Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
63. Teka-Teki di Kepala Edo


__ADS_3

"A--ada apa, Er?" tanya Edo agak terbata.


Edo masih duduk sambil menutup ranselnya sementara Erina berdiri tepat di sampingnya.


"Yuki San ulang tahun hari ini. Dia ingin merayakannya bersama anak-anak yang lainnya juga sambil makan malam. Aku tahu kamu akhir-akhir ini sibuk dengan Seira. Tapi tolonglah pulang malam ini, Do. Hargai undangan dari dia.


Pihak sponsor juga membebaskan kita kan mau pindah tempat tinggal sesuai mau kita setelah sebulan. Tapi aku sama anak-anak lain memutuskan untuk tetap tinggal di sana.


Bangunan asrama kecil milik Yuki San memang sudah tua dan tidak terlalu bagus lagi. Dengan harga yang sama kita bisa pindah ke tempat yang lebih baik. Tapi kita kasihan padanya. Dia sudah tua dan hidup sendirian. Hiburannya hanya menjadi ibu asuh kita.


Bangunan sebelah sudah setahun kosong dan tidak ada yang menyewa. Ya hitung-hitung kita membantu dia. Itu sih keputusan kita berempat. Kalau kamu ya terserah, tetap mau di sana atau tidak. Toh kita tahu tiap malam kamu nggak pulang. Kamu nginep di rumah Seira, kan?


Ya udah, Do. Aku mewakiki anak-anak cuma mau bilang itu aja," ucap Erina yang mengakhiri kalimatnya tanpa melihat ke arah Edo sedetik pun.


Dari tadi ketika bicara, Erina hanya menatap ke arah papan tulis, tidak mau ia melihat Edo secara langsung.


Mungkin di antara teman-teman yang lain Erina yang paling kecewa pada perubahan sikap Edo yang menjauh dari mereka. Ya, Erina sempat bilang kan kemarin kalau ia suka dekat-dekat dengan Edo karena Edo mirip mendiang kakaknya yang meninggal karena kecelakaan.


"Oke, Er. Thanks informasinya. Iya aku akan pulang." Edo menjawab singkat. Agak lega juga ia karena Erina mau bicara lagi dengannya.


Erina lalu mengangguk dan pergi diikuti Ajeng, Beni, dan Aldo.


Edo lalu berdiri sambil menyampirkan ranselnya di pundak. Ia berjalan mengikuti keempat temannya. Rencananya ia ikut mereka pulang berjalan kaki seperti biasa. Siapa tahu suasananya cair. Ya, Edo memutuskan untuk membuka diri lagi dan membuang sedikit demi sedikit ego yang bercokol di hatinya.


Tapi nampaknya rencana itu tak berjalan mulus. Begitu sampai di luar kelas, Seira sudah menyapanya sambil melambaikan tangan dengan wajah ceria.


"Edo!" seru gadis cantik itu.


Edo hanya bisa berdiri di tempat dengan canggung, terlebih ketika keempat temannya yang lain serempak menoleh padanya dengan tatapan yang entah apa artinya itu.


"Hai, kamu Beni ya yang semalam?" Seira langsung melangkah dengan percaya diri untuk menyapa Aldo.


Aldo menggeleng lalu menunjuk ke arah Beni yang sebenarnya.

__ADS_1


Oh, Seira sungguh gadis yang percaya diri. Ia langsung menepuk pundak Aldo, say sorry, lalu tertawa lepas. Kemudian ia menujuk Beni yang nyengir sambil merangkulnya sok akrab.


Edo hanya mengamati dari depan pintu. Ia tahu Beni pasti merasa gugup dipeluk Seira tiba-tiba begitu, tapi ia menyembunyikan wajah malunya dengan senyum sok asyik.


Ah, bilang saja ia senang Seira memeluknya. Edo tahu dan ingat betul bagaimana kemarin-kemarin Beni selalu bilang dan memuji betapa cantik dan kerennya Seira. Bahkan anak itu bilang Seira idolanya.


"Salam kenal ya, Ben. Oh ya kalian berdua siapa? Kayaknya kita belum sempat kenalan secara resmi, kan? Teman-temannya Edo kan teman-teman aku juga." Seira langsung mengulurkan tangannya dengan ceria ke arah Erina dan Ajeng.


"Aku Ajeng." Ajeng lalu menyambut uluran tangan Seira sambil tersenyum ceria.


Erina mencoba tersenyum walau tatapan kesalnya sulit disembunyikan. Ia mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya pada Seira.


"Aku Erina. Kita pernah kenalan kok dan jabat tangan begini di acara kumpulan mahasiswa kemarin. Kamu aja yang lupa." Erina membalas dengan kata-kata agak sinis.


Seira hanya tertawa lalu bilang "oh ya", kemudian ia berjalan ke arah Edo tanpa mempedulikan Erina lagi. Oh, sungguh...


Edo menatap teman-temannya dengan lutut lemas dan perasaan tidak enak. Ya, Seira makin posesif karena merasa memilikinya. Bahkan baru keluar kelas saja sudah dihadang begini.


"Sei, aku mau pulang ke asrama. Ada acara ulang tahun dari ibu asrama aku," ucap Edo sambil berharap teman-temannya menunggunya tapi mereka sudah berlalu pergi berjalan duluan.


"Acaranya kapan? Biasanya sekaligus sambil makan malam, kan? Ya udah pulang ke rumahku dulu sore ini. Nanti malamnya aku antar. Papa aku pulang dan aku mau nunjukin sesuatu ke kamu," ucap Seira lalu langsung menarik tangan Edo yang tidak bisa berbuat apa-apa atau melawan.


Hah? Papa Seira? Menunjukkan sesuatu? Apa maksudnya?


Dan ketika Edo bertanya kenapa, Seira tidak mau bilang. Ia hanya bilang itu rahasia dan tersenyum penuh arti. Hingga di dalam mobil saat Seira sibuk menyetir, Edo lupa mau menanyainya soal masalah pribadi Kalula yang ia ceritakan pada Beni.


Karena sepertinya mood Seira sedang bagus, Edo tak mau mengusiknya. Ketika Seira sedang bersenandung mengikuti lagu yang ia putar di mobilnya, Edo hanya menunduk sambil mencuri-curi waktu mengecek ponselnya.


Oh! Roby mengirim pesan beberapa menit yang lalu.


[[  "Do, Seira nyamperin aku ke kampus. Kita ketemuan di depan. Dia balikin uang aku. Tau nggak dia diantar mobil mewah, Do. Tapi bukan Edward yang antar. Aku nggak lihat jelas, sih. Di depan ada sopirnya. Pokoknya pas Kalula masuk mobil lagi di jok belakang, ada ibu-ibu kaya. Ya pokoknya gitu lah kurang lebih.


Dia siapa ya, Do? Aku nggak berani nanya-nanya, sih. Dia juga nggak ke cafe lagi. Pas katanya kok nggak kerja, jawabnya dia udah resign. Aku ada ujian minggu depan. Sorry ya kalau kamu mau minta tolong awasin atau mata-matain Kalula aku nggak bisa. Mending kamu tanya sendiri orangnya."  ]]

__ADS_1


Pesan dari Roby cukup panjang juga. Roby mengirimnya dengan 2 pesan teks berurutan.


"Kenapa, Do? Siapa?" Seira yang sedang menyetir sempat-sempatnya melirik.


Edo menggeleng lalu menyimpan kembali ponselnya.


"Nggak papa. Cuma Roby. Ngabarin kalau Kalula sudah balikin uang yang dia pinjam kemarin." Edo menjawab itu saja. Selebihnya ia bungkam.


"Oh." Seira hanya menanggapi dengan 'oh' saja lalu kembali fokus menyetir sambil menyanyi mengikuti lagu yang ia putar.


Edo kembali diam. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Jadi lupa lagi ia soal menegur Seira yang sudah lancang membongkar semua aib dan kesusahan hidup Kalula di depan Beni.


Pikiran Edo sibuk dengan isi pesan Roby yang mencoba ia telaah.


Oke. Mobil mewah dengan sopir, ibu-ibu kaya? Siapa itu? Apa hubungannya dengan Kalula? Tiba-tiba Edo merasa sangat cemas.


Kalula begitu polos. Jangan sampai...


Arghhh!


Pikiran Edo sudah kemana-mana. Terbayang ia kalau Kalula ditawari dan dijanjikan pekerjaan yang bagus atau semacamnya lalu ternyata ditipu. Kalula cukup cantik dan Edo menganggapnya bisa menjadi target empuk para 'mami' untuk 'dijual' karena kepolosannya.


Tangan Edo sudah gatal ingin membuka ponselnya lagi dan menghubungi Kalula. Tapi ia tak bisa. Seira ada di sampingnya. Lagipula bukannya tadi pagi Kalula sendiri yang bilang lewat pesan kalau ia akan menjauh. Bagaimana kalau telponnya tidak diangkat? Edo jadi panik sendiri.


"Do? Udah sampai. Itu mobil papaku. Ayo masuk. Aku perlu ngomong sesuatu sama kamu dan Papa." Suara Seira membuat lamunan Edo buyar.


Edo hanya turun dari mobil dengan lemas. Apa yang akan Seira rencanakan dengan papanya? Lalu teka-teki ibu-ibu kaya yang kata Roby sedang bersama Kalula belum ia pecahkan.


Edo hanya diam saja begitu Seira menyeret kakinya masuk ke dalam rumahnya.


"Papa! Ini aku bawa Edo!" Seru suara renyah Seira yang tampak bermanja pada papanya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2