Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
41. Malam Panas


__ADS_3

Pagi hari di musim semi yang cerah...


Pukul delapan lewat tiga puluh waktu Tokyo, Edo terbangun dengan penuh kesadaran. Seira masih tidur di sampingnya.


Edo bergerak sepelan mungkin agar Seira tidak terbangun, tapi tetap saja Seira yang sangat peka dengan gerakan terbangun juga.


"Jam berapa, Do?" tanya Seira sambil menggosok matanya.


Ya, setelah malam panas yang telah mereka lalui semalam, Seira tampak bersikap biasa saja. Tak ada kecanggungan sama sekali.


Sedangkan, Edo lain lagi reaksinya. Ia agak canggung dan bingung dengan semua ini. Terlebih sekarang ia sadar kalau pakaiannya belum lengkap ia pakai lagi. Semalam mereka langsung tidur begitu saja.


"Sekarang jam sembilan kurang sedikit. Aku ada kelas jam 10 di kampus," jawab Edo lirih.


Seira menguap dengan anggun. Tangannya terbentang ke samping. Ia tampak meregangkan otot. Edo melirik dan mengakui dalam hati, mau keadaan tanpa riasan seperti saat bangun tidur begini, Seira tetap sempurna. Ia cantik. Jelas ia akui itu.


"Oke. Sepertinya kita harus mandi. Aku juga ada kelas jam 10. Kita berangkat ke kampus bersama. Oke?" Seira langsung menyingkirkan selimut dari tubuhnya yang tentu belum berpakaian lengkap. Edo terhenyak.


Arghhh!


Oke, semalam ia telah melihat semua. Tapi tetap saja rasanya aneh melihat seorang gadis terbangun di sampingnya dalam keadaan seperti ini.


Edo tahu ia telah melakukan sebuah langkah yang terlalu jauh. Ya, ia tahu setelah semalam hubungannya dengan Seira telah menjadi berbeda.


"Do? Mau mandi nggak?" Seira bertanya dengan nada setengah menggoda.


"Ng--nggak. Kamu duluan aja." Edo menyahut dengan gugup.


Seira tertawa. Tapi bukannya langsung pergi, ia malah berjalan ke arah Edo dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"It's okay. Jangan mencemaskan apapun. Dan jangan canggung begitu padaku. Oke?"

__ADS_1


Lalu setelah membisikkan kalimat ambigu itu Seira melangkah dengan kakinya yang jenjang menuju kamar mandi.


Edo masih terduduk di kasur. Kepalanya pusing.


Oke, lalu sekarang apa? Ia bertanya pada dirinya sendiri dan tidak menemukan jawaban. Semalam ia merasa seperti mendapatkan pelampiasan. Tapi kini sekarang rasanya hampa.


Di pikiran Edo semalam, kalau ia bisa membuat Seira takluk padanya, maka ia tak kalah-kalah amat. Kalula boleh saja bersama Edward sekarang. Edward yang kaya, tampan, dan masa depannya pasti cerah. Edo merasa setimpal kalau ia juga mendapatkan Seira. Seira yang cantik, keren, dan tak kalah kaya.


Semalam mungkin ia senang dan merasa menang, tapi pagi ini setelah gelora panas itu berlalu, kepala Edo justru memikirkan satu nama yang lain : Kalula.


Dirabanya ponselnya di atas kasur itu. Ia ingat semalam saat Seira merubuhkan dan menaklukkan dirinya, ponselnya terlempar ke kasur.


Nah! Ketemu!


Edo membuka kunci layar dan berharap menemukan notifikasi pesan dari Kalula. Entah Kalula menyapanya atau sekedar mengucapkan selamat pagi. Tapi ternyata pesan itu tidak ada. Kalula sudah bukan pacarnya. Edo merasa makin hampa.


Tapi yang tak terduga, Erina justru mengiriminya pesan. Pesan yang lumayan panjang.


Kita teman, Do. Setidaknya kami masih menganggap kamu begitu. Apa yang kamu sembunyikan? Cerita sama kita. Jangan bolos kelas lagi, karena kemarin kamu sudah bolos.


Aku ninggalin sarapan di tempat biasa. Tadi Ajeng yang buat sarapan. Aku juga sudah bilang pada Yuki San untuk mendobrak paksa pintumu kalau sampai siang nanti kamu nggak keluar kamar juga." ]]


Edo memijit-mijit kepalanya saat membaca pesan itu. Ia lalu menelpon ibu semang pengelola asrama yang ia tinggali.


Dengan bahasa Jepang yang masih agak terbata-bata Edo mencoba menjelaskan kalau ia mengunci pintu dari luar saat semalam pergi. Ia bilang ia menginap di rumah teman.


Yuki San merasa lega. Edo minta maaf sekali lagi dan meminta perempuan separuh baya itu agar tidak mencemaksannya.


Setelah menutup telepon Edo agak merenung juga. Menilik dari respon Yuki San yang biasa saja artinya Beni yang ia buat babak belur semalam tidak melapor soal pertengkaran itu.


Ah, syukurlah. Edo tentu tahu kalau Beni sampai melapor, Yuki San bisa meneruskan laporannya pada pihak sponsor beasiswa. Salah satu poin perjanjian beasiswa adalah selain nilai yang layak sesuai standar mereka, para penerima beasiswa harus berkelakuan baik juga.

__ADS_1


Menonjok teman sendiri padahal belum genap sebulan di Tokyo adalah tindakan melanggar perjanjian. Edo tahu itu.


Ia jadi merasa agak tenang. Artinya sementara ini posisinya masih aman. Beni dan Aldo juga tidak bilang siapa-siapa soal kecurangannya mendapat beasisiwa. Edo tahu mereka bungkam karena Erina tidak membahas soal ini.


"Habis nelpon siapa, Do?" Tahu-tahu Seira sudah di depannya dengan handuk kimono membungkus tubuhnya.


Edo tergagap. "Mmm, pengelola asrama. Dia pikir aku terkunci di dalam kamar. Aku menjelaskan kalau aku menginap di tempat teman." Edo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Ia hanya salah tingkah.


"Oh, tempat teman. Oke. Jadi kita hanya teman?" tanya Seira sambil melempar sebuah handuk bersih warna putih ke pangkuan Edo.


Edo menangkap handuk itu dan wajahnya terlihat panik.


Kalau Seira tak mau dianggap teman, lalu apa maunya? Iya, sih semalam neraka sudah sejauh utu untuk dianggap sebagai teman. Tapi kan mereka baru kenal beberapa pekan...


Edo menunduk, pura-pura sibuk dengan handuk. Padahal ia hanya berusaha menghindari tatapan Seira saja.


Seira tertawa kecil seolah menganggap Edo lucu. Ia lalu berjalan menuju meja riasnya. Sungguh, respon Seira membuat Edo sedikit bingung juga.


"Do, nggak usah kaget gitu. Aku tahu kita terlalu cepat. Tapi aku nyaman sama kamu. Anggap aja kita friends with benefits. Lagian kamu juga baru putus dari Kalula. Pelan-pelan aja kita jalani ini. Oke?" Seira melirik Edo dari pantulan cermin meja riasnya.


Edo yang menyadari tatapan itu mengangguk canggung pada bayangannya sendiri di cermin.


"Y--ya. Aku, mmm aku mandi dulu, ya. Takut telat ke kampus." Edo menyahut cepat lalu menghindar ke kamar mandi.


Seira tersenyum melihat Edo menghindari pergi seperti anak polos yang baru jatuh cinta. Entah kenapa Seira menikmati momen ini.


Dicarinya ponselnya yang semalam entah ia taruh dimana. Ia penasaran apa Edward sudah membalas pesannya.


Ah, ternyata pesan itu sudah dibalas beberapa menit yang lalu.


Apa balasan pesan dari Edward? Bagaimana keadaan Kalula setelah panggilan telepon Jakarta-Tokyo itu berakhir?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2