
Seolah ini adalah adegan menyayat hati dalam sebuah film, terdengar samar-samar suara lagu kenangan mereka di kepala masing-masing.
Kalula dan Edo sama-sama sadar, hubungan ini bukan hubungan biasa. Mereka tidak sedangkal itu. 5 tahun lebih bukan waktu yang singkat.
Tapi sekarang keadaan berubah. Dan usia hubungan 5 tahun itu tak cukup untuk membuat Kalula ingin mempertahankannya.
5 tahun dengan banyak kenangan manis sekaligus pahit. Apa gunanya 5 tahun kalau Edo yang belum satu tahun di Tokyo saja sudah membuatnya menangis berkali-kali.
Sudah... . Sudah saja...
"Iya, Do. Kita putus. Aku nggak dendam sama kamu. Nggak. Aku maafin kamu. Aku pun juga ada salah, kan? Kita sama-sama punya kesalahan masing-masing.
Memang kamu mau kita begini terus? Sedangkan kamu masih 4 tahun lagi dan baru kembali ke Jakarta. Aku optimis menyusul tahun depan pada awalnya. Tapi menilik kondisiku yang sekarang kacau begini, untuk bertahan hidup saja aku sudah bersyukur.
Kita putus baik-baik ya, Do. Kamu masih tetap bisa menganggap aku sebagai teman, sahabat, adik, atau apapun yang kamu mau."
Kalula sudah bicara panjang lebar tapi Edo belum menyahut satu patah kata pun.
Ia terdengar berusaha menyingkirkan suatu serak efek menangis yang tak bisa ditutup-tutupi lagi.
Ya, Edo jelas merasa kehilangan. Tapi ia juga tak mau menghalangi Kalula untuk pergi. Kasihan Kalula kalau harus bertahan dengan dirinya yang memang kelakuannya belum dewasa. Edo merasa begitu. Ya, ia belum dewasa, masih suka kekanakan dan pengendalian emosinya juga buruk.
Kalula berhak mendapatkan pria yang lebih baik darinya. Edward yang kaya raya itu misalnya...
Memikirkan nama Edward membuat Edo yang tangsinya hampir hilang jadi muncul lagi.
"Do? Jangan nangis, Do. Aku juga nggak mau kita begini. Kamu berharga banget buat hidup aku. Tapi aku nggak tahan dan capek sendiri curiga terus, cemas terus. Aku nggak kuat sama hubungan kita. Kita putus ya?" Suara Kalula benar-benar terdengar sedih.
Edo megangguk lalu ia bilang 'ya' dengan suara seraknya.
"Oke. Maafin aku ya, Kal. Oke, aku ngerti. Ya, aku ngerti."
Kata-kata yang keluar dari mulut Edo sangat kacau. Diulang-ulang saja kalimatnya yang terdengar menyedihkan di antara tangisannya.
"Aku masih menganggap kamu orang yang spesial, Do. Selamanya. Aku masih suka denger kabar dari kamu, cerita-cerita kamu. Soal itu kamu jangan berubah. Yang berubah cuma status kita.
Terus soal utang Mama Sastri, kamu rinci totalnya dan bilang ke aku ya, Do. Aku akan cici sebisa ak..."
"Nggak, Kal. Nggak usah. Soal utang itu urusanku sama mama kamu."
Tut...
__ADS_1
Lalu panggilan itu ditutup sepihak oleh Edo. Kalula menatap layar ponselnya dengan mata mengembang. Ia lalu menangis lagi.
Entah menangisi apa. Menangisi Edo? Menangisi hubungan mereka? Atau menangisi dirinya sendiri yang sudah tak mampu lagi mempertahankan Edo?
Dan malam itu Kalula menangis sendirian, meluapkan seluruh perasaanya. Edward entah sedang apa di rumah mamanya sana. Kalula hanya ingin memikirkan dirinya sendiri saja sekarang. Memikirkan patah hatinya.
Sesuatu yang sulit dipertahankan memang sebaiknya dilepaskan saja. Kalula tahu ia sekuat apa. Tidak semua hal harus ia perjuangkan sendiri.
"Aku capek, Do..."
Di sela-sela tangis sendirian yang menyakitkan ini Kalula menyebut nama itu dengan suara serak.
Ya, mereka sudah putus sekarang. Sepertinya sudah saatnya mengganti kontak 'My Edo' menjadi 'Edo' saja.
Kalula menatap layar ponselnya sambil menangis dam ketiduran di karpet. Kepalanya tersampir di sofa dengan menyedihkan. Matanya pasti bengkak saat bangun nanti.
***
Lalu di Tokyo yang zona waktunya 2 jam lebih cepat dibandingkan Jakarta.
Edo mengusap air matanya dengan lengan bajunya.
Suara Kalula yang lembut dan sabar membuatnya makin merasa bersalah.
Ya, Kalula terlalu baik untuknya. Kalula terlalu sempurna untuk ia sakiti.
Mimpi dan beasiswa Kalula ke Tokyo sudah ia rebut. Dan Kalula dengan berbesar hati merelakannya pergi. Lalu di Tokyo ia malah kacau begini.
Edo tak tahu harus mengeluh pada siapa. Orang tua ia tak punya. Om dan tantenya sudah melepasnya begitu ia lulus SMA. Yang ia punya cuma Kalula. Tapi Kalula bukan miliknya lagi sekarang.
Haruskah ia mengetuk pintu kamar teman-temannya dan menunjukkan semua keadaannya yang kacau ini? Ah, tapi tadi saja mereka tampak menghindarinya. Terlebih Beni dan Aldo. Setelah malam ini, Edo pun tak yakin mereka masih mau berteman dengannya.
Yang ia punya hanya Seira sekarang.
Dan seperti sebuah kebetulan, Seira menelponnya. Edo menatap layar ponsel yang sejak tadi masih ia genggam.
"Do? Kamu udah sampai asrama? Malam banget kamu pulang tadi. Kabarin dong, Do. Biar aku nggak cemas. Aku kirim pesan nggak kamu baca juga. Nggak kamu bales.
Do? Edo? Kok diam?" Suara Seira terdengar cemas.
Tapi suara cemas Seira justru membuat Edo merasa tenang. Edo merasa setidaknya ada yang peduli padanya.
__ADS_1
Ya, di kota yang asing ini setidaknya ia masih punya Seira.
"Seira, aku putus dari Kalula. Benar-benar putus. Barusan kita telponan." Suara Edo terdengar menyedihkan.
Hening. Seira mungkin terlalu syok untuk menanggapi ini. Tapi Edo bisa mendengar suara nafas Seira yang menderu cepat.
"D-do? Are you okay? Aku perlu ke sana? Aku jemput ya? Aku turun ke garasi sekarang."
Dan Edo bukannya mencegah Seira datang selarut ini, tapi ia malah mengiyakan.
"Oke...," jawabnya dengan suara yang masih lemas.
***
Seira sudah duduk dengan sabuk pengaman terpasang sempurna. Satu tangannya bertumpu pada setir mobil di depannya. Tangan yang satunya sibuk mengetik pesan.
[[ "Edward, Edo kedengarannya kacau. Aku akan datang menemuinya sekarang. Dia bilang barusan kalau dia dan Kalula putus. Mereka habis telponan. Kamu lagi sama Kalula?" ]]
Tanpa menunggu pesan itu dibalas oleh Edward, Seira langsung tanpa gas. Ke tempat Edo lah ia menuju.
Ketika Seira memelankan laju mobilnya, dilihatnya Edo masih mengenakan baju yang sama seperti tadi. Ransel yang sama masih di pundaknya, bedanya sekarang ransel itu terlihat lebih besar volume-nya.
Ya, Edo memasukkan pakaian ganti di ransel. Ia tahu Seira pasti akan mengajaknya pulang ke rumahnya.
Lagipula kalau Edo di asrama, ia hanya akan sendirian dan makin terpuruk. Aldo, Beni, Ajeng, dan Erina tidak peduli dengannya. Ya, begitulah isi pikirannya.
Padahal Edo hanya belum mencoba saja untuk bicara baik-baik dengan mereka. Egonya saja yang terlalu tinggi.
Seira menghentikan mobilnya dan turun. Ia menghampiri Edo yang berdiri dengan semua kekacauan yang tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.
"Do?" Seira kini hanya berjarak beberapa senti dari Edo. Bahkan tangannya sudah meraih tangan Edo.
Edo tidak berkata-kata tapi hanya berjalan maju memeluk Seira.
Ya, ia hanya butuh sebuah pelukan hangat untuk membuatnya tenang. Pelukan sebentar saja...
Sakura berguguran terhempas angin malam. Tangan Seira merangkul tubuh pria patah hati di depannya itu dengan erat.
"It's okay, Do. It's okay," bisiknya pelan.
Bersambung ...
__ADS_1