
Pesan dari Seira dibaca Edward di bawah meja makan. Belum ia balas, tapi Edward kembali menyimpan ponselnya dan melanjutkan makan.
Pusing kepala Edward. Masalahnya di saat yang sama mamanya mengirimnya pesan dan kembali merengek dan memintanya datang ke rumah.
[[ "Edward, pulang ke rumah Mama! Kesepakatan kita kemarin memang sudah oke. Tapi Mama perlu bukti. Kamu pulang dulu, tanda tangani surat perjanjian yang sudah mama buat. Ini soal janji kamu nerusin perusahaan sama janji kamu mau dijodohkan kalau kamu gagal nikahi Kalula dalam waktu 3 bulan." ]]
Kalula duduk di depannya dengan tatapan curiga. Mereka sedang makan malam bersama karena tadi sedikit lembur di tempat kerja jadi agak terlambat pulangnya.
"Siapa, Ed? Teman kamu lagi? Ngajak pergi?" Kalula menebak.
"Eh, i--iya. Aku nanti pergi lagi. Kamu nggak papa kan sendirian?" Edward menaruh sendok dan garpunya.
Kalula mengangguk. "Udah pergi aja. Biar aku beresin piring kamu."
Edward mengangguk lalu berdiri dari duduknya. Ia bilang pada Kalula yang belum selesai makan itu kalau ia hendak berganti pakaian ke kamar.
Kalula hanya bisa melirik ke arah kamar Edward sambil menebak-nebak. Ia tahu Edward berbohong.
Tak berapa lama kemudian Edward keluar dari kamarnya lagi. Ia hanya mengganti celana jeans saja rupanya. Kaos atasannya masih sama.
"Aku pergi dulu ya, Kal." Edward tampak seperti terpaksa sekali meninggalkan apartemen.
Kalula mengangguk. Sendok masih di tangannya. Matanya menatap ke arah kantong celana Edward yang tampak sedikit aneh. Ada benda mengkilat yang tampaknya belum masuk dengan sempurna di kantongnya.
Oh! Itu kunci mobil!
Kalula diam-diam mengamati dari sudut matanya.
"Kamu bawa mobil sepupu kamu?" Kalula bertanya. Sungguh sekarang ia tak yakin lagi soal 'sepupu' yang selalu Edward sebut-sebut sebagai alibinya.
"Ng--nggak, kok. Aku dijemput. Ya, dijemput temanku. Oke, Kal. Aku pergi ya." Edward lalu berjalan menuju pintu utama.
Kalula mengiyakan dengan antara agar Edward tak curiga. Padahal hatinya sudah makin yakin : Edward bohong.
Sambil menatap makanan yang telah habis ia santap, Kalula berdiri membereskan dan mencuci piring-piring. Sambil mengerjakan semua hal itu tentu Kalula tak henti-hentinya melamun.
__ADS_1
"Edward kan sebenarnya super kaya. Kenapa dia mau-maunya jadi barista di cafe-nya sendiri. Karena iseng? Atau karena apa? Dia punya mobil yang katanya mobil sepupunya itu. Kenapa rela jalan kaki denganku setiap hari?" Kalula lalu kembali ke kamarnya setelah selesai.
Ditatapnya tas kerjanya dengan tidak berminat. Ponselnya tampak tersembul keluar. Kalula meliriknya saja. Padahal dulu tangannya tak lepas dari ponsel.
Selain karena menunggu kabar Edo, Kalula juga tampak lengket dengan benda pipih itu untuk mengecek postingan teman-teman Edo di Jepang, terutama Erina. Setidaknya kalau Edo tak sempat memberi kabar, Kalula bisa melihat pacarnya itu dari postingan sosial media teman-temannya.
Tapi dari kemarin Kalula mencoba sesedikit mungkin untuk berinteraksi dengan ponselnya sendiri. Ia melakukannya karena tidak ingin stres dan banyak pikiran.
Masalahnya nomor mamanya dan nomor Karina yang sudah ia blokir tidak cukup membuat hatinya tenang. Mamanya entah dari mana menghubunginya dengan nomor baru dan memaki-makinya lewat pesan.
Kalula stress lagi lalu memutuskan untuk memblokir nomor baru mamanya lagi.
Hingga akhirnya sekarang saat pikirannya penuh dengan nama Edward, seketika ingatannya kembali pada kejadian siang tadi.
Ya, ketika ia membuntuti Edward masuk ke ruangan Dika untuk tidur saat jam kerja, Edo menghubunginya. Pria yang masih bisa dibilang sebagai pacarnya itu mengirimnya pesan dan Kalula belum sempat mengecek.
Kalula menatap jam dan menghitung perbedaan waktu. Mungkin sekarang di Tokyo sudah jam 11 malam lebih. Ia pun segera meraih ponselnya yang baterainya hampir habis itu dan membuka pesan dari Edo.
Deg!
Beberapa menit Kalula mencoba menelaah semua isi pesan itu. Lututnya lemas.
Edo tahu ia berbohong soal tempat di mana ia tinggal menumpang dan nama-nama teman-teman perempuannya yang sebenarnya tidak ada di dunia nyata. Nama itu disebut begitu saja dengan spontan untuk membohongi Edo kemarin.
Matilah!
Kalula menepuk jidatnya sendiri. Ya, ia tahu bangkai tetap akan tercium sepintar apapun menyimpan. Bahkan bau buruknya bisa sampai Tokyo sana.
Tangan Kalula sedikit gemetar juga. Ia tahu semakin hari hubungannya dengan Edo semakin tak bisa diharapkan. Tapi begitu mencapai titik ini, antara putus atau terus, tetap saja ia gugup.
Edo bukan orang biasa di hidupnya. Dia spesial dan punya tempat sendiri. Melepasnya dengan alasan apapun tetap saja rasanya menyakitkan.
Tangan Kalula mulai mengetikkan pesan balasan. Dadanya sesak. Tak menyangka hubungan yang awalnya baik-baik saja terpuruk secepat ini.
[[ "Iya, aku bohong soal menumpang tinggal di apartemen Edward...]]
__ADS_1
Kalula lalu meletakkan ponsel itu di kasur empuk yang sedang ia duduki itu. Tak kuasa ia melanjutkan mengetikkan pesan.
Dari pengalaman pertengkaran kemarin-kemarin, saling serang dan debat lewat pesan singkat malah memperburuk keadaan.
"Aku aku telpon Edo saja? Dia udah tidur belum ya?" Kalula menggumam sambil menatap jam dinding.
Ia ragu... . Ia rindu, kecewa, sakit. Semua rasa itu ada. Bercampur aduk menjadi satu.
***
Sedangkan di depan pintu gerbang asrama tinggalnya Edo menatap ragu. Ransel kuliahnya masih tersampir di pundak.
Terdengar suara teman-temannya agak berisik. Pasti mereka sedang seru-seruan di dalam.
Pikirannya begitu kacau. Edo baru ingat, tadi siang ia kan berdebat dengan Erina yang kesal padanya soal kedekatannya dengan Seira. Erina mengancam akan mengadukan Edo pada Kalula.
Edo marah sekali lalu pergi. Saat berpapasan dengan Aldo dan Beni ia jadi ikut terbawa suasana dan menatap kesal juga ke arah mereka.
Edo menatap pintu gerbang yang tinggal ia buka itu dengan entah sedih.
Ya, Tokyo memang sedari awal bukan impiannya. Tapi ini impian Kalula. Ia melihat sakura di halaman yang mekar di balik remang-remang malam. Indah tapi asing. Edo lalu duduk di tangga. Tak jadi ia membuka gerbang.
Edo tahu pengendalian emosinya yang buruk makin memperparah pertemanannya di sini yang seharusnya ia jaga. Ia ingat janji yang ia buat dengan Erina, Ajeng, Beni, dan Aldo. Ya, sahabat tak saling meninggalkan. Berangkat bersama, lulus bersama, pulang lagi ke Jakarta bersama.
Lalu apa sekarang? Belum genap sebulan sudah ia kacaukan sendiri teman-temannya yang begitu kompak dan perhatian padanya itu.
Edo menghembuskan nafas panjang. Ia lalu berdiri dan memutuskan masuk.
Baguslah mereka masih berkumpul di ruang tengah. Jadi Edo pikir ia bisa menghampiri mereka sekalian minta maaf dan memperbaiki sikap buruknya.
Tapi ternyata harapannya salah.
Begitu ia membuka pintu, suara tawa teman-temannya mendadak hilang. Mereka menatapnya dengan canggung. Edo yang masih berdiri di depan pintu hanya bisa mematung di tempat.
"H--hai." Edo berusaha menyapa dan mencairkan kecanggungan.
__ADS_1
Semua orang, terutama Beni menatapnya seperti musuh.
Bersambung ...