Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
51. Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

"Udah, Kal. Nggak usah nangis. Memang kamu nggak tahu diri. Seira benar. Jangan hubungi Edo lagi. Jangan minta tolong lagi ke dia. Dan soal Edward..."


Kalula yang berkata pada dirinya sendiri mengusap air matanya. Ia sampai tersedu-sedu dan tergugu.


"Ya, soal Edward jangan terlalu diambil hati. Seira bilang begitu karena ia kaya. Memang susah menjadi gadis miskin. Kamu akan selalu dianggap remeh. Buktikan kalau kamu tidak semurahan itu dan mau didekati Edward hanya karena dia kaya.


Jangan nangis terus, Kal. Ayo, kamu bisa..."


Kalula lalu menangis hingga ketiduran. Ia lupa jam berapa tepatnya.


Hidup yang begitu keras sudah biasa ia lalui. Diremehkan orang, dipandang sebelah mata, sudah biasa. Tapi dulu ia menghadapi semua itu dengan papanya dan Edo. Dua orang penting yang menguatkan hidupnya.


Sekarang sosok itu sudah tiada. Kalula terpuruk, tapi ia mencoba kuat.


"Sudahlah, Kal. Edo sudah punya Seira yan berkali-kali lipat lebih baik dalam segi apapun dibandingkan kamu yang cewek biasa. Lupakan hinaannya.


Soal Edo yang berubah gaya hidupnya, pergaulannya, itu bukan urusan kamu lagi. Stop mencemaskan semua hal. Tutup telinga dan biarkan hidupmu berjalan. Kamu hanya perlu memikirkan diri sendiri dan bahagia.


Rencanamu setelah ini hanya mencari pekerjaan baru agar bisa terhindar 100 % dari Edward. Setelah itu belajar lagi untuk daftar beasiswa angkatan berikutnya. Menabung yang banyak dan fokus. Oke?"


Dalam tidurnya bahkan Kalula masih terbawa mimpi. Dihina Seira membuatnya patah. Ia menguatkan mentalnya sendiri dengan berusaha menganggap semua baik-baik saja.


Patah sendiri, menyemangati diri untuk bangkit juga sendirian.


Kalula tertidur dengan sisa-sisa kesedihan di tempat yang asing ini tanpa ia tahu kalau di apartemennya, Edward setengah mati memikirkannya.


Pria itu mondar-mandir tanpa bisa memejamkan mata.


Kontak Kalula sudah terpampang di ponselnya sejak sore. Tapi tombol 'panggil' rasanya enggan ia tekan. Ia bingung dan takut Kalula makin menghindarinya.


Informasi dari Dika juga hanya sepotong saja. Kalula pergi menyeret koper setelah diberi tahu kalau gajinya belum bisa turun sementara ini.


"Apa jangan-jangan Kalula sudah curiga ya kalau gajinya sengaja kutahan biar dia menghubungi aku? Lalu dia marah dan tidak mau minta bantuan. Arghhh! Apa aku salah strategi?" Edward mondar-mandir dengan ponsel di genggamannya.


***


Pagi harinya.


Drttt! Drttt!

__ADS_1


Ponsel Kalula masih tersambung pada kotak pengisian data saat pagi itu Edward menelponnya. Jelas panggilan itu tak terangkat karena Kalula tidak sedang di kamar.


Kalula sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri karena sejak semalam tidak sempat mandi. Sementara itu Shanty menyiapkan sarapan untuk mereka.


Shanty sangat baik dan ramah. Ia malah senang ada Kalula karena ia jadi punya teman. Dari bangun tidur mereka terus mengobrol.


Shanty menanyakan pekerjaan Kalula dan cerita basa-basi lain. Kalula menerima sarapan dengan tak enak hati tapi merasa bersyukur juga. Ia kemudian bilang alasannya telat ke sini kemarin karena ada masalah dengan gajinya.


Dengan rambut yang masih agak basah, Kalula sudah berpakaian rapi. Ia menikmati sarapan di meja makan rumah ibu kost-nya yang baik hati itu.


"Kok bisa, Kal? Harusnya nggak usah nunggu buat rekening baru, dong. Misal gagal transfer atau ada kendala teknis, harusnya pihak kantor ngasih kompensasi. Apalagi karyawannya butuh. Harusnya bisa aja loh kamu maksa minta cash." Shanty malah tampak kesal mendengar penjelasan Kalula.


Kalula hanya tersenyum tipis.


"Nggak berani saya, Mbak. Sudah ngomong baik-baik tapi kata manager-nya nggak bisa. Yaudah. Saya takut protes-protes. Baru sebulan saya kerja di situ. Takut dipecat, Mbak. Cari kerja susah. Apalagi saya cuma tamat SMA." Kalula berucap pelan.


Shanty hanya mengangguk-angguk sambil mengunyah. Senang ia karena pagi ini tak mual-mual.


"Kantor aku ada lowongan loh, Kal. Aku bisa kasih kamu rekomndasi kalau mau. Nggak perlu lulusan tinggi-tinggi. Yang penting kamu siap kerja, tahan banting, nggak cengeng, pintar beradaptasi. Minat?" tanya Shanty.


Kalula menatap Shanty sambil mengangguk cepat tanpa pikir panjang.


Oh, andai ia tahu lowongan pekerjaannya adalah menjadi asisten pribadi Nyonya Amelia Santono alias mama Edward yang terkenal galak dan judes itu.


"Iya. Aku dulu aja pas diterima kerja juga baru lulus SMA. Dulu mama aku belum punya biaya buat daftarkan aku kuliah. Waktu itu mendiang papaku lagi sakit keras, abis kena PHK. Ancur-ancuran deh ekonomi keluarga.


Nah, aku memutuskan cari kerja dan dapat deh. Setahun kerja kontrakku langsung diperpanjang. Aku bahkan didaftarkan kuliah dan dibiayai oleh bosku. Namanya Bu Amelia Santono. Baik banget dia, Kal.


Waktu aku bilang mau resign, dia kehilangan aku banget karena 5 tahun ini sudah nyaman sama kerjaku. Dia agak susah sama orang baru soalnya. Sebelum aku ada 7 kandidat lain yang baru seminggu sudah nangis-nangis nggak kuat dan minta resign.


Ya, Bu Amelia Santono lumayan keras dan galak sih kalau soal pekerjaan. Tapi kalau dia udah tahu kinerja kita bagus, dia bakalan baik, kok. Serius. Ya walau nggak semua orang kuat sih diperlakukan sekeras itu.


Tugas kamu cuma ikut dia kemana-mana. Libur susah. Bahkan Minggu punya kamu bisa ditelpon jam berapapun untuk nemenin dia ke acara. Kadang acara formal, kadang pesta sosialita, kadang karena sekedar sedang kesepian saja dia minta ditemani ke salon.


Lucu sih. Cuma ya itu perintahnya kadang di luar nalar. Kalau minta apa-apa harus cepat, tepat, dan benar. Dia cukup perfeksionis. Masih minat setelah aku ceritain panjang lebar begini?"


Oh, sungguh Shanty adalah wanita yang suka sekali bercerita. Kalula sejak tadi hanya menyimak sambil mengangguk-anggukkan kepala.


Terbayang di kepalanya Amelia Santono itu adalah bos wanita yang mirip seperti penyihir jahat. Galak, keras, tegas, dan menakutkan. Lady boss!

__ADS_1


Tapi bukankah lebih baik bekerja untuk penyihir jahat dan lepas dari Edward daripada tetap bertahan di cafe?


Kalau dari cerita Shanty, sepertinya progres menjadi asisten pribadi nyonya kaya itu cukup menjanjikan. Ia hanya butuh satu kata : tahan.


Kalula mengangguk dengan cepat. Ia sangat yakin. Seberapa galak sih nyonya kaya itu dibandingkan Mama Sastri? Kalula yakin ia pasti mampu.


"Mbak, aku mau, Mbak. Aku bisa, kok. Aku nggak gampang nyerah anaknya. Mau segalak apapun boss-nya, aku akan tahan." Kalula menatap Shanty dengan sangat yakin.


Shanty tertawa.


"Serius? Nanti aku tanyain ke staff-nya, ya. Kamu siapin aja CV kamu. Oh, ya. Sebelum berangkat kerja nanti kamu tinggalin nomor telepon kamu, ya.


Oh ya, dan soal kamar kost kayaknya nanti malam kamu tidur di sini dulu, Kal. Mama aku belum bisa pulang. Tante aku makin parah kondisinya. Nggak papa, kan?


Malah mama aku bilang dia seneng aku ada temannya. Maklum, suami aku di luar kota juga. Takut aku kenapa-kenapa kalau malam sendirian. Nanti kamu pulang kerja biasanya jam berapa?" tanya Shanty.


"Aku shift siang, Mbak. Bentar lagi berangkat abis ini. Nanti pulang sekitar jam 5 atau 6." Kalula menjawab.


Sungguh tidak masalah ia belum dapat kamar kost dan tinggal di sini sementara. Malah ia senang Shanty ramah dan menawarinya kerja.


"Oh, oke. Kamu nggak usah beresin piring sarapan. Biar di sini aja. Aku senang pagi ini nggak mual-mual. Kamu siap-siap berangkat kerja aja, Kal. Tapi cari aku dulu sebelum berangkat, ya. Kita tukeran nomor handphone." Shanty tahu-tahu sudah berdiri dan mengemasi piring-piring.


Kalula mengangguk.


***


Satu panggilan tak terjawab dari Edward.


Kalula mengernyitkan alis. Ada apa Edward menelpon? Ah, ternyata ada pesan yang belum sempat terbaca juga.


Kalula yang sudah siap berangkat kerja dengan tas terselempang di pundaknya itu berniat hendak mengecek pesan tapi sebuah suara jeritan membuatnya berlari cepat keluar kamar.


"Mbak Shanty!"


Kalula berteriak nyaring ketika melihat Shanty sudah terkapar di lantai teras. Dari ujung gaun rumahan selututnya mengalir darah segar.


Shanty tampak syok. Begitu pun Kalula.


Apa yang terjadi?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2