
"Dengerin apa lagi sih, Kal? Dia aja bohong sama identitasnya. Pasti niatnya jahat. Bisa-bisanya kamu mau diajak ikut tinggal di tempat dia." Edo terdengar kesal.
Jujur saja, ia tidak hanya kesal karena mencemaskan Kalula. Tapi ia juga cemburu.
"Do, Edward nggak bohong soal namanya, semua asli. Dia cuma sembunyikan identitas aslinya." Kalula berkata dengan nada lebih tenang.
Sebenarnya Kalula bingung juga mau menjelaskan dari mana soal Edward ini. Ia sendiri juga masih abu-abu. Edward belum ia tanya jadi belum ada pengakuan apa-apa. Jadi semua yang akan ia jelaskan pada Edo ya hanya berdasar pada dugaannya saja.
Edo diam beberapa saat. Berusaha mencerna apa maksud dari kata-kata Kalula.
"M--maksudnya?" tanyanya bingung.
"Ya, dia cuma bohong kalau dia cowok biasa. Maksudku dia pura-pura jadi barista. Kurasa cafe tempatku bekerja itu miliknya. Masih dugaanku, sih..."
Kalula menggantung kalimatnya, menunggu respon Edo. Jelas, mau sebertengkar apapun mereka kemarin, kedekatan yang sudah dijalin bertahun-tahun membuat Kalula merasa harus menceritakan ini pada Edo. Seolah hubungan mereka baik-baik saja layaknya dulu.
Padahal sekarang semua sudah berbeda. Mereka renggang. Dan Kalula tak sadar, semua kerenggangan hubungan mereka juga atas campur tangan Edward juga. Edward yang sedang mereka bicarakan sekarang ini.
"Dia pemilik cafe? Bukan barista?" Suara Edo terdengar makin lirih.
Sebagai sesama laki-laki jelas Edo minder. Ia bukan siapa-siapa, uang pas-pasan, bahkan cenderung kurang. Kuliah juga kacau begini. Terbayang lulus dengan mudah saja ia pesimis sekarang.
Lalu Edward? Oke, katanya dia pemilik cafe. Lalu apa?
"Ya, aku rasa begitu. Ceritanya panjang, Do. Singkatnya kemarin aku buka laci kamarnya untuk mencari sesuatu. Lalu aku lihat paspor, visa, ijazah kuliah, album foto.
Do, aku tahu sih aku lancang. Tapi aku penasaran. Dia ngakunya apartemen, mobil, semua punya sepupunya yang lagi kuliah di luar negeri dan dia suruh jagain aja.
Kurasa menilik dari riwayat perjalanannya di visa, album foto masa kecil dengan orang tua, Edward bukan cowok biasa. Bukan cuma itu aja. Aku jaga berusaha selidiki diam-diam di tempat kerja dan aku kaget karena kemarin baru sadar. Manager cafe aku kayak takut ke Edward. Kan nggak wajar. Iya, kan? Masak manager takut sama barista?
Aku nggak ngerti kenapa dia bohong soal itu. Mana udah hampir sebulan dia kerja sama aku jadi barista. Padahal ngapain juga. Dia udah kaya. Menurut kamu dia kenapa bohong ya, Do?
__ADS_1
Apa dia lagi bosen aja karena selalu hidup enak dari kecil? Terus iseng-iseng aja pengin ngerasain jadi orang biasa. Terus dia iseng kerja jadi barista, deh. Atau mungkin lagi penelitian? Tapi penelitian buat apa juga. Aneh, kan?"
Suara Kalula bercerita panjang lebar hanya ditanggapi Edo dengan gumaman saja.
Edo diam bukan karena malas mendengar cerita Kalula soal Edward. Tapi Edo diam karena ia menyadari satu hal.
Bukannya kebanyakan nonton film, tapi apa tujuan Edward menyamarkan kekayaannya kalau bukan untuk mendekati Kalula. Mungkin dia ingin gadis polos lugu yang tidak mengincarnya karena harta.
Hanya itu satu-satunya kemungkinan yang terbersit di kepala Edo, tapi ia tak menyampaikannya pada Kalula.
Kalau ia bilang dugaannya itu, maka habislah hubungan yang sudah di ujung tanduk ini.
Baguslah Kalula sepertinya belum sadar gelagat Edward ini mengarah kemana. Tapi Edo tetap cemas juga. Ia tahu cepat atau lambat Edward pasti akan mengaku dan mungkin menyatakan perasaannya pada Kalula. Seira bilang kan Edward suka pada Kal...
Arghhh!
Edo memijit-mijit pelipisnya. Kepalanya mendadak mau meledak.
Kenapa ia baru sadar?
Edo merasa kesal pada dirinya sendiri.
Seira saja kaya raya begitu. Jelas sepupunya pasti juga dari kalangan kaya. Edward jelas bukan orang biasa. Hadi dugaan Kalula 99% benar.
Edo masih mencoba mengontrol emosinya sendiri yang hampir meledak ini. Susah sekali untuk tetap tenang ternyata. Pikirannya sudah mengarah kemana-mana, membuatnya gelisah dan sulit fokus padahal Kalula sedang mengajaknya bicara.
Edo tiba-merasa takut...
Kalula gadis normal. Tentu kalau disuruh memilih cowok miskin macam Edo atau cowok kaya dan tampan macam Edward, pasti Edward-lah yang dipilih. Realistis saja.
Edo tahu ia akan kalah. Apalagi hubungan mereka juga tak baik-baik saja sejak kemarin. Kalula saja seperti sudah menyerah. Bahkan ia bilang pada mama Sastri kalau mereka sudah putus.
__ADS_1
"Do? Edo? Kamu dengar aku nggak?" Kalula memanggil-manggil nama Edo karena dari tadi ia tak menyahut.
"Eh, i--iya. Iya, Kal. Aku masih dengerin kamu, kok." Edo menjawab dengan nada sedih sekaligus marah yang ia tutup-tutupi.
"Gimana Do menurut kamu? Aku masih mencoba pura-pura nggak tahu sih soal ini. Aku belum nanya juga atau nyuruh dia jujur. Ya dia bohongin aku sih. Memang dia bohong. Tapi kan..."
"Tapi kan apa, Kal?" Edo langsung memotong pembicaraan.
Kalula diam saja. Hanya terdengar suaranya menghembuskan nafas panjang.
Iya, sih. Memang benar Edward bohong. Itu fakta yang tak bisa dibantah.
"Tapi dia kan baik sama aku, Do. Dia bantuin aku. Dia juga nggak pernah macam-macam kok selama aku numpang tinggal di apartemen dia. Edward itu gentelmen. Ah, pokoknya dia selalu menjadi penolong aku.
Dia yang tahu gimana Mama Sastri kasarin aku. Kalau nggak ada dia mungkin aku masih jadi bulan-bulanan di rumah itu. Kalau di depan kamu Mama Sastri kan pura-pura baik.
Di depan Edward kemarin dia pikir Edward akan diam aja aku digituin. Eh ternyata Edward pasang badan dan lindungi aku dari Mama. Dia juga yang ngasih solusi saat aku bingung. Pokoknya dia nggak jahat."
Kalula terus menceritakan sosok Edward yang ia gambarkan bak pahlawan baginya. Edo makin muak.
"Kal, oke dia baik. Tapi tetap aja dia bohongin kamu. Cowok yang baik nggak mungkin bohong!" Edo rupanya tak bisa menahan kesal lagi.
Ia jelas kesal karena dari tadi Kalula terus memuji Edward.
Kalula langsung diam mendengar nada suara Edo yang berubah.
"Oh, ya? Kamu bilang cowok yang baik nggak mungkin bohong, Do? Berarti kamu bukan cowok yang baik juga, dong? Sejak di Tokyo kamu banyak bohong sama aku soal Erina dan Seira." Kalula berkata dengan nada yang mendadak dingin.
Skakmat!
Edo langsung terpojok.
__ADS_1
Bersambung ...