
Beni yang suka meledeknya dulu dan suka bercanda itu menatap makin sinis ke arah Edo.
Edo menatap teman yang dulu hampir sekamar dengannya itu dengan tatapan penasaran sekaligus cemas. Ah, apa yang dikatakan Seira pada Beni?
Ketika Edo mengungkap rahasianya semalam pada Seira, ia pikir gadis itu akan merahasiakannya. Tapi kenapa malah bilang-bilang orang lain? Edo merasa panik mendadak.
"Ya, dia mohon-mohon. Sial ya, awalnya sudah GR aku tiba-tiba dihubungi senior paling cantik se Jakarta-Tokyo. Kupikir kenapa. Ternyata cuma buat belain kamu.
Dia cerita soal kecurangan kamu dan kecemasan kamu karena takut dilaporkan pihak sponsor. Menurutmu aku udah lapor belum? Menurutmu aku udah lapor Erina belum?" Beni sepertinya sengaja mengulur-ulur waktu agar Edo kesal.
Edo menggeleng lalu membuang muka. Edo tahu Beni hanya ingin mempermainkan dan membuatnya kesal. Makannya ia tidak menjawab.
"Aku belum bilang siapa-siapa, kecuali Aldo kemarin. Aldo juga begitu marah kan waktu tahu kamu ternyata curang dan busuk? Ya! Kamu memang sok suci, Do! Di antara kami kaku bersikap sok paling baik. Ternyata apa? Curang! Pembohong! Sekarang bergaul dengan bebas dengan Seira.
Iya aku tahu dia cantik. Dari awal kita ketemu di komunitas mahasiswa Jakarta-Tokyo aku juga sering muji dia, kan? Tapi aku cuma sebatas kagum. Aku nggak iri dia dekat denganmu. Aku cuma jijik aja ada orang sok su..."
"Udah, Ben! Jangan berbelit-belit! Nggak usah ngomong muter-muter nggak jelas. Aku nggak peduli kamu mau menghakimi aku dengan tuduhan apa. Aku nggak membantah.
Kamu lapor aja sama Erina kalau kamu mau. Lapor sekalian sama pihak sponsor, nggak usah lewat Erina. Jadi Seira bilang apa? Itu aja intinya. Aku cuma pengin tahu itu!" Edo membalas gertakan Beni seketika.
Beni terdiam. Matanya menatap nanar. Sebenarnya bohong ia kalau bilang tidak iri pada kedekatan Edo dengan Seira. Ia hanya gengsi mengakui, tapi omongannya terlanjur dipotong Edo.
"Dia mohon ke aku biar aku nggak usah laporin kamu. Katanya kalau aku lapor nanti Kalula ikut kena. Dia bilang gitu." Suara Beni terdengar lebih lirih dibandingkan tadi.
Edo diam saja. Ia tak tahu harus merespon apa. Oke, Seira bilang soal ini dan menyebut-nyebut nama Kalula? Sungguh Edo tidak menyangka. Ia pikir Seira sangat membenci Kalula.
"Ya, Seira cerita soal Kalula. Aku nggak tahu mereka saling kenal." Beni mengangkat bahu.
Edo langsung tersentak bingung. Tunggu! Tunggu! Seira bilang ke Beni kalau ia kenal dengan Kalula? A--apa maksudnya?
"Seira bilang apa soal Kalula?" Edo akhirnya tak tahan untuk tak bertanya. Ia sangat ingin tahu.
__ADS_1
"Ya cerita soal kesusahan hidupnya. Ini dan itu..." Beni menjelaskan dan mengulang cerita Seira semalam.
Edo terkejut. Seira mengulang cerita soal Kalula yang ia dengar darinya. Hatinya merasa sakit. Ia merasa dikhianati. Ya, ia salah juga sih terlalu banyak cerita soal aib dan kehidupan Kualla di depan Seira. Tapi ia pikir Seira orang yang ia percaya. Eh, ternyata Seira membocorkan semua obrolan mereka ke Beni.
"Seira nelpon kamu?" Edo bertanya lagi.
Beni yang sudah makin santai mengangguk. Tangannya ia lipat ke dada.
"Kurang lebih satu jam aku dengerin dia ngomong. Aldo ikut denger. Ya, namanya juga sekamar. Pasti denger lah. Seira bilang kamu sama Kalula udah putus, lalu Kalula dekat dengan sepupunya di Jakarta.
Kalau aku pikir-pikir Seira benar juga. Kasian Kalula kalau dia ikut kena black list karena laporan aku. Setahuku di Jakarta sekarang cuma ini program beasiswa yang all in semua uang kuliah sekaligus biaya hidup ditanggung.
Aku ketemu Kalula dari awal tes. Aku tahu dia begitu gigih. Mimpinya sudah kamu rebut. Aku nggak kau jadi jahat dan mengubur mimpinya lagi dengan membuat namanya ter-black list sponsor.
Jadi jangan GR kalau aku sama Aldo nggak laporin kamu ke Erina selaku ketua tim atau sponsor. Kita sepakat ngelakuin ini demi Kalula, bukan karena kamu." Suara Beni terdengar tajam nadanya.
Edo terdiam. Ia tahu sekarang Beni kembali menatapnya dengan sinis.
Selain itu kita juga kasihan sama Kalula. Lagi banyak masalah, beasiswa hangus dan malah kamu yang dapat, eh sekarang kamu putusin. Terus kamu di sini enak-enakan sama Seira.
Iya sih nggak munafik Seira lebih cantik, kaya, keren. Tapi kan ini namanya sel..."
"Cukup, Ben. Udah! Nggak usah sok tahu. Kalula yang mutusin aku. Bukan aku yang mutusin dia!" Edo yang harga dirinya sudah serasa diinjak-injak oleh Beni sedari tadi itu hanya mencoba membela dirinya.
Tapi reaksi Beni justru tertawa. Ia berkacak pinggang lalu berdiri karena melihat profesor mereka sudah berjalan ke arah mereka, tanda kelas akan dimulai.
"Oh, oke. Tapi Kalula mutusin kamu karena apa? Karena kamu ketahuan selingkuh sama Seira, kan? Udah lah, Do. Nggak usah sok suci. Soal ini Erina yang cerita. Kalula hubungin Erina dan nanya soal kamu sama Seira.
Ingat, ya. Aku nggak peduli sama kamu. Aku sama Aldo udah nggak nganggap kamu teman lagi. Ingat, aku nggak lapor karena kasihan sama Kalula. Udah itu aja."
Beni mengakhiri kalimatnya lalu masuk ke dalam kelas kembali.
__ADS_1
Edo hanya menatap lantai dengan nanar. Matanya terasa panas.
Ingin rasanya ia kabur dari kelas. Tapi baru sebulan absennya sudah banyak. Mau tak mau ia menyapa profesor dari kejauhan lalu masuk kelas.
Seketika auranya berubah murung saat duduk di kursinya. Edo tahu setiap masuk kelas ia merasa suasananya mencekam. Ditambah lagi ia duduk di meja paling depan karena tadi masuk paling belakangan.
Secara mengejutkan profesor-nya menyapanya lebih dulu sebelum memulai kelas dan memuji kalau essay-nya kemarin paling bagus isinya.
Edo hanya diam di tempat macam patung begitu seluruh teman di kelasnya bertepuk tangan.
Ya, Seira yang mengerjakan tugas itu.
Edo menunduk malu.
Oh, betapa ia nemang macam pecundang seperti yang dibilang Beni barusan. Di Jakarta apa-apa dibantu Kalula yang pintar. Di Tokyo ia dibantu Seira.
Edo lalu menatap ke arah samping dimana Beni duduk di depan juga, tepat di sampingnya.
Beni menyeriangi sinis.
Edo hanya bisa menunduk lagi sambil berdoa dalam hati semoga kelas hari ini berjalan lancar. Posisinya terlalu mencolok di depan. Ia takut sang dosen tiba-tiba memberinya kuis dadakan.
Jelas akan mencurigakan dan memalukan nantinya kalau ia tidak bisa menjawab. Nilai tugas essai-nya kemarin tinggi, masak pertanyaan gampang saja tak bisa menjawab.
Dan gemuruh rasa deg-degan di dada Edo akhirnya berhenti setelah kelas berakhir.
Arghhh, aman.
Edo mengemasi tas-nya. Di saat yang sama ketika seisi kelas bubar, Erina menghampirinya.
Agak ciut juga Edo berhadapan dengan gadis manis yang kemarin marah dan muak padanya sampai berteriak kesal itu. Apa yang ingin Erina katakan padanya?
__ADS_1
Bersambung ...