
Pasangan ibu dan anak itu nampaknya makin bersitegang.
"Ini cafe Mama. Memang kenapa Mama nggak boleh ke sini? Seharusnya Mama ya yang nanya sama kamu. Ngapain kamu pakai baju ini? Kamu kan seharusnya ke sini cuma beberapa kali saja untuk mengecek, tapi malah kerja di sini. Jadi barista lagi. Mau kamu itu apa sih, Edward?
Kamu selalu nolak kalau Mama menyuruh kamu pulang. Bilang lebih nyaman di apartemen lah, apa lah. Oke, Mama nggak ikut campur soal itu. Tapi apa ini?
Apa yang kamu sembunyikan di tempat ini sampai kamu menyeret Mama keluar?" ucap Amelia lalu kakinya bergerak untuk masuk ke dalam lagi.
Edward makin panik dan menggandeng tangan mamanya untuk berjalan ke arah luar.
"Kamu kenapa, sih? Kenapa Mama nggak boleh masuk? Kenapa? Kamu takut Mama melabrak gadis itu dan menjambak rambutnya atau menyeretnya keluar dari sini? Berani-beraninya dia mendekati kamu!" ucap Amelia Santono tanpa ba bi bu lagi.
Mata cokelat Edward langsung melotot. Ia melepaskan tangannya dari lengan mamanya dan menatap wanita itu dengan nanar.
"Mama tahu dari mana? Dika ngadu ke Mama?" tanya Edward yang langsung berkacak pinggang.
"Enggak. Mama tahu sendiri. Mama kirim orang ke sini. Kemarin waktu Mama nelpon dan nanya kamu di mana, kamu bilang lagi di cafe ini kan buat ngecek. Ya Mama kirim orang lah buat cek benar atau nggak.
Terus orangnya lapor ke Mama. Dia kirim foto kamu pakai seragam barista. Kamu kelihatan mesra sama gadis pelayan itu. Kalian dekat-dekat terus.
Kalian pulang bersama dan kamu bahkan bawa dia menginap di apartemen kamu! Kamu gila, ya! Jadi itu alasan kamu nggak mau tinggal di rumah lagi sama Mama?
Kamu bilang kamu nggak mau nikah dan nggak mau jatuh cinta lagi. Terus apa sekarang? Gadis itu kamu bawa menginap di apartemen? Kalau sampai orang-orang tahu dan rekan-rekan Mama tahu kamu tinggal serumah dengan gadis rendahan itu, maka hancurlah sudah nama baik Mama!
Mama nolak tawaran mereka buat jodohin kamu sama anaknya. Eh, kamu malah mengencani gadis tak jelas!" Amelia benar-benar tidak mau lagi berbasa-basi. Ia marah dan ia ingin putranya tahu kalau ia masih punya kuasa.
Edward menatap mamanya dengan amarah tertahan. Ia paling benci dimata-matai begini. Tapi bagaimanapun ini memang salah. Ia membawa Kalula tinggal bersamanya di apartemen. Itu bukan hal yang benar juga untuk dilakukan, terlepas apapun alasannya.
"Apa mau Mama sekarang?" tanya Edward yang sudah merasa sangat terpojok.
__ADS_1
"Mama mau ketemu gadis itu. Jangan tahan Mama!" ucap Amelia lalu ia masuk ke dalam cafe dengan berjalan cepat tanpa Edward bisa mencegah lagi.
Dan Dika yang berdiri di depan bos yang ia takuti itu langsung tahu apa tujuan Amelia masuk ke sini dan Edward berusaha mencegahnya sambil lari-lari.
"Kalula lagi izin ke belakang untuk nerima telepon penting. Katanya tadi mamanya nelpon," ucap Dika dengan keringat yang sudah sebesar biji jagung menempel di dahinya.
Edward melirik penuh kecurigaan pada manager cafe-nya itu. Dika menunduk takut.
"Ma, please. Kita keluar. Ke mobil Mama atau ke mana. Yang penting kita bicara. Berdua saja. Aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan di sini. Aku jelasin semua." Edward mulai bersikap lembut. Ia tahu mamanya akan luluh kalau ia begitu.
Edward lalu menatap mamanya dengan tatapan memohon. Dan ketika tangan kekarnya menggandeng tangan perempuan yang telah melahirkannya itu, Amelia luluh juga. Ia berjalan keluar mengikuti putranya.
***
Sementara di ruang ganti dan loker karyawan, Kalula tampak berjongkok dengan ponsel menempel di telinganya.
Kalula diam saja. Sejak tadi, ia hanya menjawab halo saja. Percakapan ini berlangsung sepihak. Mamanya sibuk minta maaf dan memohon padanya agar pulang.
Tentu hati Kalula tak semudah itu luluh. Setelah kemarin mamanya bilang hendak membuangnya ke tempat sampah saat bayi, hatinya masih sakit. Teramat sakit.
"Kal, Mama nggak enak pinjam Edo lagi. Kemarin dia udah transfer buat bayar kontrakan sama uang sekolah Karina. Sekarang utang Mama udah mau jatuh tempo. Mama sudah diteror rentenir.
Tolong lah, Kal. Kalau nggak mau pulang, setidaknya kirim uang." Dengan tanpa merasa berdosa, Sastri tetap memeras uang Kalula.
Kalula yang tadinya diam dan mencoba sabar langsung meradang.
Apa? Mamanya pinjam uang pada Edo? Bisa-bisanya! Dan Edo mentransfer uang? Lalu apa sekarang. Ia butuh uang lagi? Dada Kalula makin naik turun dan kesabarannya mulai habis.
"Mama pinjam uang ke Edo setelah Mama fitnah aku ke dia? Mama pikir aku nggak tahu? Edo marah sama aku dan ngatain aku murahan gara-gara Mama. Entah apa yang Mama bilang ke Edo. Mama nggak jelasin kenapa aku marah sama Mama sampai pergi dari rumah.
__ADS_1
Jangan harap aku memberikan satu peser pun uang ke Mama! Setelah semua itu, Edo dan ak bertengkar besar. Dan dia nggak hubungin aku lagi. Aku pikir hubungan kita udah selesai," ucap Kalula dengan emosional.
Air matanya menetes begitu saja tanpa sadar setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya.
'Hubungan kita udah selesai?'
Apa ini artinya ia sudah rela kalau Edo dan ia putus?
Kalula lalu mematikan panggilan itu tanpa sempat mendengar mamanya berteriak-teriak. Ia tak tahan. Kalula lalu mematikan ponselnya, dan entah kapan ia sanggup menyalakan benda itu lagi.
***
Lalu di dalam mobil, Amelia Santono melirik ke arah sopirnya yang mengangguk pamit dan menutup pintu mobil. Kini, tinggallah ia berdua saja dengan Edward di kursi penumpang.
"Oh, Mama sampai berganti mobil. Sejak kapan mama mau pakai mobil kantor selevel ini? Benar-benar niat ya Mama ingin menggerebekku seolah-olah aku melakukan kesalahan besar," ucap Edward menyindir.
Edward mengingkari kata-katanya yang membujuk mamanya dengan halus tadi. Sekarang bukannya bicara baik-baik, tapi ia makin menantang lagi mamanya untuk bertengkar. Ia malah mengucapkan kalimat pembuka dengan nada sesinis ini.
Amelia Santono melipat tangannya ke dada dan tertawa kecil. Ia tentu tak mau kalah berdebat dengan putranya.
"Membawa menginap gadis yang bukan siapa-siapamu di apartemen itu kesalahan besar, Ed. Keluarga kita terhormat," ucap Amelia.
Edward tertunduk, merasa di-skak matt. Ia lalu membuang muka menatap ke arah mobil-mobil lain yang terparkir dari jendela mobil ini.
"Ya, itu bukan hal yang bisa dibenarkan. Tapi gadis itu butuh tempat tinggal. Aku yang membawanya kabur dari rumah mamanya." Edward mengangkat wajahnya dan menatap mata mamanya dengan berani.
"A--apa?" Amelia makin syok saja. Selama pergi dari rumah, apa sih yang putranya lakukan?
Bersambung ...
__ADS_1