Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
35. Aku Tahu Rahasiamu


__ADS_3

"Oh, hai, Do." Erina yang tadinya tampak menatap laptopnya kini menatap Edo dengan tersenyum.


Entah senyum itu asli atau palsu. Tapi Ajeng kemudian menyusul menyapa dan ikut tersenyum juga.


Edo masih berdiri dengan canggung di depan pintu. Ia kini menatap Aldo dan Beni. Mungkin agak gengsi juga bagi sesama cowok untuk saling bertegur sapa biasa saja setelah tadi siang saling menatap sengit.


Aldo tampak menyapa 'hai' dengan lirih lalu membuang muka, pura-pura sibuk lagi dengan ponselnya. Lalu Beni...


Beni masih menatap sinis. Ia duduk dengan santai sambil tangannya ia lipat ke dada.


"Oh, kirain nggak pulang lagi. Biasanya nginep tuh di rumah Seira." Ucapan Beni sebenarnya biasa saja tapi karena dikatakan dengan sinis makanya terdengar seperti mengajak berdebat.


Edo yang berusaha untuk beramah-tamah dan memperbaiki hubungan pertemanan jadi merasa dipojokkan.


"Jangan sok tahu ya, Ben! Nggak usah nuduh-nuduh aku nginep di rumah orang!" ucap Edo marah.


Padahal ucapan Beni memang benar. Kemarin ia memang menginap di rumah Seira. Tapi ia pikir teman-temannya tidak tahu.


Beni malah tertawa. Yang lainnya tampak diam saja karena tahu, kalau Beni sudah bicara rasanya dilarang pun percuma.


"Memang benar, kan? Seira posting foto-foto tuh waktu kamu di rumahnya sampai kamu tidur. Besoknya pun ada lagi fotomu di story sosmednya. Berarti kan kamu nginep.


Semua orang bisa lihat kali, Do. Semua anak-anak komunitas di Tokyo juga udah tahu kalau kamu lagi dekat sama dia. Makannya main sosial media biar ngerti. Nggak usah sok munafik!" ucap Beni sengit.


Edo terdiam memang. Ia tak tahu kalau Seira memposting kegiatan mereka kemarin-kemarin.


Memang salah ya kalau tidak suka main sosial media? Apalagi posting foto ini itu untuk validasi atau pamer pada orang-orang. Tapi mereka bilang mereka melakukannya untuk kesenangan saja dan menganggap Edo terlalu kuno.


Oke, jadi Seira mengambil fotonya diam-diam? Edo jelas tidak tahu.


Edo yang sebelumnya sempat membuat akun anonim untuk memata-matai Kalula pun sudah tidak pernah membuka akun itu lagi. Apalagi sejak Kalula menangkap basah dirinya dan menyalahpahami ini.

__ADS_1


"Ya ampun! Apa yang dilakukan Seira! Foto-foto macam apa yang ia posting? Jangan-jangan Kalula juga sudah lihat karena Erina melapor," batin Edo dengan panik.


Erina, Ajeng, dan Aldo diam saja, pura-pura sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Rupanya tadi mereka bercanda sambil mengerjakan tugas kuliah bersama.


Sedangkan Beni tidak. Beni masih menatap lurus ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Udahlah, Do. Nggak usah munafik. Semua orang juga udah tahu, kok. Aku bukannya iri ya..." ucapan Beni tertahan sendiri.


Ya sebenarnya Beni memang iri karena dia naksir Seira dan mengidolakannya sejak pertama kali berkenalan dengan gadis itu di acara komunitas mahasiswa Jakarta di Tokyo. Eh, malah Edo yang dapat.


Edo masih diam di depan pintu. Ia menunggu Beni yang kelihatannya ingin bicara lagi walaupun tangannya sudah terkepal karena kata-kata Beni seolah memancingnya untuk bertengkar.


"Aku nggak munafik!" ucap Edo singkat.


"Oh ya. Nggak munafik? Hei, semua orang tahu kamu dekat sama Saira, Do. Cepet banget lagi deketnya. Terus saking sudah terlalu dekat, sampai kamu nginep di rumahnya. Sampai Seira gandeng-gandeng kamu di kampus, rangkul-rangkul kamu.


Dan kamu diamkan aja, tuh. Wajar nggak? Menurut kamu itu pantas? Ya nggak papa sih kalau kamu nggak punya pacar. Tapi kita kan tahu kamu punya Kalula di Jakarta. Geli kita sama kelakuanmu!" Beni mulai makin-makin memancing.


Hening.


"Udah, Ben. Udah." Erina yang duduk di samping Beni berusaha mencegah pertengkaran semakin sengit.


Dalam hati Erina bersyukur juga Edo tidak terpancing. Kalau Edo yang sama-sama sedang panas membalas Beni, maka habislah. Makin rusaklah pertemanan yang mulai renggang ini.


"Biarin, Er. Biar dia dengar. Sejak awal dia emang jaga jarak kok sama kita. Padahal kita berlima berangkat bareng dari Jakarta. Nggak usah sok paling keren deh, Do. Mentang-mentang berhasil dapetin cewek paling cantik. Paling Seira juga lo boh..."


"Ben, udah! Jangan teriak-teriak. Ibu semang kita udah tidur." Erina mencoba meredam.


Ajeng dan Aldo saling pandang. Mungkin bingung mau bilang apa. Hanya Erina yang berani melerai.


"Aku nggak bohongin Seira, ya. Dia tahu aku punya pacar di Jakarta. Dia tahu soal Kalula karena sepupunya satu tempat kerja sama Kalula. Jangan sok tahu kamu, Ben!" Edo rupanya mulai terpancing dan merangsak maju ke depan.

__ADS_1


Di antara semua orang hanya Aldo yang paling tanggap. Ia langsung berdiri mendorong kursi dan mencegah Edo yang tangannya sudah hendak memukul Beni. Mungkin karena sesama laki-laki, Aldo lebih peka.


Erina dan Ajeng langsung ikut berdiri dengan tegang. Kini hanya tinggal Beni yang duduk di kursi dan menatap Edo dengan makin sinis. Rupanya ia tidak takut walaupun tadi tangan Edo hanya tinggal sejengkal saja untuk merontokkan giginya.


"Nggak takut! Pukul aja, Do! Ingat, ya. Kita semua dipantau. Yang bermasalah bisa dicabut beasiswanya. Termasuk yang bolos kelas hari ini dan pura-pura sakit padahal lagi sibuk pacaran sama Sei..."


"Stop! Bugh!" Edo yang sedang ditahan Aldo berhasil lolos dan menonjok rahang Beni.


Erina dan Ajeng menjerit ketakutan sementara Beni hanya memegangi ujung bibirnya yang tampak sobek dan sedikit berdarah.


Beni kelihatan tidak takut sama sekali. Wajahnya malah makin menatap dengan santai seolah-olah ia yang menang.


Aldo yang berusaha menahan Edo lagi agar tidak kembali memukul berteriak menyuruh Beni mengalah dan pergi saja.


Beni pun berdiri dari kursinya. Ia melangkah ke depan hingga jaraknya hanya sekitar berapa senti saja dari Edo.


Kemudian, dari jarak yang sedekat itu Beni kemudian berbisik.


"Ingat waktu pemberkasan beasiswa terakhir. Kamu sama Kalula ngobrol di taman dan mengira nggak ada siapa-siapa, kan? Hei, aku di sana, Do. Di balik ilalang lagi duduk-duduk. Dan aku dengar semua yang kalian obrolkan.


Aku dengar soal bagaimana piciknya kamu bisa lolos dan terpilih beasiswa ini. Aku tahu kamu curang. Aku tahu..."


Edo memucat.


Apa? Jadi selama ini Beni tahu soal kecurangannya?


Edo ketakutan. Pihak sponsor beasiswa ini lumayan ketat. Kalau Beni melapor soal ini bisa gawat. Beasiswanya bisa dicabut...


Beni yang bibirnya berdarah langsung tertawa pelan penuh kemenangan dan pergi.


Edo terdiam. Nafasnya masih memburu. Aldo yang memeganginya lalu melepaskan. Matanya menatap tajam.

__ADS_1


Edo makin panik.


Bersambung ...


__ADS_2