Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
59. Rahasia Edo


__ADS_3

"Do? Are you okay?" Seira menatap Edo dengan matanya yang cantik memikat itu.


"Y--ya. Aku nggak papa." Edo berusaha denial dengan kondisinya yang tidak baik-baik saja.


Yang jelas seharian ini di antara pergantian jam kelas hanya Erina saja yang mencoba mengajaknya bicara dan membujuknya untuk minta maaf kepada semuanya.


Edo masih mempertahankan ego dan gengsinya yang setinggi langit itu. Tatapan sinis Beni membuatnya makin tidak mau membuang rasa gengsinya. Terlebih Aldo juga terus ikutan menatapnya dengan tatapan seolah memusuhi.


Jadinya bukannya menyelesaikan masalah dan kesalahpahaman dengan teman-temannya itu, tapi ia justru lari. Ia bilang pada induk semangnya di tempat asrama kalau ia akan menginap lagi malam ini.


Bukannya menghadapi masalah tapi malah kabur. Itulah Edo. Ia tidak sadar betapa pengecutnya ia sekarang.


Tentu saja Seira yang sangat welcome karena menyukainya. Gadis itu menerimanya dengan senang hati menginap di tempatnya lagi.


Edo sungguh bodoh dan menyangka tindakan kaburnya ini paling benar. Entah apa yang merasukinya hingga omongan Erina tadi ia lawan mentang-mentang sampai Erina ikut kesal padanya.


"Udahlah, Er. Ngapain nyuruh aku minta maaf. Aku nggak salah. Kan mereka juga yang nuduh aku dengan tuduhan yang nggak-nggak. Sekalian aja biar mereka puas. Aku nggak akan pulang lagi malam ini. Aku sudah bilang pada Yuki San kalau aku akan menginap di rumah teman."


"Do! Kamu kenapa, sih? Ya aku ngerti Seira bisa bantu kamu apa-apa kalau kamu ada masalah di sini. Tapi kamu harus ingat kamu berangkat dan berjuang bareng-bareng sama kita. Aku nggak sepolos itu ya, Do. Aku juga dengar dari anak-anak soal Seira itu kayak apa.


Hati-hati bergaul, Do. Jangan salah langkah. Kamu jauh dari keluarga atau siapa pun di sini. Keluargamu ya kita. Pihak sponsor angkat tangan kalau kamu kena masalah.


Sekarang terserah. Aku cuma berusaha semampunya menjadi ketua tim angkatan ini dengan mendamaikan kalian. Tapi kalau kamu menolak untuk dibantu ya sudah. Sekarang terserah kamu mau ngapain juga aku nggak peduli."


Dan kata-kata Erina itu tengiang-ngiang lagi sekarang begitu Edo berbohong soal teman-temannya di depan Seira.


"Seira itu baik. Setidaknya dia tidak asal menghakimi macam kalian." Dan itulah yang diucapkan Edo sebelum pergi tadi, diiringi tatapan teman-temannya yang lain.

__ADS_1


Edo hanya terlalu muda dan naif. Ia juga stress karena sadar kuliah di sini sulit tapi ia terlanjur terjebak. Tokyo itu mimpi Kalula. Bukan mimpinya. Ia saja yang terlalu memaksakan diri dan merasa mampu.


"Do, aku pikir kamu lagi chat sama Kalula lagi. Aku pikir dia bikin repot kamu lagi." Seira dengan cat kukunya yang mengkilat berkilauan duduk di samping Edo yang setengah melamun.


Edo agak menjaga jarak tapi sofa ini teramat sempit. Seira memahami gelagat Edo dan mengerlingkan matanya.


"Kenapa sih, Do? Kok menjauh. Kamu tahu kan kita sudah sedekat dan sejauh apa kemarin malam." Seira makin mendekat dan tangannya mulai berani menyentuh Edo di bagian yang tidak sepantasnya.


"Seira. Nggak, Sei. Jangan!" Dan Edo yang kemarin tergoda tanpa bisa menolak kini berhasil membangun benteng pertahanan.


"Kenapa?" Seira menatapnya dengan kecewa begitu Edo sedikit menampik tangannya.


Edo menggeleng dengan keringat dingin. Ia tahu kemarin benteng pertahanannya roboh. Tapi ia tak mau terulang lagi. Kepalanya menggeleng lagi kuat-kuat.


"Nggak gini, Sei. Kita nggak harus gini, kan? Aku di sini karena merasa nyaman sama kamu. Karena merasa cuma kamu yang ngerti kondisiku. Jangan terlalu jauh seperti kemarin. Aku tahu kamu cantik dan tidak ada yang berani nolak kamu. Aku nolak karena menjaga kamu. Please, kamu ngerti, kan?"


Suara Edo terdengar bergema sedikit. Meraka sedang berdua saja di ruangan yang sepi ini.


"Seira. Kamu nggak marah, kan?" Agak panik juga Edo menghadapi perubahan ekspresi wajah Seira.


Seira menggeleng. Oh, begini rasanya ditolak. Itulah yang ada di kepalanya. Tapi pernyataan tulus Edo barusan agak membuatnya tersanjung juga.


"Jadi kita ini apa, Do?" Tiba-tiba malah pertanyaan itu lagi yang terlontar.


Edo menatap Seira dengan perasaan bersalah. Ia tahu sekarang kesannya seperti ia yang memanfaatkan Seira. Seira menaruh hati, tapi Edo hanya ingin pelarian dari patah hati dan kesepian.


"Aku nggak tahu." Edo menjawab singkat.

__ADS_1


"Kamu bilang nyaman sama aku. Aku juga nyaman sama kamu. Tapi kamu sayang nggak sama aku?" Suara Seira terdengar biasa tapi nadanya seperti menuntut sesuatu.


Edo bingung mau menjawab apa? Rasanya terlalu dini untuk menyebut ini sebagai 'sayang.' Ah, Kalula saja butuh bertahun-tahun untuk membuatnya sayang. Edo baru mengenal Seira sebulan.


"Y--ya. Tapi sayang nggak harus diungkapkan dengan cara 'seperti itu', kan?" Edo menekan agak tajam saat menyebut kata 'seperti itu.'


Sungguh pergaulan yang bebas di luar nalar ini begitu tidak cocok dengan prinsip hidup Edo. Tapi namanya juga sedang labil, kemarin ia terpeleset saja. Dan Edo tahu untuk hal ini ia tak boleh terpeleset lagi dengan segala godaan kecantikan Seira yang membutakan pikirannya.


"Iya. Sorry. Kamu satu-satunya yang bilang itu ke aku. Sebelumnya mana ada yang menolak. Mereka justru hanya ingin 'itu.'


Do, aku tahu kamu baru putus. Terlalu cepat buat kamu untuk sesayang itu sama aku. Jangan menjauh ya, Do. Aku ingin kamu mencoba membuka diri dan perasaan kamu buat aku.


Studi kamu di sini 4 tahun, kan? Tahun depan kalau skripsiku lancar aku lulus. Waktu kita masih banyak. Aku bisa bilang papa biar aku nggak usah jadi kembali ke Jakarta dulu. Biar bareng sama kamu, sampai kamu lulus."


Edo bahkan sulit menelan ludahnya sendiri begitu mendengar kata-kata Seira. Kenapa gadis itu berharap sebanyak ini padanya? Edo jadi merasa terbebani.


"Seira, aku... Aku..."


"Aku apa?"


"Aku bahkan nggak tahu apa semester ini bisa lewat nggak? Tokyo terlalu berat buat aku. Sejujurnya aku juga takut teman-temanku melaporkan aku ke pihak sponsor." Suara Edo agak gemetar saat mengatakannya.


Oh, akhirnya di depan Seira ia ungkap semuanya. Soal teman-temannya yang salah paham. Soal Beni dan Aldo yang tahu kecurangannya. Dan Seira hanya bisa menyimak pengakuan Edo dengan mulut menganga.


"Ada pasal perjanjian antara pihak penerima beasiswa dan sponsor. Aku mungkin akan dipulangkan kalau Beni bilang ke Erina, lalu Erina menyampaikan ke pihak sponsor. Kecurangan ini pelanggaran berat." Edo berkata lemas.


Seira mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Oh, kisah Edo hingga sampai sini ternyata cukup berliku. Pantas ia stress.

__ADS_1


Edo menatap Seira dengan tatapan murung. Seira membalas dengan menyentuh pipinya...


Bersambung ...


__ADS_2