Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
60. Bertahanlah, Do!


__ADS_3

Hanya sentuhan tangan biasa di pipi. Rasanya tidak akan menimbulkan percikan apapun. Tapi Edo tetap menurunkan tangan Seira dari wajahnya.


"Kamu takut?" Seira berkata setengah berbisik. Wajah mereka begitu dekat.


Edo mengangguk.


"Semua ini berawal dari kesalahan. Kalula tentu kecewa saat tahu dia tidak lolos. Lebih kaget lagi saat tahu malah aku yang lolos. Lucu, kan? Aku jelas senang. Mimpi apa sih otakku yang pas-pasan ini lolos beasiswa.


Tapi tentu aku punya hati. Aku nggak mau rebut mimpi Kalula. Aku sudah bilang aku mundur aja. Tapi Kalula bilang nggak papa aku berangkat. Dia optimis bisa ikut program lagi dan lolos jadi tahun depan bisa nyusul.


Cuma menilik situasi yang sekarang, kalau Beni lapor soal kecurangan dan membawa-bawa nama Kalula, maka habislah sudah. Nama Kalula akan ikut kena black list. Nggak tahu lagi aku dia akan semarah apa.


Sejujurnya setelah putus kemarin aku sedikit lega juga walau ada perasaan tidak terima. Lega karena aku nggak nyakitin dia lagi. Nggak bikin dia sedih lagi. Mikirin dia dicintai cowok macam Edward yang lebih segalanya dibandingkan aku membuat aku senang juga walau sedikit cemburu."


Edo benar-benar menyebut nama Kalula berulang-ulang. Tekadnya untuk menjaga perasaan Seira sudah enyah entah kemana. Ia tak bisa menahan diri. Cerita soal Kalula dan hubungan mereka dulu selalu menyentuh perasaan terdalamnya.


Seira tampak menatap Edo dengan mata indahnya. Gadis itu makin bingung dengan Edo. Tapi yang jelas sekarang ia takut Edo meninggalkannya kembali ke Jakarta.


Mungkin perasaannya pada Edo terlalu dini dan dangkal untuk disebut 'cinta.' Tapi Seira tidak pernah merasakan perasaan yang sama pada pria lain selain Edo. Dan ia tak ingin melepas pria itu.


"Tapi memang ada bukti konkrit soal kecurangan? Beni kan cuma dengar obrolan kamu sama Kalula. Kalau pihak sponsor manggil kamu, kamu tinggal bilang itu fitnah. Kalau perlu kamu bisa minta tes ulang." Seira mengangkat bahunya. Bingung ia mau berkomentar apa.


Seira seolah mengentengkan persoalan ini. Mana Seira menyangka Kalula berperan sebesar ini pada hidup Edo hingga ia sampai ke Tokyo. Kalula bahkan berkorban dan rela mimpinya direbut.


"Nggak bisa, Sei. Aku bodoh soal materi, teori tertulis. Kalau diuji ulang aku jelas nggak lolos. Semua jawabanku nyontek Kalula. Sama persis. Kita cuma anggap itu hal konyol dulu. Mana kita menyangka kalau gini ujungnya. Aku malah dipilih dan berangkat." Edo tampak menjelaskan dengan frustasi.


Seira meringis sambil menggigit bibirnya.


"Tapi kok bisa pas interview akhir kamu yang lolos?" Seira masih tidak habis pikir.


Edo menarik nafas panjang lalu menjelaskan lagi. "Ya aku nggak ngerti. Soal kelancaran bahasa boleh lah aku diadu. Aku mungkin lebih siap dan kelihatan menyakinkan waktu itu. Sejujurnya aku bangun kesiangan dan asal saja berangkat nganter Kalula. Mana ada persiapan.


Kalula yang mati-matian belajar dan persiapan wawancara. Mungkin waktu itu dia terlalu gugup dan tegang. Atau entahlah bagaimana. Rumit, Seira.


Jangan berharap banyak soal kita. Tinggal tunggu mereka buka mulut aja dan semua berakhir. Aku balik lagi ke Jakarta menjadi sampah nggak berguna. Nama aku juga pasti dimasukkan black list.

__ADS_1


Sejujurnya aku juga nggak kuat di sini dan pengin nyerah. Sebulan ini tiap di kelas kepalaku serasa mau meledak. Otakku nggak nyampai, Sei. Aku bodoh. Kamu memandang aku terlalu tinggi. Nyatanya aku memang nggak sepintar itu."


Edo mengakhiri kalimat frustasinya dengan menyembunyikan kepalanya di antara pahanya yang meringkuk di sofa.


Oh, dalam keadaan begini Edo merindukan Kalula dan kata-kata lembut ajaibnya.


"Tenang, Do. Kamu bisa. Kamu cuma capek. Ini mimpi besar, Do. Besisiwa kamu full. Kurang apa lagi? Ini kesempatan langka untuk disia-siakan. Ribuan orang tertolak termasuk aku dan kamu lolos. Bertahan, Do!"


Tapi mana ada Kalula. Gadis pujaan yang kini sudah jadi mantan pacar itu bahkan tak menghubunginya, tak membalas pesannya. Rasanya Kalula sudah tak peduli lagi juga pada Edo dan hidupnya yang berubah total di Tokyo.


"Kamu memang nggak mau bertahan, Do. Kamu mau ninggalin aku? Ayo, Do berjuang lagi. Kamu mampu, kok. Sesulit apa sih mata kuliah kamu?" Seira tampak bersikeras.


Seira hanya tak paham kalau Edo sudah lelah dengan semuanya. Edo tak sekuat itu.


Edo hanya menggeleng. Sebenarnya mendapat nilai minimum saja sudah cukup untuk membuat beasiswanya aman sampai lulus. Edo bisa saja fokus. Tapi entahlah, pesimisme lebih menguasai dirinya.


"Kamu bakatnya apa? Apa cita-cita kamu? Bukannya setahuku setelah pendidikan bahasa selesai, kamu tes lagi kan untuk menentukan jurusan? Gampang kan kalau kamu memilih jurusan sesuai passion dan kemampuan kamu.


Satu semester aja, Do. Coba dulu. Nanti bujuk teman kamu. Siapa tadi namanya? Beni? Jelaskan semuanya biar dia ngerti kondisinya. Masak tega sih sesama berjuang bareng dari Jakarta terus dia akan nendang kamu pulang lagi dan melapor. Iya, kan?"


"Ya. Aku milih jurusan arsitek. Tapi tetap aja kan nilaiku semester ini harus cukup. Aku nggak yakin, Sei. Soal Beni, ya dia agak keras kepala anaknya. Aku nggak tahu dia tega atau nggak.


Walaupun akhirnya dia nggak bilang soal kecurangan ini, tapi tetap saja aku punya beban moral. Aku merasa menipu semua orang. Aku kayaknya balik Jakarta aja dan mundur. Mumpung belum terlalu jauh."


Edo rupanya benar-benar sudah putus asa.


"Do..."


Seira jelas panik. No! Ia mungkin bisa menyusul pulang ke Jakarta dan kembali tinggal bersama mamanya. Tapi kuliahnya kan belum selesai.


"Aku buntu, Sei..."


Suara Edo terdengar sangat lemah.


Seira merapatkan tubuhnya ke arah Edo dan merangkul pundaknya.

__ADS_1


"Kalau kamu dilaporkan dan beasiswa kamu dicabut, aku bisa minta papaku untuk menjadi penjamin kamu tinggal di Tokyo. Papa bisa urus semua. Dia kenal banyak orang kedutaan. Visa pelajar kamu bisa diubah menjadi visa kerja.


Kalau kamu merasa nggak sanggup kuliah, kamu bisa magang di kantor papa. Papaku arsitek. Mungkin kamu belum tahu. Tapi memang benar papa punya perusahaan di sini."


Ucapan Seira dan solusinya yang di luar nalar pikirannya itu membuat Edo terkesima.


Ya, dia bisa magang di kantor Papa Seira. Toh sebelumnya dia juga pernah magang di kantor arsitek. Ia tidak nol nol banget lah untuk memulai belajar. Tapi, bukankah ini kejauhan? Seira terlalu baik.


Kalau begini ceritanya Edo merasa ia akan banyak hutang budi. Ia tahu Seira tak minta imbalan apapun. Ia punya segalanya. Seira hanya butuh cinta darinya. Edo belum bisa memberikannya sepenuhnya. Cintanya masih nyangkut di Jakarta. Dalam hati seorang gadis bernama Kalula.


"Do, percaya sama aku. Balik ke Jakarta nggak akan buat kamu sukses. Kamu pasti repot karena ngurusin Kalula yang manja dan nggak bisa apa-apa sendiri. Belum lagi keluarganya, mama tirinya, adiknya.


Udahlah, om sama tante kamu pasti lebih bangga kalau mampu bertahan. Iya, kan? Jangan mikirin teman kamu. Kalian jaga hubungan baik kalian aja. Aku yakin mereka nggak alan tega." Suara Seira yang menenangkan sungguh merdu dan renyah. Apalagi ia mengatakannya tepat di belakang telinga Edo.


Edo yang sedikit punya harapan soal tawaran baik Seira jadi agak berubah raut wajahnya. Seira begitu merendahkan Kalula. Edo merasa sakit hati juga. Kalula tak seburuk itu. Kemarin ia minta tolong karena memang dari dulu kalau ada apa-apa selalu mengadu pada Edo.


"Kalula nggak segitu buruknya. Dia cuma..."


"Cuma apa?" Seira memotong. Nadanya terdengar cemburu.


Edo diam saja. Iya, Kalula memang bergantung padanya tanpa ia sadari. Edo yang membuatnya begitu karena 5 tahun itu begitu lama. Kalula tidak mengenal siapapun selain Edo untuk membagi keluh kesah dan kesusahan.


Kesannya memang manja dan selalu butuh bantuan. Tapi mengingat sekarang ada cowok kaya bernama Edward yang akan sia sedia di sampingnya membuat hati Edo sakit lagi.


"Oke. Aku akan coba bertahan." Edo berkata pelan.


Seira tersenyum dan memeluknya. Badannya mendadak kaku, tapi akhirnya ia balas lagi pelukan itu, tepat saat akhirnya ponselnya berbunyi.


Ya, akhirnya Kalula membalas pesannya...


Sampai detik ini Edo belum tahu kalau kemarin Seira sempat menerima telepon dari Kalula saat tidur. Entah apa jadinya kalau Edo tahu betapa pedasnya hinaan Seira terhadap Kalula.


Kapan ia akan tahu? Apa Kalula akan mengadu?


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2