Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
65. Sakit Parah


__ADS_3

Kalula berdiri dengan sepatunya yang lusuh karena sudah dipakai bertahun-tahun. Di depan rumah yang baginya mewah tapi bagi Amelia Santono terasa biasa saja itu ia menatap kagum dengan mematung.


Oh, Amelia Santono punya rumah yang lebih megah lagi dari yang ini. Lebih tepatnya di Bali. Jarang ia kunjungi, hingga sekarang ia pakai rumah itu untuk properti dan disewakan untuk syuting film.


"Kenapa kamu kaget begitu? Rumah ini tidak terlalu besar loh jika dibandingkan dengan rumah lain di kompleks ini. Ayo masuk. Saya tinggal sendirian jadi rumah kecil ini saja cukup." Amelia Santono mengamit tangan Kalula untuk masuk.


Rumah kecil? Padahal...


Kenapa para orang kaya sering begini? Merendah untuk meninggi.


Pintu sudah dibukakan pelayan khusus. Kalula cukup kaget saja melihat semua pegawai di rumah ini memakai seragam. Benar-benar macam di istana, atau ya hotel mewah.


Wah, bahkan dengan lantai yang ia injak pun Kalula kagum. Jelas rumah ini dirancang dengan mewah, mencerminkan kalau sang pemilik cukup berselera tinggi juga.


Ya, rumah ini dirancang oleh Andrew Laksema, alias papanya Seira. Mereka kan saudara dulunya. Walaupun sekarang mama kandung Seira alias adik Amelia Santono menceraikan pria bule itu. Hubungan mereka masih terjalin dengan cukup baik.


Tapi ini kan rumah besar? Kenapa Bu Amelia Santono mengatakan ini kecil? Kalula menggumam dalam hati. Oh, andai Bu Amelia Santono tahu rumahnya di gang sempit yang bahkan mungkin seukuran kamar mandi rumah ini. Bahkan kamar mandi di rumah ini saja lebih mewah dan besar.


Kalula menatap langit-langit yang megah bak kubah dalam istana kerajaan. Ia terpana. Lagi-lagi terpana. Biasanya rumah orang kaya macam ini kan hanya bisa ia lihat di dalam sinetron atau film saja. Sekarang ia melihat langsung. Dengan mata kepala sendiri. Ughhh! Sebut saja Kalula norak! Ya, memang ia norak.


Lahir, hidup, dan dibesarkan di lingkungan bawah membuat Kalula agak norak melihat kemewahan ini. Rumah mewah biasanya ia lewati saja dengan membatin seperti apa ya rupa di dalamnya. Ah, kali ini Kalula yang polos masuk dan menyaksikkan sendiri.


Dari ujung matanya, Amelia Santono tersenyum simpul.


Oh, jelas anak ini memang polos. Baru lihat rumah begini saja ia kagum bukan main.


"Bu Amelia bilang Ibu punya anak, kan? Dia tidak tinggal di  sini?" Kalula bertanya penasaran.

__ADS_1


Soal putranya ini Nyonya Amelia Santono selalu tertutup dan dari tadi terkesan menghindar dari pertanyaan Kalula. Entah betul atau perasaan Kalula saja. Ia merasa begitu.


"Ya, dulu dia tinggal di sini. Dulu. Setelah papanya meninggal, dia keluar dari rumah. Ya begitulah siklus punya anak laki-laki. Bertengkar, adu argumen, marah, kabur.


Saya sebenarnya bukan tipe pengatur. Tapi anak saya satu-satunya harapan saya. Satu-satunya yang saya punya. Mungkin saya terlalu keras, tapi semua saya lakukan demi masa depannya.


Kamu mungkin sudah dengar cerita dari Shanty kan soal kantor saya. Ya, saya membawahi berbagai macam bidang bisnis. Ribuan orang bergantung pada kami. Kalau saya sudah tidak bisa kerja dan mengurusnya lagi, mau bergantung pada siapa mereka?


Kembali ke poin tadi, anak saya membangkang. Tapi bagusnya akhir-akhir ini dia menjadi penurut dan membuat saya lega karena akhirnya dia berjanji mau disuruh meneruskan bisnis. Cuma tetap saja dia belum mau pulang. Dia tinggal di apartemen sendirian." Amelia Santono menjelaskan.


Kalau Kalula jeli, sebenarnya cerita dari Nyonya Amelia Santono itu bisa ditarik dan berujung pada satu nama : Edward.


Tapi Kalula terlalu polos untuk berprasangka. Bahkan ketika melewati tembok yang ada bekas gantungan pigura besar saja ia tak melihat keanehan di sana. Padahal begitu jelas kejanggalannya.


Ya, tembok itu awalnya memasang foto keluarga. Edward kecil, Nyonya Amelia Santono muda, dan papanya Edward yang kini sudah meninggal. Tapi karena Kalula mau ke sini, Nyonya Amelia Santono menyuruh pegawainya menyingkirkan foto besar yang mencolok itu.


Bahkan tadi waktu menjemput Kalula di rumah sakit, Amelia Santono berbisik lagi pada Shanty soal ini. "Jangan sampai ketahuan kalau saya pura-pura. Soal saya mamanya Edward, sembunyikan dulu."


Dan Shanty hanya mengangguk, walaupun hatinya memikirkan sedang apa Kalula sekarang? Bagaimana Nyonya Amelia Santono memperlakukannya? Shanty mencemaskan gadis muda yang baru menjadi temannya itu.


"Mbak Shanty udah ngasih tahu soal job desk saya jadi aspri. Tapi perlukah saya menginap di rumah ini, Bu Amelia?" Kalula bertanya canggung.


Ya iya sih ini rumah mewah. Tapi tetap saja Kalula sebenarnya ingin tinggal di tempat kost saja. Tempat sendiri yang diusahakan sendiri lebih membuat nyaman daripada rumah mewah orang lain.


"Iya. Kenapa? Saya maunya kamu tinggal di sini. Itu syarat kerja sama saya. Berubah pikiran?" Amelia Santono sedikit menggertak. Ia tahu gadis muda itu akan mudah ia kendalikan nantinya.


Kalula hanya menggeleng lalu mengangguk. Ia jelas tak mau berubah pikiran. Ini pekerjaan yang lumayan.

__ADS_1


"Dulu Shanty sempat beberapa bulan ikut tinggal di rumah ini, Kal. Dia oke-oke saja tuh. Waktu itu kebetulan saya lagi kambuh banget sakitnya. Jadi perlu teman juga yang menjaga 24 jam." Amelia Santono keceplosan membahas soal sakit. Sakit yang selama ini ia sembunyikan.


"Ibu Amelia sakit?" Kalula tampak terkejut. Mereka berdua berdiri di bawah tangga, dengan penampilan yang kontras.


Amelia Santono mendadak diam. Inilah alasannya memburu-buru Edward agar lekas menikah dan melanjutkan bisnis. Ya, ia takut umurnya tidak sampai karena penyakitnya makin parah.


Penyakit Amelia Santono cukup langka. Kalau dijelaskan pada orang awam menggunakan istilah medis, sepertinya mereka tidak akan paham. Yang jelas ia harus kontrol setiap bulan dan meminum obat sesuai resep dokter. Ibat itu tidak boleh terlewat ia minum atau kalau tidak kesehatannya akan sangat terganggu nantinya.


Sebenarnya Amelia Santono sudah melakukan opsi lain dengan mengunjungi banyak dokter lainnya bahkan sampai ke luar negeri untuk mencari second opinion soal penyakitnya ini. Tapi vonis mereka sama.


Soal ini Amelia tidak pernah cerita pada Edward. Selain karena waktu pertama kali mendapat vonis itu mereka sedang bertengkar hebat, Amelia juga melakukannya karena tidak ingin menambah beban pikiran putranya.


Singapura- Amerika, Jepang, Korea. Sebut saja negara yang katanya dokternya hebat-hebat. Semua mengeluarkan vonis yang sama.


Saat pertama kali mendengar vonisnya, Amelia tertunduk lemas. Ia tahu cita-citanya untuk hidup sampai tua dan punya cucu tidak akan mungkin terjadi kalau begini caranya.


Caranya menekan Edward dan dengan menyuruhnya untuk segera menikah menjodoh-jodohkannya malah menjadi bumerang sendiri. Baginya anak itu merasa dikekang dan diatur padahal dalam hati kecil Amelia ia hanya ingin mengejar waktu. Karena mau sebanyak apapun kekayaannya, dia tidak bisa membeli umur. Sedangkan umurnya digerogoti penyakit.


"Saya sakit parah, Kalula. Ini rahasia. Nanti saya cerita. Terlalu cepat untuk kamu ketahui sekarang." Amelia Santono menatap mata bening gadis itu.


Hah? Sakit parah?


Tiba-tiba rasa antusiasme Kalula untuk melihat kemewahan rumah ini lagi hilang begitu saja.


Nyonya Amelia Santono sakit parah?


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2