Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
17. Dear, Seira


__ADS_3

Edward menatap Kalula dengan kecewa. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres di sini. Kenapa tiba-tiba Kalula terburu-buru ingin mencari tempat kost?


"Tadi Edo nelpon kamu ya waktu aku masih ada urusan di bawah?" tanya Edward dengan tatapan menyelidik.


Kalula tidak menjawab tapi ia hanya menunduk. Sumpit di tangannya masih ia mainkan untuk menutupi kacanggungan ini. Makanan enak di depannya tampak tak membuatnya berselera.


Edward meletakkan sumpitnya dengan gerakan agak kasar. Ia emosi sekarang. Tetapi ia berusaha meredakamnya sendiri. Ia tak mau Kalula menyamakannya dengan Edo yang temperamen. Padahal sebenarnya sifat mereka kurang lebih sama. Sama-sama mudah emosi.


"Tadi petugas di bawah nanya soal parkir mobilku. Maksudku mobil sepupuku. Agak lama karena aku harus mindahin dulu. Tadi kamu bohong? Alasan kamu belum mandi bukan karena ketiduran, kan?" Edward mendesak.


Kalula masih diam menunduk. Ia merasa bersalah karena membohongi Edward.


"Kamu bohong kan, Kal? Edo nelpon kamu? Dia bilang apa?" Edward menjadi makin posesif. Ia tahu sikapnya berlebihan pada Kalula, tetapi ia benar-benar tak tahan lagi.


Kemarin ia merasa menang. Sekarang tiba-tiba ia terbantai kalah begini.


"Iya, Ed. Sorry, aku..., aku minta maaf. Mama nelpon Edo. Dia jelasin semuanya soal salah paham ini dan dia jujur soal alasan aku kabur dari rumah. Edo minta maaf. Dia nggak tahu. Dia nyesel. Terus kita baikan." Kalula menjelaskan pelan-pelan.


Edward menunduk. Sebenarnya ia kesal. Kalula makin merasa bersalah. Padahal kalau ia mau berpikir, sebenarnya Edward tak berhak marah soal ini. Dia hanya teman, kan? Kalula tak sadar, ia sudah terjerat perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Edward tanpa sadar mengikatnya.


"Aku bohong soal aku tinggal di sini karena aku tahu pasti dia marah. Aku bilang kita tinggal rame-rame, nggak cuma sama kamu. Ada temen cewek juga yang kerja di cafe. Aku bilang gitu.


Edo nyuruh aku keluar dari sini untuk mencari tempat kost. Aku bilang habis gajian. Minggu depan, kan? Tapi kalau bisa secepatnya, kayaknya lebih baik. Kalau sampai ada yang tahu kita tinggal satu apartemen begini, pasti orang-orang juga akan salah paham soal kita.


Aku akan kembaliin uangnya secepatnya, Ed. Aku akan cari tempat kost paling murah dekat cafe. Biar aku ngga perlu repot masalah transport untuk kerja. Biar aku bisa jalan kaki," ucap Kalula lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap Edward dengan tatapan memohon.


Edward jelas luluh dengan tatapan Kalula ini. Mata Kalula adalah dunia barunya.


Edward jelas punya uang. Uangnya banyak. Jangankan untuk menyewa tempat kost sebulan, untuk membeli beberapa unit kost saja ia mampu.


"Aku nggak punya uang, Kal. Cuma cukup untuk biaya makan sampai gajian. Sudahlah kamu tinggal di sini dulu sementara. Ya?

__ADS_1


Lagian tinggal seminggu lagi, kok. Nanti aku temenin nyari-nyari tempat kost, ya. Siapa tahu bisa dibooking dan mau dibayar awal bulan. Oke?" ucap Edward membujuk.


Sebenarnya Edward tidak tulus-tulus amat membantu Kalula mencari tempat kost. Tujuannya ikut mencarikan adalah biar ia tahu gadis ini tinggal di mana. Agar ia nanti bisa mencari-cari alasan untuk datang.


Yang jelas Edward melakukannya karena tidak mau kehilangan jejak Kalula.


"Makasih ya, Ed. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus gimana," ucap Kalula lalu dengan tulus tangannya memegang tangan Edward.


Dengan satu sentuhan itu, Edward luluh lagi. Ia mengangguk dan tersenyum. Emosinya yang tadi hampir meledak langsung hilang begitu saja.


Mereka pun melanjutkan makan malam lagi seperti tak ada kejadian apa-apa. Hanya saja Kalula lebih ceria sekarang. Ternyata yang membuatnya murung sejak kemarin bukan masalahnya dengan mamanya saja, tapi juga soal ia yang bertengkar dengan Edo.


Edward mencoba merelakan. Oke, yang penting ia masih menang secara jarak. Seminggu ini ia akan intens dekat-dekat dengan Kalula. Edo yang jauh di Tokyo sana kalah soal ini. Jangankan dekat, menyentuh pun tidak bisa.


***


Malamnya Kalula menolak waktu Edward mengajaknya menonton film di ruang tengah lagi. Sebenarnya lebih karena ia takut ketiduran dan bersandar lagi di pundak kokoh pria tampan itu.


"Aku ngantuk, Ed. Aku tidur dulu, ya. Besok kalau aku bangun pagi, aku bangunin kamu. Kita lari pagi lagi. Oke?" ucap Kalula dengan ceria.


Edward mengangguk dan tersenyum, lalu ia berjalan masuk ke kamarnya dengan tidak bersemangat.


Yah, tidak bisa lagi ia melihat lesung pipi manis Kalula, alis tebal, dan rambutnya yang tergerai indah. Pemandangan yang selalu ia pandangi ketika Kalula sudah tidur.


Mungkin kelakuannya ini agak freak dan tak sopan, tapi ia memang suka melihat Kalula terlelap tidur. Walaupun kadang lekuk tubuh indah gadis itu menggodanya juga. Tapi Edward tidak mau menggila. Kalau ia salah langkah, Kalula akan lepas. Ia tetap ingin terlihat seperti malaikat di depan Kalula.


Edward membuka laptopnya karena belum bisa tidur. Ia mencoba mengecek laporan bisnis keluarga yang mamanya serahkan tanggung jawabnya padanya. Aman saja, tak ada masalah.


Edward mulai bosan tapi pikiran soal Kalula yang sudah baikan dengan Edo mengganggu ketenangannya. Ia sebal, kesal, dan ingin marah. Tapi kemudian sadar, sejak awal Kalula memang bukan miliknya.


Dahinya mengernyit. Ia lalu mencoba mengingat, apa saja sih informasi soal Edo yang pernah Kalula bilang padanya?

__ADS_1


Soal beasiswa Edo, Edward tak ingat perusahaan sponsor atau lembaga yang mendanai Edo berangkat ke Tokyo itu siapa. Tapi ia ingat di universitas mana anak itu kuliah.


Tangan Edward langsung bergerak mengetikkan kata kunci nama kampus itu di internet. Dan muncullah apa yang ia cari.


Tak banyak yang ia bisa gali. Soal data mahasiswa tentu tertutup dan tidak bisa ia akses. Padahal rencananya ia mau menyelidiki soal Edo.


Mau menyelidiki anak itu lewat sosial media tentu tidak bisa. Kalula bilang Edo tak punya satu pun akun sosial media. Edo bilang main sosial media buang-buang waktu.


Edward melamun. Lewat web resmi kampus itu ia hanya bisa melihat profil universitas, fakultas-fakultasnya, gedung-gedungnya, dan akhirnya ia menyadari sesuatu.


"Tunggu, tunggu! Ini..." Edward langsung memelototi foto gedung kampus ini dengan lebih jeli. Ia merasa sepertinya pernah melihatnya, tapi di mana ya...


"Astaga! Seira! Ini kan kampus Seira!" seru Edward lalu ia segera meraih ponselnya dan membuka akun sosial medianya.


Seira Laksema adalah sepupunya. Mereka tumbuh besar dengan sangat dekat dari kecil. Tapi sayangnya mereka harus terpisah karena setelah lulus SMA orang tua Seira bercerai dan Seira ikut papanya pindah ke Jepang.


Beberapa kali Edward dan Seira masih sering berhubungan lewat chat atau saling mengomentari unggahan foto di sosial media. Ya, mereka memang sedekat itu karena menghabiskan waktu dari SD sampai SMA di sekolah yang sama.


Beberapa hari yang lalu ia melihat Seira mengunggah fotonya di depan gedung kampus ini.


Tangan Edward bergerak untuk mengecek foto itu dan ternyata benar! Postingan terakhir Seira adalah foto di depan gedung kampus ini


Edward tersenyum senang. Ia langsung mengirimkan pesan pribadi pada sepupunya itu.


[ "Seira, kamu kuliah di Waseda, kan? I need your help." ]


Edward mengeklik tombol 'send' dan tersenyum penuh kepicikan. Ia tahu sepotong kalimat pesannya itu akan dibalas Seira esok hari.


Edward tidur dengan lelap, memikirkan rencananya selanjutnya. Soal mamanya sudah beres. Kini tinggal mencari cara untuk menyingkirkan Edo dari hidup Kalula.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2