
"Kal... . Aku, a--aku..."
"Aku apa?"
Edo terdiam. Kalula bisa mendengar suara nafas Edo yang memburu. Mungkin dia panik.
Edo lalu menjelaskan semuanya. Soal Erina yang ternyata menaruh perhatian lebih padanya karena Erina selalu menganggap Edo mirip mendiang kakaknya yang sudah meninggal.
Edo berusaha meluruskan. Ia bilang ia dekat dengan anak-anak lain juga. Ajeng, Aldo, dan Beni juga. Padahal sebenarnya sekarang Edo sedang dimusuhi oleh mereka.
Edo terus berusaha meluruskan segalanya. Ia sadar jarak dan waktu membuat mereka sulit memahami satu sama lain. Edo juga sadar tingkah lakunya sendiri yang membuat Kalula salah paham.
"Oke. Aku ngerti soal Erina. Iya, aku maklumi. Toh kalian memang dekat karena satu asrama dan satu kampus. Jadi tiap hari ketemu." Ucapan Kalula ini entah sarkastik atau serius, nadanya sulit ditebak.
Hening. Edo lalu diam. Ia berharap Kalula mengatakan sesuatu yang lain tapi ternyata Kalula diam saja.
Padahal di seberang Jakarta sana Kalula juga menunggu Edo untuk bicara lagi. Ia berharap Edo menjelaskan soal Seira tanpa ia minta. Tapi sepertinya Edo tak peka.
"Soal Seira gimana, Do? Apa penjelasan kamu? Apa alasan kamu? Soal kamu bohong lagi di kamar dan sibuk sama tugas tapi ternyata kamu lagi sama Erina dan anak-anak sih masih aku maafin ya, Do. Mungkin kamu lagi males sama aku. Walau sedih juga sih dibohongin.
Tapi soal Seira? Kamu bilang lagi dimana, kita juga lagi ada masalah juga waktu itu, eh Edward nunjukin foto Seira lagi seru-seruan sama kamu di Diseneyland. Kamu tahu kan Do, itu tempat impian aku dari dulu.
Aku sih nggak masalah kamu ke sana sama siapa. Itu hak kamu. Tapi kamu bohong, Do. Di saat aku nangis, aku malah liat video kamu ketawa dan seru-seruan sama Seira.
Ya, aku memang lagi sama Edward waktu itu. Tapi dia yang kamu tuduh jahat itu yang nenangin aku waktu aku nangis, waktu aku lagi terpuruk. Aku juga nangis karena mikirin kamu.
Gimana, Do? Ada pembelaan?" Suara Kalula terdengar seperti sedang menahan sesuatu. Yang ia tahan adalah kemarahan dan rasa kecewa.
Edo terdiam.
Skakmat lagi.
__ADS_1
Ya, Kalula benar. Mau membela diri dengan alasan apa lagi? Nyatanya ia bersama Seira saat itu karena butuh pelarian dari masalah.
Ego Edo sebagai lelaki yang tak mau menerima kesalahan mencoba untuk merangkai alasan. Padahal harusnya mengaku saja kalau ia cukup pengecut karena bukannya menyelesaikan masalah tapi malah kabur dengan gadis lain.
"Kal... . A--aku, aku nggak tahu kalau Seira sepupuan sama Edward." Suara Edo terdengar tercekat.
Kalula justru tertawa.
Sungguh respon yang tidak Edo duga. Ia tak berani bertanya mengapa Kalula bertanya. Edo tahu ia salah. Makannya ia hanya diam dan menunggu.
"Do, kamu bisa-bisanya ngomong gitu. Dari awal kalau Edward nggak ngasih tahu soal foto kamu sama sepupunya itu, aku nggak akan tahu kalian sejauh itu. Seharusnya aku terima kasih banyak sama dia.
Kontak fisik kalian terlalu dekat untuk disimpulkan sebagai sebatas teman. Sama aku aja kamu nggak pernah sedekat itu, Do.
Seira terus rangkul-rangkul kamu dan kamu tampak nyaman aja. Nggak ada gerakan penolakan dari semua video yang aku lihat. Kamu..."
"Kal. Udah, Kal. Udah." Edo mati kutu dengan serangan kata-kata Kalula yang membabi buta ini. Ia kewalahan.
"Kenapa? Kenapa nyuruh aku berhenti ngomong? Kaget ya aku tahu sebanyak itu soal kalian? Gampang kok buat tahu. Seira upload semua foto juga video kalian di stories akun sosial medianya.
"Udah, Kal..." Edo makin tak tahan dengan serangan ini.
Edo tahu Seira sering mengambil foto atau video saat mereka bersama. Tapi Edo tak tahu kalau media sosial sebebas itu untuk diakses orang lain. Mana ia menyangka Kalula yang sedang jauh di Jakarta sana tahu akun sosial media Seira yang sedang di Tokyo bersamanya.
"Semua ini karena Edward! Andai mereka tidak sepupuan! Andai mereka tak akrab dan saling bertukar kabar!"
Dalam hatinya yang sedang panik dan panas Edo malah menyalah-nyalahkan Edward.
Kalula diam. Tapi suara nafasnya yang menderu karena habis melupakan emosi terdengar jelas di telinga Edo.
"Sorry, Kal. Iya, iya aku salah. Ta--tapi kenapa waktu lihat foto Seira dan aku, Edward tahu kalau itu fotoku? Kita bahkan nggak saling kenal." Edo masih berusaha mencari celah membela diri, padahal yang ia lakukan sia-sia saja.
__ADS_1
Kalula tertawa lagi. Tawa yang terdengar begitu kesal. Sudah tertangkap basah begini masih saja mengelak. Mungkin itulah yang membuat Kalula tertawa. Mentertawakan kebodohan Edo.
"Do, aku kan sudah bilang. Dari awal kenal Edward aku cerita semua soal diriku, kehidupanku, soal kamu juga. Dia tahu foto itu kamu karena aku ngasih lihat foto kamu ke dia.
Dengan bangganya aku kasih tahu Edward kalau kamu pacarku. Pacar yang aku bangga-banggakan lagi kuliah di Tokyo. Sekarang aku malu sendiri sama dia. Kamu malah main gila sama sepupunya Edward.
Kamu bayangin aja deh Do rasanya jadi aku sekarang. Terus mau kamu itu apa? Aku nggak bisa gini terus, Do. Curiga terus, khawatir terus. Hidupku sendiri aja udah berat karena urusan dengan mama. Ditambah lagi mikirin kamu di sana yang nggak jelas kelakuannya. Bisa lepas kepalaku saking nggak kuat!"
Edo memejamkan mata dan bulir-bulir itu menetes jatuh.
Kok hubungan mereka jadi hancur begini, sih? Yang salah siapa? Yang selingkuh siapa?
Edo yang selalu sok kuat dan pamarah itu menangis. Sungguh kejadian yang sangat langka.
Kehilangan kepercayaan dari orang yang ia cintai itu rasanya lebih menyakitkan dari apapun.
"Maafin aku, Kal..." Suara Edo tersendat-sendat.
Kalula tahu Edo menangis. Ia tak menyangka respon Edo separah ini. Kalula juga diam-diam menangis. Tapi dari kemarin air matanya sudah terlalu banyak untuk Edo. Ia merasa sayang sekali membuang air matanya untuk lelaki itu lagi.
"Iya, aku maafin. Aku maafin, Do. Tapi aku nggak bisa lagi kayak gini. Sejak kamu dulu sama Cindy, aku juga maafin kamu, kok. Mungkin seharusnya aku nggak maafin kamu sejak itu. Mungkin seharusnya aku nggak ngasih kamu kesempatan kedua. Sekarang terulang lagi kamu sama Seira..."
"Kal! Nggak, Kal! Aku sama Seira nggak ada apa-apa. Kita cuma dekat aja karena aku butuh teman, Kal. Dan dia..."
Edo menghentikan kata-katanya. Ia sadar semakin ia menjelaskan, maka semakin jelas ia memang yang paling salah di sini.
Seira menginginkan lebih. Ia bukannya menolak, tapi tidak mengiyakan juga. Mungkin belum. Edo terlalu lemah untuk sekedar menahan godaan.
"Kita putus aja ya, Do..."
Edo membeku di tempat.
__ADS_1
Putus...
Bersambung ...