
Tiba-tiba Amelia merasa menyesal tidak mengirim Bram sejak awal. Bisa-bisanya ia kecolongan! Putranya sudah berbuat sejauh ini.
Edward tahu mamanya akan syok dengan ceritanya tapi ia tak peduli. Ia terus bicara. Mamanya harus mendengarnya agar mengerti.
"Ya, pada suatu malam aku mengantarnya pulang. Dia menganggap aku rekan kerjanya. Dia tak tahu aku hanya menyamar jadi barista karena iseng. Lalu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri gadis itu dikasari oleh ibu tirinya.
Ma, papa anak itu sudah meninggal dan dia baru tahu baru-baru ini kalau ternyata ia bukan anak kandung. Dia dijambak, dipukul, belum lagi dikasari secara verbal. Ibunya mata duitan dan dia diperas.
Kalau Mama tanya apa yang spesial dari gadis itu, maka jawabannya tidak ada. Tapi aku tertarik padanya sejak pertama kali melihatnya datang tergopoh ke cafe ini karena terlambat wawancara kerja.
Aku merasa dia takdirku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan aku tahu aku harus mendapatkannya. Makannya aku menyamar."
Dari tadi Amelia Santono hanya menatap putranya dengan mulut ternganga saja. Cerita dongeng macam apa ini?
"Aku takut kecewa, Ma. Dia gadis biasa, dan aku lahir dengan segala kemewahan yang Mama beri padaku. Kalau aku memperkenalkan diriku sebagai pemilik cafe, maka kurasa dia akan memandangku karena apa yang aku punya.
Aku ingin dia menyukaiku sebagai lelaki biasa, Ma. Lalu setelah itu kalau semuanya berjalan lancar, aku akan memberitahu yang sebenarnya." Edward sangat antusias menuangkan isi pikiran ini pada mamanya.
Amelia Santono hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa ini kisah sinetron? Kenapa putranya yang keras kepala itu bisa berpikiran seperti itu dan punya ide konyol? Pura-pura jadi pegawai cafe miliknya sendiri lagi.
"Aku yakin gadis itu tidak bodoh. Mana ada barista miskin yang tinggal di apartemen mewah?" Amelia mencibir.
Edward tertawa. "Aku bilang itu apartemen sepupuku. Aku cuma tinggal di sana karena dia kuliah ke luar negeri dan aku diminta menjaganya sementara," sahutnya.
Amelia makin pusing. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Kepalanya benar-benar berdenyut-denyut hebat. Makin pusing lagi ia setelah mendengar semua celotehan Edward ini.
"Apa sih yang ada di pikiran kamu, Ed? Kemarin kamu bilang kamu nggak akan mau menikah kan waktu Mama mau jodohin kamu sama anaknya Tante Waluyo? Oh, jadi itu alasan aja," ucap Amelia dengan kesal.
"Ya, iyalah. Aku hanya mau menikah dengan orang yang aku suka. Aku nggak akan mau dijodohkan lagi. Aku capek, Ma. Yang terakhir saja aku trauma.
Kalau Mama menentang aku sama Kalula, maka oke. Aku akan melepas semua ini juga. Aku diterima beasiswa seni. Kalau aku mau, aku tinggal berangkat ke Paris. Aku akan ninggalin Mama." Edward mulai membual.
Ia tahu mamanya langsung panik. Ia tahu ia bisa jadi anak durhaka karena ini. Tapi Edward sudah lelah menjadi robot mamanya sedari kecil.
"Tolong berhenti mengusikku. Aku akan tanda tangan kesepakatan kalau aku akan ambil alih bisnis sesuai kemauan Mama, asal Mama setuju soal aku sama Kalula. Aku nggak akan banyak tingkah, kok.
Bukankah Mama seharusnya senang punya menantu gadis biasa yang tidak maruk akan harta benda. Kalula cantik, Ma. Kalau dia diberi kesempatan untuk diajari, dia tidak akan memalukan kok untuk dibawa ke acara-acara kelas atas atau Mama pamerkan ke teman-teman sosialita Mama itu.
Dia cantik dari sananya. Tinggal Mama tempel ini itu barang branded, pakaian rancangan desainer terkenal, maka ia akan menjadi menantu menawan yang membanggakan."
Edward seperti sales yang sedang menawarkan dagangan. Ia membual pada mamanya sampai wanita itu menyerah.
"Oke oke."Amelia akhirnya mengalah. Ia mengangguk pasrah.
__ADS_1
Ancaman Edward akan meninggalkannya ke Paris lebih menakutkan.
Tapi ia pikir benar juga apa yang Edward bilang. Punya menantu gadis biasa ya ada bagusnya juga. Kalau gadis itu penurut, maka ia bisa mengatur-aturannya sesukanya.
Edward menatap tak percaya. Semudah ini mamanya luluh. Jelas ia senang.
Amelia mengangkat bahunya dan menjabat tangan putranya. "Secepatnya datang ke rumah. Kita bicara lebih intens dan serius, nggak di mobil kayak gini," ucap Amelia mencoba ikhlas dan tersenyum.
Edward tersenyum senang dan ia memeluk mamanya itu sambil tertawa. Mamanya ikut tersenyum.
Sejujurnya, Amelia rindu perlakuan hangat putranya macam ini.
"Janji, mulai sekarang jangan suruh orang lagi untuk memata-matai aku, Ma. Atau aku akan marah. Kalula akan tetap tinggal di apartemenku. Aku akan berhati-hati. Aku juga tidak akan macam-macam.
Hanya sementara kok, Ma. Baru dua hari dia di sana. Serius. Aku janji. Dia juga bukan gadis rendahan atau murahan, Ma. Dia hanya butuh pertolongan."
Lagi-lagi Amelia mengangguk saja. Dari sorot mata putranya yang berbinar-binar saat menceritakan soal gadis itu, Amelia tahu putranya tulus dan sungguhan jatuh cinta.
Edward lalu turun dari mobil dan masuk lagi ke cafe seolah tidak terjadi apa-apa.
Amelia Santono memberi kode pada sopirnya.
"Antar saya pulang sekarang. Nanti Bapak saja yang tukar mobilnya ke kantor. Saya capek, pusing."
***
Dika tampak pucat ketika Edward berjalan ke arahnya. Ia takut diomeli dan dipecat karena dikira mengadu. Tapi wajah Edward malah terlihat santai saja.
"Kalula mana, Dik?" tanyanya.
Dika langsung menunjuk ke arah belakang. Tampak Kalula sedang mengelap meja yang baru ditinggalkan pelanggan.
Wajahnya penuh senyum, tapi saat pengunjung pergi mukanya langsung berubah menjadi sedih dan murung.
"Tadi kamu bilang mamanya nelpon? Mamanya atau pacarnya?" tanya Edward ke arah Dika.
Dika hanya menggeleng kaku. Mana ia tahu dari siapa. Dika tadi terlalu tak fokus saat Kalula minta izin padanya untuk mejawab telepon ke belakang.
"Saya lupa. Tadi saya kurang konsentrasi menyimak waktu dia minta izin." Dika menjawab dengan nyengir.
Edward menepuk pundaknya lalu pergi menghampiri Kalula.
"Kal? Tadi kata Dika, eh maksudnya Pak Dika, kamu habis nelpon? Edo hubungi kamu?" Edward benar-benar sudah terlalu ikut campur tapi Kalula tak sadar saja.
__ADS_1
"Bukan. Tapi mama, Ed. Biasa, minta uang. Dan dia bilang dia kemarin habis pinjam uang juga ke Edo. Aku pusing. Aku matiin handphone." Kalula mencoba untuk tersenyum walau matanya lebih ingin menangis.
"Oh, oke. Jangan hiraukan mereka, Kal." Edward tersenyum lega. Oke. Edo aman.
***
Saat jam pulang, Kalula tampak lemas. Bahkan ia membiarkan saja Edo merangkulnya sambil menyusuri jalanan trotoar tengah kota yang gemerlap itu.
"Semua akan baik-baik saja, Kal. Kamu cuma butuh waktu untuk melepas semua. Nanti akan terbiasa. Kalau kamu kembali luluh, mereka akan kembali memperalat kamu." Edward masih merangkul pundak Kalula sambil mereka berjalan masuk ke lobby apartemen.
Kalula hanya mengangguk.
Di lobby, kepala keamanan apartemen menghadangnya dan ingin bicara soal tempat parkir mobil-mobil Edward. Edward langsung panik dan membenarkan kalau itu mobil sepupunya. Sang kepala keamanan bingung.
Kalula yang lelah tak terlalu fokus mendengar, jadi ketika Edward memberikannya kunci akses masuk apartemen dan memintanya naik duluan saja, Kalula mengangguk tanpa curiga.
"Pak, mobil Bapak ada 4. Di ongkir VVIP semua. Nah, Pak. Ada penghuni baru yang minta slot 1 parkir VVIP yang penuh. Bisakah Pak Edward memindahkan salah satu mobil Bapak yang jarang dipakai ke tempat parkir biasa, Pak?
Orangnya mohon-mohon ke saya agar saya ngomong sama Bapak." Sang kepala keamanan menjelaskan perkara ini, tapi mata Edward belum berpaling dan fokus menyimak hingga Kalula masuk ke dalam lift.
"Hah? Gimana?" Edward meminta pria penjaga menjelaskan ulang karena tadi tak fokus menyimak.
Sang kepala keamanan menjelaskan dengan terpaksa. Wajahnya ia paksa tetap tersenyum walau ingin mengumpat kesal.
***
Sementara di kamarnya, Kalula tak segera mandi. Ia lebih memilih membaringkan dirinya di kasur dulu sambil menguatkan mental untuk mengaktifkan kembali ponselnya.
Drttt! Drttt!
Tanpa ia sangka, puluhan notifikasi kembali memenuhi ponselnya ketika benda pipih itu ia nyalakan kembali.
"Hah? Edo? Dia minta maaf?" Kalula sampai bangun dari rebahannya saat melihat isi pesan itu.
Mata Kalula berkaca-kaca. Ah, ternyata Mama Sastri telah jujur pada Edo soal alasan ia kabur. Salah paham diluruskan. Edo minta maaf dengan sungguh. Ia bahkan syok juga ketika tahu soal status Kalula yang ternyata anak tiri.
[ "Edo memanggil!" ]
Kalula menatap layar ponselnya. Edo berusaha menghubunginya.
Angkat atau tidak?
Bersambung ...
__ADS_1