
Dika menatap ke arah seberang jalan. Ia lihat Edward membuka kaca pintu mobilnya dengan tatapan ingin tahu.
Wajah Dika yang masam dan muram sudah menunjukkan jawaban tanpa perlu banyak tanya. Edward menduga pertemuan Dika dan Kalula tadi berujung tanpa hasil.
Dika mengangkat tangan dengan lemas. Jarak beberapa meter diselingi lalu lalang kendaraan lewat tidak membuat penglihatan Edward kabur. Ya, ia bisa melihat dengan jelas gelengan kepala Dika. Sebuah isyarat untuk mengatakan berita buruk.
Dika segera menyeberang jalan dan menghampiri mobil Edward.
"Kalula tetap ingin resign dari cafe. Ketika saya bertanya apa dia sudah punya tempat kerja baru, dia bilang itu bukan urusan saya. Kalula sepertinya yakin sekali kalau semua drama gaji tertahan dan ancaman pemecatan kemarin itu atas perintah Bapak." Dika berdiri di samping pintu mobil Edward.
Edward terdiam sambil mengepalkan tangan di atas setir mobilnya. Kalau begini berasa ia yang jahat dan licik. Padahal ia hanya ingin membuat Kalula mencintainya. Apa itu salah?
"Kalula bahkan tahu dari tadi Bapak mengintai dari dalam mobil putih ini." Dika menambahkan lagi.
Bugh!
Edward memukul setirnya. Arghhh! Makin buruk saja ia di mata Kalula.
"Bagaimana dia tahu? Apa kamu menatap mobilku dengan aneh jadi dia tersadar?" Edward mulai menyalah-nyalahkan Dika untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Dika hanya nyengir dengan takut. Apa iya tadi gesture dan tatapannya ke arah mobil terlalu kentara? Ah, perasaan tidak.
"Nggak, Pak. Sa--saya bahkan nggak lihat ke arah mobil. Mungkin Kalula pernah melihat mobil Bapak. Jadi dia mengenalinya." Dika mencoba membela dirinya sendiri.
"Hah! Dia kan belum tahu saya punya mobil ini. Waktu tinggal di apertemen, Kalula hanya tahu kalau mobil yang pernah saya pakai yang warna hitam." Edward ngotot lalu ia diam ketika ia ingat sesuatu.
Arghhh! Kalula pernah melihat mobil ini waktu mereka parkir. Ya, Edward baru ingat. Mobil ini ia parkirkan di samping mobil hitam yang ia pakai untuk mengantar Kalula mengambil baju-bajunya di rumah mama tirinya.
Dika menunduk takut. Sebulan mengenal Edward dengan intens membuatnya hafal kelakuan pria kaya itu kalau sedang marah dan mengamuk.
"Yasudah. Tadi dia bilang apa lagi?" Edward mulai menurunkan nada suaranya yang tadi meninggi karena kesal.
__ADS_1
"Nggak bilang apa-apa lagi," jawab Dika.
"Oke." Edward menarik nafas panjang lalu tanpa bilang apa-apa lagi ia menutup kaca jendela Mobilnya dan tancap gas.
Dika yang ditinggalkan sendiri saja di pinggir jalan hanya bisa mengangkat bahu. Oh, mana menyangka ia kalau job desk-nya sebagai kepala pengelola cafe harus ditambah lagi dengan tugas macam begini.
Mengurus anak buah, operasional cafe, laporan bulanan, lalu sebulan ini ditambah harus memantau hubungan percintaan boss-nya yang rumit.
"Untung gajiku besar. Nyonya Amelia Santono juga berjanji akan memberikan bonus. Ada untungnya lah Kalula keluar dari cafe. Artinya hari-hariku besok akan berjalan normal. Tidak ada lagi Pak Edward dengan penyamarannya sebagai barista. Ah, orang kaya memang ada-ada saja kelakuannya."
Sambil menyusuri jalan malam itu Dika menggumam dan menggerutu sendiri.
Ya, sebulan dimulai sejak gadis berlesung pipi bernama Kalula datang ke cafenya untuk interview kerja, karir Dika sebagai manager cafe dipertaruhkan karena kelakuan ajaib Edward.
Masih sambil terus menyusuri jalan, Dika menggerutu lagi.
"Cowok kaya, ganteng, keren macam Pak Edward bisa-bisanya ngejar-ngejar gadis biasa macam Kalula sampai sebegininya. Oh, dunia! Memang Kalula cantik, sih."
***
Gaji yang merupakan haknya akhirnya ia pegang. Maka ia bisa segera mengembalikan uang Roby agar terlepas dari ejekan 'merepotoan' seperti yang kemarin Seira katakan padanya.
Ya, selain memutuskan untuk menjauhi Edward, Kalula juga ingin menjauh dari Edo. Tak peduli betapa berharganya Edo dulu terhadap hidupnya. Kalula hanya tak mau terhina. Apalagi dihina gadis yang sedang dekat dengan mantan pacarnya.
Oke, Seira kaya. Ia bisa menghina gadis lain di bawahnya. Tapi anehnya dia mendekati Edo. Kalula sadar betul Edo hanya cowok biasa. Entah apa yang disukai Seira dari mantannya itu. Kadang ia heran juga.
Sambil berjalan ia berpikir. "Oh, Edo memang tidak setampan dan sekaya Edward. Tapi ia punya pesona sendiri. Dia bisa membuatku tahan 5 tahun lebih. Mungkin memang Seira bosan memacari cowok kaya.
Ah, ada apa dengan orang-orang kaya ini? Edward, Seira. Mereka jatuh cinta pada orang miskin macam aku dan Edo."
Kalula membatin lalu tertawa pelan. Ya, kehidupan ini sangat timpang. Kalula dan Edo dibesarkan untuk menjadi sukses dalam artian hidup lebih layak. Lalu anak-anak macam Seira dan Edward tidak tahu apa artinya hidup susah. Apapun yang mereka mau berhasil mereka dapatkan tanpa perlu bekerja keras.
__ADS_1
Maka kalau mereka jatuh cinta pada orang yang tak bisa mereka gapai, mereka akan menggila begini.
"Aku akan selalu ingat ucapan Papa. Jangan menjadi orang miskin yang murahan. Kita harus tetap punya harga diri. Edward mungkin kaget karena reaksiku begini. Biarlah. Aku akan fokus pada diriku sendiri mulai sekarang. Buktikan kalau kamu bisa mandiri, Kal. Kamu tidak bergantung pada orang lain. Kamu tidak merepotkan."
Lalu Kalula berhenti di depan pintu ruang rawat Shanty yang tertutup rapat itu. Anak ibu kost-nya itu pasti sudah tertidur lelap. Kalula memutuskan untuk mengirim pesan pada Roby dulu sebelum masuk.
[[ "Rob, maaf ya ngerepotin kemarin. Kita bisa ketemu besok? Atau aku bisa nyamperin kamu dimana? Aku mau balikin uang kamu. Gaji aku udah turun." ]]
Kalula menyimpan kembali ponselnya ke tas setelah mengaktifkan mode senyap. Ia tak mau nanti malam ponselnya bunyi tiba-tiba saat menunggui Shanty.
Kalula tak tahu tepat saat tasnya ia tutup, Edo mengirimkan pesan padanya.
***
[[ "Kal? Gimana di tempat kost baru? Roby bilang kamu belum ngasih kabar lagi? Semua aman, kan?" ]]
"Kamu lagi hubungin siapa lagi, Do?" Suara Seira membuat Edo menyembunyikan ponselnya di pangkuan. Bantal sofa menutupinya.
Ya, malam ini Edo menginap kembali di rumah Seira. Papa Seira belum pulang dari luar negeri.
"Eh, bukan Kalula. Ini anak-anak, kok. Mereka nanya apa aku nggak pulang lagi malam ini." Edo berbohong. Entah kenapa ia punya naluri untuk menutupi ini. Edo sadar begitu menyebut nama Kalula, wajah Seira seperti menunjukkan ekspresi cemburu.
Padahal ah boro-boro teman-teman asramanya menghubungi. Tadi saja waktu ketemu di kelas, mereka menatapnya dengan sengit.
Di antara Beni, Aldo, Ajeng, dan Erina; Erina lah yang paling terbuka padanya seharian ini. Semua orang bermuka masam padanya dan menganggapnya tidak ada di kelas.
Beni mungkin memang masih marah karena kemarin tonjokan Edo membuahkan luka memar di ujung bibirnya. Aldo yang dekat dengan Beni tentu ikut kesal demi mendukung Beni. Terlebih Aldo kini juga tahu soal kecurangan beasiswa Edo.
Kalau soal Ajeng yang menatap kesal padanya, Edo paham. Anak itu mudah terhasut. Entah siapa yang menghasutnya untuk ikut kesal pada Edo.
Jadi bagaimana posisi Edo sekarang? Ketakutan kalau Aldo dan Beni akan melaporkan kecurangannya pada pihak sponsor beasisiwa membuatnya takut juga.
__ADS_1
Edo merasa tertekan.
Bersambung ...