
Kalula membaca notifikasi pesan dari Edo tapi ia tidak membukanya. Ia abaikan begitu saja. Ia justru memasukkan kembali ponsel itu ke dalam kantong celananya.
Ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan sekarang.
Kebohongan Edward dan semua keganjilan-keganjilan ini akan ia ungkap. Pokoknya Kalula akan mencari tahu sendiri. Ia sudah bertekad.
Dan ketika beberapa menit lalu ia melihat Edward tampak berbincang dengan Dika-sang manager cafe, Kalula tentu makin menaruh curiga.
Kalau dipikir-pikir sejak awal memang Dika itu seperti takut-takut kalau berbicara dengan Edward. Ini kan hal yang tidak masuk akal sebenarnya. Tapi Kalula baru sadar.
Edward kan bawahannya. Dia cuma barista. Sedangkan Dika adalah manager cafe.
Sering kali kalau ada apa-apa Dika ini diam-diam memanggil Edward. Kalula pikir kemarin-kemarin hanya untuk bicara masalah pekerjaan. Tapi setelah ia sadari sepertinya tidak.
Gesture Dika terlalu kentara kalau Kalula lebih jeli mengamati.
Sama seperti ketika mamanya datang ke sini dan mengamuk, Edward yang mengambil alih kendali. Dan Dika seperti mengangguk-manggut saja dengan apa yang Edward perintahkan.
Di ruangan Dika itu Edward masuk. Pintunya tidak ditutup rapat. Kalula mengendap-endap menguping dari balik tembok.
"Dik, aku ngantuk. Semalam aku kurang tidur. Aku ada urusan penting. Aku pulang lewat tengah malam lalu setelahnya nggak bisa tidur. Aku mau tidur di ruanganmu, ya.
Aku mau tidur di sofa. Jangan biarkan yang lain masuk. Mana kuncinya biar kukunci dari dalam. Aku butuh 3 sampai 4 jam, lah."
Lalu suara Edward menghilang diganti dengan suara Dika yang mengiyakan. Dika keluar dari ruangan dan pintu itu ditutup kembali.
Kalula langsung beringsut ke pinggir dan berjalan menjauh dari ruangan Dika.
Dalam perjalanan menuju ke arah area service cafe, Kalula menatap ke depan dengan wajah menegang.
"Oke. Kalau Edward merintah-merintah Pak Dika seenaknya begitu, berarti mungkin saja kan cafe ini miliknya?" Kalula lalu menghentikan langkahnya. Ingatannya terbang kembali pada beberapa bulan lalu ketika ia terlambat wawancara dan menabrak Edward.
Edward tampak berpakaian rapi hari itu dan Kalula percaya saja ketika ia bilang ia juga habis wawancara kerja sebagai barista.
__ADS_1
"Astaga! Dia membohongiku sejak hari pertama," ucap Kalula dalam hati lalu lamunannya buyar ketika ada yang memanggilnya. Para pengunjung cafe sudah datang. Ia harus bekerja.
Tentu sambil bekerja Kalula sambil melamun. Hingga beberapa jam kemudian Edward datang dari belakang dengan wajah segar karena sepertinya habis cuci muka. Mungkin benar dia baru bangun tidur.
Kalula menunduk. Ia berusaha menghindari kontak mata dengan Edward. Ia tahu Edward mengantuk dan kurang tidur karena semalam menungguinya karena pintu kamarnya ia kunci.
Edward pasti mencemaskannya. Hatinya yang merasa marah karena Edward berbohong langsung luluh. Seolah-olah semua sikap manis dan perhatian Edward itu mampu menghapus semua kebohongannya. Entahlah, Kalula merasakan begitu.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Edward begitu berpapasan dengan Kalula yang ia lihat tampak pucat.
Kalula menggeleng lalu ia pura-pura sibuk bekerja lagi padahal pikirannya sudah kemana-mana.
Dan sepanjang hari ini sampai pulang kerja Kalula sudah begitu terlarut memikirkan Edward hingga ia lupa kalau Edo berusaha menghubunginya sejak tadi.
***
Ketika di Jakarta sana Kalula dan Edward pulang kerja, berarti di Tokyo sudah 2 jam lebih malam.
Seira terus menahan Edo yang ingin pulang ke asramanya. Bahkan gadis itu rela membantu mengerjakan tugas pengganti Edo dan terus merayunya agar menginap saja di rumahnya.
Dia nggak pernah ngelarang aku membawa teman buat menginap. Kalau kamu pulang dan sendirian, nanti malah banyak pikiran," ucap Seira dengan santai.
Edo hanya menunduk saja. Layar televisi berukuran besar di depannya tampak menyala, dari tadi menayangkan sebuah series yang Seira pilih untuk mereka tonton.
Sebenarnya Edo hanya gelisah karena sejak menginjakkan kaki di rumah ini, matanya tidak berhenti-henti menatap notifikasi ponselnya. Ia berharap Kalula segera membalas pesannya, namun tetap tidak ada balasan.
Kalau Edo pulang ke asrama, ia kan bisa kembali mencoba menelepon Kalula dengan leluasa. Kalau di sini Seira selalu mencoba mencegahnya dan mengalihkan perhatiannya dari Kalula.
Bagaimanapun sampai sekarang status Kalula masih pacarnya.
"Do, ayolah. Kenapa, sih? Udahlah lupain Kalula. Kamu mikirin dia terus sama hidup kamu di sini kacau. Pikirin diri kamu sendiri dulu, Do. Paling Kalula juga udah senang-senang sama Edward di Jakarta."
Seira berkata dengan santainya sambil kepalanya bersandar pada bahu Edo. Mereka duduk di karpet tebal dengan sofa nyaman di belakang mereka untuk bersandar.
__ADS_1
Seira memang nyaman dengan physical touch seperti ini. Edo kadang menganggap ini terlalu berlebihan dilakukan oleh teman ke teman. Tapi Edo lelaki biasa. Kadang tingkah Seira yang agak berlebihan memacu sesuatu yang tak terbendung dari dirinya. Ia lelaki normal. Tidak munafik, kadang Edo menyukai kedekatan ini.
Padahal pada Kalula yang merupakan pacarnya sendiri pun ia sangat menjaga jarak. Edo tak pernah sedekat ini secara fisik. Tapi Seira...
Edo yang stress karena studi, pertengkaran dengan Kalula yang tak ada ujungnya diperlakukan begini oleh Seira. Tentu egonya sebagai lelaki merasa senang. Ada yang peduli dan nyaman di dekatnya.
Edo takut juga kelepasan berbuat terlalu jauh. Tapi Seira memancing memancing terus.
"Sei, stop! Please, no. Kita kayaknya udah terlalu berlebihan." Edo mulai berusaha melepaskan diri dari Seira yang memeluknya makin kencang.
Mereka pun duduk dengan tegak dan kaku. Seira menatap Edo dengan kecewa. Edo adalah pria pertama yang menolaknya, yang tak gugur ia goda.
Seira dibuat makin penasaran. Makin susah didapatkan, makin ia gigih ingin menaklukkan.
"Do? Nggak usah terlalu naif. Paling di Jakarta sana Kalula sama Edward juga sudah sedekat aku sama kamu. Mungkin lebih bahkan. Nggak salah kok kita begini.
Aku kesepian dan kamu butuh orang untuk menenangkan. Udahlah. Aku nyaman sama kamu, Do. Udah saatnya kamu lepaskan Kalula. Kamu punya aku di sini." Seira tampak gemas.
Edo membuang muka.
Tidak! Tidak semudah itu! Kalula sudah terlalu lama bersamanya. Tidak mudah untuk melepaskannya.
Dalam hatinya ada masih ada setitik harapan. Ia ingin hubungannya dengan Kalula baik dan akur lagi.
"Aku pulang, Sei. Thanks buat semuanya." Edo langsung mengambil ransel dan ponselnya yang tergeletak di meja.
Seira hanya bisa diam dengan wajah kesal. Didengarnya samar-samar suara langkah kaki Edo berjalan menuruni anak tangga rumahnya.
Seira langsung mengambil ponselnya. Ia mengetikkan pesan singkat pada Edward.
[[ "Edo susah banget ditaklukkan. Aku nggak ingin nyerah tapi kayaknya dia memang masih sesayang itu dengan Kalula.
Ed, di luar urusan mau bantu kamu sebagai sepupu, sepertinya aku jatuh cinta sungguhan pada Edo. I want him. What should I do?" ]]
__ADS_1
Bersambung ...