
Edward menatap mata sembab Kalula. Ia kehilangan kata-kata.
Kita ini apa?
Bagaimana ia harus merespon pertanyaan ini?
"Ed, aku tahu kamu orang baik. Tapi kurasa kamu terlalu baik sama aku. Kamu tahu semua hal soal hidupku karena aku cerita semua sama kamu. Soal orang tuaku, papaku, mama tiriku yang toxic, soal Edo. Semuanya.
Aku nggak pernah punya teman dekat laki-laki selain Edo. Sejak remaja duniaku hanya Edo, Edo, dan Edo saja isinya. Kamu teman lelaki pertama selain Edo yang sangat dekat denganku.
Aku nggak tahu apakah hubungan macam kita ini normal? Atau hanya aku saja yang nggak punya orang lain lagi untuk bercerita, jadi aku nyaman sama kamu?"
Kalula meluapkan semua kata-kata ini tanpa rencana. Ia juga kaget dengan dirinya sendiri. Tapi terlanjur sudah ia bicara. Sudahlah, mungkin ini saatnya untuk jujur.
Edward ternyata masih diam. Ia hanya menatap Kalula dengan tatapan bersalah.
"Ed, jawab. Aku habis bicara banyak hal dengan Edo sebelum memutuskan untuk putus semalam. Dia mengira aku gila karena tahu aku numpang menginap di apartemenmu. Edo ngira kamu jahat atau ada niat buruk sama aku.
Aku sudah jelaskan kalau kamu memang baik. Kamu menolong aku. Edo kayak..."
Kalula menggerak-gerakkan tangannya dengan ragu, seperti kehilangan kata-kata.
Edward benar-benar masih diam. Hanya matanya saja yang menatap Kalula tanpa berkedip.
Edward mungkin agak panik sekarang karena menyadari kepolosan Kalula telah berakhir. Kalula rupanya sudah menyadari soal perasaannya.
"Edo bilang nggak mungkin ada cowok yang sebegitunya baik pada seorang perempuan kalau dia nggak punya perasaan apa-apa.
Kamu begitu misterius. Selama kita kenal, semua hal yang kita obrolkan hanya soal aku. Aku buta banyak hal soal hidup kamu. Edo pikir aku sudah sejauh itu sama kamu sampai mengira aku selingkuh sama kamu.
Sekarang karena ucapan Edo semalam aku jadi sadar. Kita memang sudah sejauh ini, Ed. Kamu selalu memeluk, menenangkan, menolong, menghibur. Normalkah semua tindakan itu kalau kamu cuma anggap aku teman kerja? Jadi kita ini apa, Ed?"
Kalula lalu menatap Edward. Mata mereka bertemu.
Ah, mata cokelat itu. Mata yang selalu mengalihkan dunia Kalula.
"Kita..."
Lagi-lagi Edward hanya mampu berkata sepotong saja. Setelah patah hati dan kesulitan jatuh cinta lagi Edward jadi sukar mengungkapkan perasaan.
"Kita apa?" Kalula seolah menuntut.
__ADS_1
"Kita... . Aku bingung mau menyebut kita ini apa. Ya, aku suka sama kamu, Kal. Suka sejak pertama kali kita bertemu waktu kamu tidak sengaja menabrakku di cafe.
Ya, aku suka sama kamu. Lalu kita kenal makin dekat dan aku akhirnya tahu kamu punya Edo. Tapi aku malah makin suka. Aku cuma bingung mengatakan ini karena kemarin-kemarin kamu masih sama Edo.
Aku takut merusak semuanya. Jadi..."
Edward menatap Kalula dan tak tahan lagi untuk tak meraih tangan gadis itu.
Kalula agak tersentak juga. Ia hanya menatap tangannya sendiri yang kini sudah dipegang oleh Edward.
"Aku suka sama kamu. Aku merasa sayang. Dan aku pengin jagain kamu. Pengin mastiin kamu baik-baik aja, tersenyum tiap hari, semangat lagi menjalani hidup.
Kal, aku tahu ini mengejutkan. Apalagi kamu juga baru putus. Aku nggak mau membohongi perasaanku sendiri. Aku nggak minta apa-apa dari kamu. Aku cuma ingin kamu nggak menjauh setelah tahu semua perasaanku ini. Aku nggak nuntut apa-apa.
Aku nggak minta kamu balas perasaan aku yang sepihak ini. Aku nggak mau kamu merasa hutang budi karena telah kutolong lalu hubungan ini jadi canggung.
Please, kita kayak kemarin ya. Jangan menjauh. Pelan-pelan. Kamu nanti tahu sendiri gimana hati kamu. Aku cuma nggak pengin membohongi diri sendiri..."
Suara Edward benar-benar tulus dan membuat Kalula meleleh. Apalagi Edward makin menggenggam erat tangannya, seolah untuk makin meyakinkan dirinya.
Kalula mencoba menepis perasaan ini. Ia hanya takut terbawa perasaan karena habis patah hati saja. Tidak! Tidak boleh begini. Apalagi Edward masih menyembunyikan rahasianya yang lain. Yaitu soal identitasnya.
Edward menatap tangannya dengan sedikit gugup. Dengan posisi Edward yang duduk di bawah dan Kalula duduk di kursi, suasananya seperti Edward sedang melamar Kalula.
"Kamu terus bilang nggak mau membohongi diri kamu sendiri dan perasaan kamu. Tapi kamu masih membohongi aku soal identitas kamu. Sekarang jujur Ed. Aku kasih kamu kesempatan..."
Kalula berkata dengan nada serius.
Edward yang tadinya menunduk menatap tangan itu akhirnya mendongakkan kepalanya. Ditatapnya Kalula dengan tatapan kaget bercampur bingung.
Identitas? Maksudnya?
Ah! Jangan-jangan semalam Edo membongkar rahasianya pada Kalula. Tapi darimana Edo tahu soal dirinya? Oh! Jangan-jangan Edo tahu dari Seira!
Arghhh! Seira!
Ingin rasanya Edward bertanya pada Seira dan menelpon sepupunya itu sekarang. Tapi mau bagaimana, tidak bisa! Ada Kalula di depannya sekarang.
Edward merasa panik! Apalagi tatapan Kalula tampak seolah ingin menuntut jawaban dengan cepat.
"Ed? Jawab aku." Kalula tampak terus mendesak.
__ADS_1
Edward menunduk menatap karpet mahal apartemennya itu dengan gundah.
"Mmm, kamu tahu dari mana? Maksudnya identitasku? Dari Edo?" Edward bertanya dengan ragu.
Kalula lalu tertawa pelan. Ia kemudian menggeleng.
"Kamu nggak perlu tahu aku tahu dari mana. Yang jelas aku tahu ada yang kamu tutup-tutupi dari aku dan aku baru paham sekarang. Soal apartemen mewah ini, mobil yang kamu bilang milik sepupu kamu. Terlalu janggal, Ed.
Jadi kamu mau menjelaskan sekarang atau tidak?" Kalula lalu mengusap mata bengkaknya dan mencoba mengendalikan diri.
Entah patah hati semalam membuat hormon jenis apa yang berkecamuk di tubuhnya, hingga mempengaruhi otak dan mulutnya untuk mengoceh sebanyak ini.
Mungkin ia hanya ingin lepas dan butuh penjelasan. Saking banyaknya masalah bertubi-tubi datang dalam hidupnya membuatnya larut dan lupa, kalau cowok asing yang baru ia kenal kurang dari sebulan sudah terlalu jauh masuk ke dalam hidupnya, dan mungkin juga hatinya.
Tik tuk tik tuk!
Suara detik jam yang bergerak seolah menciptakan suasana yang makin mencekam. Seolah Kalula sedang menghitung mundur menanti Edward menjawab.
Edward masih diam. Wajahnya mendadak tegang.
Ya, ketegangan suasana ini melebihi ketegangan saat ia sedang berdebat dengan mamanya. Yang ini lebih menakutkan rasanya. Padahal yang ia hadapi hanya Kalula. Gadis berbadan mungil, berlesung pipi yang cantik menawan.
"Ed, yaudah lah kalau kamu belum siap ngomong. Soal perasaan kamu ke aku, aku nggak akan larang-larang. Itu hak kamu mau suka sama siapa aja, termasuk aku.
Kamu tahu kan aku baru putus dan masih bingung dengan hati dan perasaanku sendiri? Jadi please, biarin aku pergi dulu untuk menenangkan diri.
Hari ini gajian, kan? Aku akan menghubungi pemilik kost yang kita tengok waktu itu. Aku akan pindah secepat mungkin.
Terima kasih atas kebaikan kamu menampung aku di sini, Ed. Aku cuma mau kita berjarak dulu karena aku benar-benar bingung dengan semuanya. Semua perhatian dan kebaikan kamu sangat berarti buat aku."
Kalula mengatakan kalimat terakhirnya sebelum beranjak pergi meninggalkan Edward yang bersimpuh sendirian di rumah tengah apartemennya sendiri.
Jeglek!
Kalula menutup pintu kamar yang ia tempati itu perlahan. Edward hanya bisa menatap tanpa bisa mencegah atau berbuat apa-apa.
Kini ia hanya berdiri sambil mondar-mandir. Kemudian ia putuskan untuk kembali ke kamarnya dan menelpon Seira.
***
Bersambung ...
__ADS_1