Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
67. Noda Lipstik


__ADS_3

Ketika sore itu seorang pelayan rumah sedang membukakan pintu kamar untuk ditempati Kalula, Edo di Tokyo sedang kebingungan setelah terbangun.


Ya, Tokyo dua jam lebih cepat dari Jakarta. Sekarang sudah malam. Edo lupa ia ada janji makan malam untuk merayakan ulang tahun Yuki San bersama Erina, Ajeng, Beni, dan Aldo.


"Arghhh sial!" Edo mengumpat pelan. Dilihatnya Seira sudah tidur di sampingnya.


Sambil mengenakan baju secepatnya, seadanya, Edo mengambil ranselnya. Ia ingat terakhir kali ia menyimpan ponselnya di ransel ini.


"Oke. Masih ada waktu setengah jam dari janji." Edo bergumam pelan begitu menatap jam di ponselnya.


Ia melirik Seira sekali lagi. Bingung ia dengan langkah yang harus ia lakukan. Haruskah ia membangunkan Seira? Gadis itu tadi sudah berjanji akan mengantarnya pulang ke asrama.


Ah, tapi kasihan dia. Edo juga tahu nantinya akan jadi canggung untuk mereka.


Edo mengambil dompetnya dan membuka isinya. Oke, sekiranya ia masih punya uang uang cukup untuk ongkos taksi. Ya walaupun kalau memaksakan diri begini besoknya yang makannya tinggal sedikit jatahnya.


Ongkos taksi cukup mahal. Tapi kalau mau naik bus jamnya Edo belum terlalu hafal. Maklum rumah Seira cukup elite. Agak tersembunyi dan tidak strategis alias dekat dengan halte. Edo juga agak bingung rutenya.


Maka diputuskannya untuk mengenakan bajunya lagi. Lalu sambil menggendong ranselnya di pundak, Edo mengirimkan pesan pada Seira untuk berpamitan. Ia berharap begitu bangun dan mengecek ponsel, Seira akan tahu kalau Edo pulang tanpa membangunkannya.


Edo melihat taksi di ujung jalan. Rupanya habis mengantar penumpang di dekat rumah Seira. Langsung saja ia stop lalu naik.


Setelah menyebutkan tujuannya, Edo menyandarkan punggungnya di kursi taksi itu dengan lemas. Oh, lega juga ia. Untung saja terbangun tepat waktu.


Ego Edo yang mulai terkikis pelan-pelan membuatnya bertekad untuk datang. Ia mau membuka hubungan baik lagi dengan teman-temannya. Ya walau sudah punya Seira, tapi itu tidak cukup. Edo perlu teman.


Ia punya semangat baru lagi untuk bertahan di Tokyo setelah bicara dengan papa Seira tadi. Dan ia tahu ia harus punya pijakan. Teman-teman satu angkatannya yang bisa ia andalkan untuk membantunya nanti. Seira akan sibuk dengan skripsi-nya dan Edo tak selamanya bisa minta tolong kalau kesulitan mengerjakan tugas kuliah. Ya, ia akan butuh mereka. Edo tahu itu.

__ADS_1


Sembari taksi melaju, Edo berusaha tenang. Ia membayangkan bagaimana nanti ia akan menemui Yuki San dan mencari cara agar tidak canggung di depan teman-teman yang lain.


"Muncul dengan sikap manis, Do. Kendalikan emosimu. Fokus saja pada dirimu. Jangan terpancing kalau Beni mencoba menguras emosimu untuk keluar lagi.


Kamu yang salah. Kamu yang curang. Biarkan mereka terlanjur tahu. Buktikan kalau kamu layak menerima beasiswa ini dan bisa lulus penyesuaian bahasa agar cepat bisa tes jurusan.


Kuatlah, Do. Di Jakarta kamu sudah nggak punya Kalula lagi. Dia sudah meninggalkanmu walau kamu sudah bilang padanya kalau masih mencintainya. Kamu dicampakan karena ulahmu sendiri. Kamu tidur dengan Seira. Kamu yang br**g***ek!"


Edo lalu tertunduk begitu pikirannya mengarah pada kelakuannya sendiri yang memalukan itu. Ah, mana prinsip menjaga pergaulan dan menahan diri yang kemarin ia pakai untuk menolak godaan Seira. Sekarang ia terperosok lagi.


Edo memijit-mijit pelipisnya. Ia lalu merapikan rambutnya dengan tangan dan merapikan kemeja putih garis-garis yang ia pakai untuk kuliah tadi. Ia memastikan kancingnya terpasang dengan sempurna tanpa mengetahui kalau ada noda lipstik di dekat kerah bajunya.


Noda lipstik berwarna merah bata itu begitu mencolok. Edo tidak mengeceknya karena tadi terlalu panik saat bangun. Ia asal saja memungut kemejanya itu dari lantai dan langsung memakainya.


Entah apa yang terjadi. Yang jelas mungkin Seira juga tidak sengaja. Noda lipstik jelas menempel dengan mencolok di pakaian warna putih.


"Terima kasih." Edo mengucapkan kata-kata itu dalam bahasa Jepang lalu turun dari taksi.


Padahal rencananya tadi kalau sempat ia bisa mandi dan ganti pakaian dulu. Rasanya sedikit aneh membayangkan tubuhnya yang habis dijamah dengan tangan lentik Seira dan habis berlumuran keringat itu tidak ia gugur air dulu.


Ah, tapi sudah terlalu terlambat untuk mandi. Edo melepas sepatunya dan masuk.


Ia melihat semua sudah berkumpul. Edo menunduk memberi salam lalu Yuki San menyuruhnya duduk di dekatnya.


"Maaf agak terlambat." Setelah memberi ucapan selamat ulang tahun Edo mencoba menjelaskan keterlambatannya dengan sopan.


Tapi menilik dari makanan yang terhidang di meja masih utuh sih Edo tahu keterlambatannya tidak terlalu parah.

__ADS_1


Edo duduk di dekat Erina yang terus meliriknya dengan tatapan mata aneh. Edo menyadari tatapan Erina yang agak lain itu tapi tak bisa bertanya. Yuki San sedang bicara dan mereka semua menyimak.


Perempuan tua itu bilang sebentar lagi keponakannya dari Fukuoka akan datang dan ikut bantu-bantu di asrama ini karena baru diterima kerja di Tokyo.


Setelah perbincangan basa-basi itu berakhir, mereka makan malam sambil bercanda ria. Yuki San menyiapkan makanan begitu banyak. Ia tahu anak-anak ini mahasiswa perantau yang uang sakunya pas-pasan. Apalagi pihak sponsor melarang neraka mengambil pekerjaan paruh waktu.


Yuki San pamit undur diri. Ia meminta anak-anak makan sepuasnya dan nanti membereskannya. Anak-anak mengangguk, termasuk Edo.


Ah, Edo belum sempat makan dari siang. Setelah Yuki San menutup pintu ia pun menikmati makanan dengan lahap hingga tak sadar tatapan dari teman-temannya makin tajam.


"Kenapa?" tanya Edo setelah menelan makanannya. Sepasang sumpit masih di tangannya.


"Habis ngapain sama Seira?" Beni yang dari tadi diam bertanya paling duluan dengan frontal. Ajeng sampai menyenggol-nyenggol Beni dengan sikutnya agar diam.


"Maksudnya?" Edo yang sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tidak mudah terpancing demi terus berlangsungnya pertemanan ini hanya bisa mencoba tetap tenang.


"Ya nanya aja. Tinggal jawab." Beni menaik-turunkan alisnya lalu menyeriangi dengan sengaja.


Edo meletakkan sumpitnya karena tahu emosinya memang susah dikendalikan. Ia tahu Beni masih kesal dan memusuhinya makannya ia bertanya dengan nada menjurus untuk membuatnya kesal.


"Aku ngobrol sama papanya. Papanya baru pulang dari luar negeri. Dia arsitek." Edo menjawab dengan tenang tapi matanya menatap tajam ke arah Beni.


Semua orang diam. Edo bertekad membangun hubungan baik tapi dipancing terus. Gimana tidak kesal.


"Papanya Seira pakai lipstik, Do?" Erina yang tampaknya makam dengan tenang dari tadi membuka suara tanpa disangka-sangka.


Edo langsung mengeryitkan alisnya. Tangannya terkepal dengan panik.

__ADS_1


Lipstik? Dengan spontan ia mengusap bibirnya sendiri.


Bersambung ...


__ADS_2