Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
40. Godaan Terberat


__ADS_3

Lantai dua rumah megah bergaya modern ini cukup luas, tapi Seira menempatinya untuk dirinya sendiri.


Selain kamar tidur, di lantai dua ini juga ada ruang nonton, studio mini, dan ruang kerja juga.


Sebenarnya kalau dipikir, Edo lah satu-satunya pria yang ia ajak naik ke lantai dua rumahnya ini tapi 'tidak ngapa-ngapain.'


Ya, Seira jelas terang-terangan bergaul dengan bebas. Papanya sangat cuek. Baginya, yang penting Seira bahagia, tak peduli gaya hidup ataupun pergaulannya bagaimana.


Andrew Laksema banyak ke luar negeri untuk urusan bisnis. Tokyo hanya seperti sekedar rumah singgahnya saja. Ia hanya pulang dan tidur di lantai satu kamarnya, tak peduli anak gadisnya di lantai dua membawa menginap pria mana dan sedang apa.


"Do? Minum dulu." Seira membawakan secangkir cokelat hangat.


Edo memperhatikan kepulan uapnya yang tampak menggoda. Diambilnya mug itu dan diminumnya perlahan.


Ia memang tidak sedang haus. Tapi tentu ia melakukannya untuk menghargai Seira.


Seira sudah sangat baik membawanya ke sini, mengajaknya bicara, menghiburnya. Edo tentu tahu diri. Ya walau kadang ia masih heran juga kenapa gadis sekeren Seira mau dekat-dekat dengannya.


"Besok kuliah paling pagi jam berapa?" Seira bertanya pelan.


"Sepuluh." Edo menjawab singkat.


Oh, bahkan untuk memikirkan kuliah saja rasanya otaknya sudah tak sanggup lagi. Ia terlalu pusing.


Hening. Edo duduk di atas sofa. Seira yang tadinya berdiri ikut duduk di samping Edo.


Tak ada yang berkata-kata. Seira hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Matanya menatap mata Edo lekat-lekat.


"Mmm, Sei... . Soal Edward. Mmm, dia... dia..."


Edo tampak kehilangan kata-kata. Antara ragu atau gengsi, tapi penasaran juga. Ia ingin tahu lebih jauh soal Edward.


"Iya, Edward kenapa?" Seira tampak sabar mendengar.

__ADS_1


Sungguh, Edo adalah laki-laki pertama yang membuatnya tergila-gila begini. Padahal kalau dipikir, Edo tidak menarik-menarik amat. Tampan tidak, kaya tidak. Tapi Seira terlanjur terpikat. Edo sudah terlanjur punya tempat tersendiri di hatinya.


"Sekaya apa dia?" Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Edo yang gengsian.


Seira diam.


Edo tahu dari mana soal kekayaan Edward? Tahu dari Kalula? Seira agak bingung. Masalahnya Edward selalu bilang padanya kalau ia menyamar menjadi barista di depan Kalula. Kalula tak tahu dia kaya.


"Maksudnya?" Seira pura-pura tak mengerti padahal ia tahu betul kemana arah pembicaraan ini.


Edo menatap Seira yang duduk di sampingnya sambil bersandar. Edo yang tadinya duduk dengan posisi tegak ikut bersandar, membuat jarak keduanya semakin dekat, sampai Seira bisa mendengar deru nafas Edo yang memburu.


"Aku nggak sebodoh atau senaif itu, Sei. Aku tahu kamu kaya. Dan Edward pasti juga bukan orang biasa. Kalian sepupuan. Pasti keluarga besar kalian bukan orang sembarangan. Anggap saja kalian selevel. Edward sebenarnya kaya, kan?" Suara Edo terdengar biasa saja tapi dalam hati ia iri.


Seira mengangkat alisnya. Sungguh cantik wajahnya. Edo yang menatapnya untuk menginterogasi malah sempat salah fokus. Ya, Seira memang sangat menarik.


"Kalula mungkin nggak tahu karena Edward ngaku sebagai barista di cafe tempat dia kerja. Kalula polos sekali, Sei. Tapi aku tidak bodoh. Punya apartemen di pusat kota cukup tidak masuk akal untuk ukuran seorang barista.


Seira terdiam. Ia sedikit membuang muka. Ya, Edo bukan pria bodoh. Instingnya sebagai mantan pacar cukup tajam juga.


Sudah puluhan kali berurusan dengan lelaki, Seira sudah hafal gelagat cowok-cowok macam Edo ini. Walau sudah putus dari pacarnya, tapi tetap saja para cowok macam Edo ini ingin tahu seperti apa cowok lain yang mendekati mantannya.


Seira mengangkat bahu dengan agak gugup juga. Ia sudah berjanji pada Edward untuk merahasiakan identitas aslinya. Tapi sekarang Edo tahu. Seira agak bingung juga harus bagaimana.


Jujur salah. Bohong apalagi. Maju kena. Mundur kena.


"Ya, dia pewaris tunggal bisnis orang tuanya. Papanya sudah meninggal. Lalu mamanya sudah ingin pensiun juga mengurus bisnis. Cuma Edward agak susah diatur. Awalnya dia menolak warisan bisnis besar ini.


Tante Amelia sudah cukup sakit kepala mikirin Edward. Terakhir Edward bilang dia mau kabur ke Paris karena nggak mau dijodohkan. Edward bilang nggak akan mau menikah.


Edward punya sedikit trauma saat jatuh cinta pertama kalo dulu. Gadis yang ia pikir juga menyukainya ternyata hanya mendekatinya karena uang. Sejak saat itu Edward sulit percaya pada gadis manapun.


Dia memang keras kepala, tapi soal perasaan hatinya cukup dalam. Kalau dia belum mengaku soal kekayaannya di depan Kalula, mungkin Edward sedang mengujinya. Kamu bilang tadi Kalula polos, kan? Ya, Edward mungkin serius menyukainya sampai berbohong begini."

__ADS_1


Suara penjelasan dari Seira membuat Edward termenung.


Oke, Kalula yang polos dan selama ini bernasib malang akhirnya ditemukan pangeran kaya. Edo membatin dengan tidak rela.


Hening. Kata-kata Seira begitu menohoknya. Sebagai cowok biasa, bahkan bisa dikategorikan miskin; tentu cerita Seira soal seberapa kaya Edward membuat Edo kesal.


Oke. Edward lebih kaya. Edward lebih tampan. Tapi aku...?


Suara hati kecil Edo merasa telah dijahati Edward. Merasa Edward telah merebut Kalula darinya. 


"Do, aku perhatikan diam-diam Kalula ngikutin semua aktifitas aku di sosial media. Lalu aku stalk akun dia. Eh, dikunci akunnya. Tapi aku coba follow dia dan diterima.


Kalula cantik, Do. Dia anggun, senyumnya manis. Selera Edward lah pokoknya. Edward bakal jagain dia, kok.


Edward satu-satunya sepupuku yang kukenal dengan baik dan akrab. Aku tahu begitu dia jatuh cinta, pasti dia serius." Suara Seira terdengar tanpa ragu sedikit pun.


Edo masih diam. Sampai akhirnya tangan Aeira bergerak menyentuhnya, baru ia bersuaha menolak.


Tapi Seira bukan gadis yang gampang menyerah pada penolakan. Ia mencoba menggoda Edo sekali lagi di atas ranjang tidurnya sendiri.


"Do, lupakan Kalula. Ada aku, Do. Ada aku. Dari kemarin kamu anggap aku apa? Ayolah." Seira tak bisa menahan lagi insting gadis liarnya.


Edo terdorong dan merebahlah ia di kasur empuk itu. Seira duduk di atasnya dengan tatapan menggoda.


"Sei, please. No! No, Seira! Aku belum pernah berdekatan bahkan menyentuh wanita seperti ini sebelumnya." Edo masih berusaha bertahan.


Seira seolah tak mendengar. Ia langsung memeluk Edo dengan gerakan yang tak bisa ditolak.


"Do, malam ini saja. Lupakan Kalula..."


Apakah Edo tahan dengan godaan berat itu? Atau Seira yang menang? Yang jelas malam yang sudah menjelang pagi itu berlangsung panas.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2