal, aku pusing dengan materi kuliah. Aku tahu dari awal otakku nggak mampu. Aku pikir bisa nyoba tapi aku tetap ketinggalan dari yang lain. Aku minder dan jauhin teman-teman tapi mereka salah paham. Sekarang Aldo sama Beni sudah tahu soal kecuranganku soal beasiswa ini. Aku harus gimana, Kal?"


Seharusnya dalam keadaan normal kata-kata itu yang keluar. Tapi sekarang hubungan mereka terlalu rumit. Banyak hal yang belum selesai sejak kemarin yang perlu dibahas.


"Do, aku apa kamu dulu yang ngomong." Kalula membuka kecanggungan ini.


Tidak ada teriakan dan saling debat lagi. Mungkin inilah titik puncak dari semuanya. Mereka sama-sama lelah bahkan untuk saling bertengkar.


"Kamu dulu aja, Kal." Edo menyahut lirih.


Hening lagi.


Terdengar suara hembusan nafas Kalula. Mungkin gadis itu tegang juga untuk memulai pembicaraan.


"Ya, Do. Akan panjang ceritanya. Semua berawal sejak hari itu. Kamu tahu kan aku nggak baik-baik aja setelah dengar kabar beasiswa? Kamu tahu Tokyo mimpiku. Aku ingin kamu berangkat.


Aku pura-pura baik-baik saja padahal nggak. Lalu aku keterima kerja, ketemu Edward, dan mama yang lagi butuh uang merong-rong aku. Aku stress. Dia terus paksa minta uang. Terus dia keceplosan dan bilang kalau aku anak..."


Cerita Kalula terjeda karena ia menangis. Edo diam saja. Emosi kesedihan ini sampai ke Tokyo, sampai ke hatinya.


Kalula lalu menceritakan apa yang selama ini ia tutupi. Yaitu soal mamanya yang kasar, baik secara fisik maupun verbal. Juga soal perlakuan berbeda mamanya terhadap Karina dan dirinya.


Lalu sampailah Kalula pada Edward yang menolongnya. Ia jujur soal kebohongannya, soal tinggal di apartemen Edward.


Edo masih diam menyimak. Namun saat Kalula mulai beralih pada kecurigaannya terhadap Edward yang ia ceritakan, Edo langsung bereaksi.


"Dia bohongin kamu soal identitasnya dan kamu masih tinggal di apartemennya? Kal! Kamu gila, ya! Kamu kemasi barang-barang kamu! Biar aku suruh Roby jemput. Setidaknya aku lebih tenang kalau yang nolong kamu itu Roby. Aku kenal dia. Kal, kamu..."


"Do, dengerin dulu..."


Hening lagi. Tapi suara nafas Edo terdengar memburu. Kalula tahu, terlepas masih sayang atau tidak, Edo masih begitu mencemaskan dirinya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2