
Amelia Santono tampak meradang. Ia tatap putra semata wayangnya itu dengan gemas. Ia tahu Edward pembangkang dan menjadi susah diatur setelah dewasa ini. Tapi ia kesal saat ucapannya dipotong.
"Sorry." Edward berujar lirih. Mungkin akhirnya sadar kalau dari kemarin ia tak sopan pada mamanya.
"Mama tinggal cari data base karyawan untuk menelpon mereka dan buat mereka jujur seperti apa gadis itu. Sedekat apa kalian. Mama nggak langgar janji, kan? Yang penting Mama nggak kirim mata-mata.
Mama tahu Edward. Ibu gadis itu datang mengamuk, merusak barang-barang. Dia minta uang lalu bertengkar hebat dengan gadismu itu.
Astaga, Ed. Sekarang kamu ngerti kan kenapa Mama selalu bilang padamu untuk cari wanita yang selevel. Sebanding, Ed. Setidaknya tidak jauh-jauh amat gap-nya.
Orang miskin biasanya..."
"Ma! Please..." Edward tak tahan untuk tak memotong lagi.
Ia benci kalau mamanya sudah mengkotak-kotakkan soal kaya dan miskin.
"Aku udah jelasin, Ma. Kalula beda. Mamanya memang begitu tapi itu mama tiri. Dia sudah memutus hubungan. Toh papanya juga sudah meninggal. Aku janji nggak akan ada masalah begini lagi ke depannya." Edward tampak menahan kata-katanya agar keluar dengan tak terlalu meledak-ledak.
Amelia Santono diam saja. Ia masih melipat tangannya ke dada.
"Ya udah kalau gitu. Kamu jujur aja sama dia kalau sebenarnya kamu bukan cowok kere yang jadi barista. Mama geli lihat kamu pakai seragam kayak gitu. Kapan sih kamu ngantor? Sudah saatnya kamu mengambil alih kantor pusat biar Mama nggak capek kerja sendirian.
Bawa anak itu ke Mama. Kenalin dan yang paling penting keluarin dia dari apartemen kamu. Atau kalau kamu ulur-ulur waktu lagi, Mama sendiri yang akan seret dia keluar. Kamu janji kan secepatnya?
Tapi secepatnya itu kapan, Ed? Mama butuh waktu yang jelas!"
Amelia Santono tampaknya sudah menyerah juga karena ia tahu ia dan putranya sama-sama keras kepala. Jadi ia memilih untuk memberi tenggat waktu saja.
Diminta kejelasan begini membuat Edward panik. Bagaimana cara menjelaskan ini pada Kalula. Ia malah cemas kalau Kalula akan marah begitu tahu ia dibohongi.
__ADS_1
"Nggak bisa, Ma. Kalula sebentar lagi keluar kok dari apartemenku. Ya setelah dia gajian nanti. Dia udah nyari tempat kost. Udahlah, jangan usik dia.
Pokoknya aku akan marah, sangat marah, kalau sampai Mama atau orang Mama mengusik dia. Kalula itu urusanku, Ma. Aku cuma minta waktu," ucap Edward memohon lagu seperti kemarin di dalam mobil.
Amelia Santono menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak paham jalan pikiran putranya. Bertahun-tahun tidak mau dijodohkan, dikenalkan pada gadis-gadis kaya. Eh, sekarang begitu jatuh cinta malah jatuh cinta dengan gadis biasa yang tidak jelas. Bagaimana Amelia Santono tidak meradang.
"Apa sih susahnya jujur? Kan tinggal bilang pada anak itu. 'Hei, aku sebenarnya kaya raya, loh. Aku cuma ngetes kamu apa kamu suka aku karena hartaku atau tidak.'
Gitu doang kan, Ed? Bagaimana pun mana ada gadis yang menolak pria kaya. Dia pasti senang begitu tahu ternyata kamu kaya. Semua gadis miskin di luar sana pas..."
"Ma! Ah, mulai lagi, kan. Aku paling nggak suka Mama bilang Kalula miskin. Dan dia punya nama, Ma. Namanya Kalula. Jangan sebut dia dengan sebutan gadis itu, anak itu. Namanya K-a-l-u-l-a." Edward tak tahan untuk tak memotong lagi.
Amelia Santono langsung merapatkan bibirnya. Ia mencoba untuk tidak terlihat kesal walaupun hatinya sangat kesal sekali.
"Oke. Ya udah. Kapan kamu ngomong ke Kalula. Terus bawa dia ke Mama. Mama harus screening calon menantu Mama seperti apa, layak atau tidak.
Mama nggak mau ya kamu kelihatan di luaran sana lagi jalan sama dia sering-sering. Gimana kalau teman Mama lihat? Kalau kamu serius, kamu nikahi dia," ucapannya tegas.
Baginya nikah sih oke-oke saja. Tapi Kalula? Dia masih terlalu muda. Dia juga punya banyak mimpi.
Edward pun tahu kalau Kalula tidak sedangkal itu. Walaupun Kalula tahu ia kaya, tapi Kalula sepertinya bukan tipe-tipe gadis yang gila harta. Maka itulah yang membuat Edward tertarik dan suka padanya, kan? Karena dia berbeda.
Tapi isi kepala mamanya mungkin berbeda. Mamanya menganggap Kalula cuma gadis matre yang tidak berharga dan tidak punya arti apa-apa. Edward benci kalau mamanya merendahkan Kalula karena status sosialnya.
"Dia punya pacar, Ma. Pacarnya di Tokyo, lagi kuliah. Makanya aku minta waktu. Mama jangan memburu-buru begitu." Edward berkata lirih.
"Apa?" Amelia Santono merasa seperti ditampar keras-keras.
Ia tidak bisa menahan lagi agar kata-katanya tetap keluar dari mulutnya dengan anggun. Amelia sudah tak paham lagi dengan putranya. Dia memijit-mijit pelipisnya dan berusaha mengusir Edward dari kamarnya dengan mengayun-ayunkan tangannya dan menunjuk-nunjuk pintu.
__ADS_1
Edward tahu mamanya sangat marah. Ia tampak panik lalu berdiri dari kursi dan duduk di samping mamanya. Ia berusaha memohon tapi wanita itu sepertinya enggan dan mendorongnya menjauh.
"Ma, please, Ma. Dengerin aku dulu."
Edward benar-benar seperti anak kecil yang sedang merayu-rayu mamanya.
"Udah, Ed. Daripada Mama jantungan, kamu pergi aja." Amelia sepertinya ingin menyerah saja.
"Ma, dengerin aku dulu. Sebentar lagi Kalula juga putus, kok. Makanya kasih aku waktu. Mama dengar nggak, sih," ucap Edward panik.
Amelia Santono memejamkan matanya dan termenung diam. Tangannya ia tutupkan ke separuh wajahnya. Kepalanya benar-benar berdenyut-denyut hebat. Rasanya obat sakit kepala biasa tidak mampu meredakan ini.
Edward masih berusaha merangkulnya.
Putranya yang berharga yang kalau dalam pertemuan para sosialita jadi rebutan menantu idaman teman-temannya malah menyukai gadis yang punya pacar. Amelia tentu pusing dibuatnya. Kok bisa?
"Kamu kurang apa lagi sih, Ed? Kaya, tampanĀ keren. Nyari cewek yang bener aja nggak bisa? Bisa-bisanya dia punya pacar tapi kamu tetap dekatin dia." Amelia sebenarnya enggan mendebatkan ini tapi ia mau tak mau harus mengatakannya.
Edward diam saja. Tapi tangannya mengelus pundaknya dengan gerakan menenangkan. Kalau begini Edward kelihatan seperti anak manis dan penurut.
"Ya emang kenapa? Selama dia belum nikah kan sah-sah aja kurebut. Yang penting dia bukan istri orang, kan?" Edward berkata santai.
"EDWARD!" Amelia Santono berteriak keras sambil menghentak tangan Edward dari pundaknya. Matanya melotot.
Edward hanya nyengir saja. Ia merasa tak ada yang salah dari kata-katanya.
"Ed, kamu mau bikin Mama jantungan ya? Mau bikin Mama mati berdiri, hah? Apa kata teman-teman Mama, kolega Mama, keluarga besar kita, kalau kamu macarin istri orang?" Amelia tak tahan untuk tak menjewer telinga putranya.
Edward mengaduh sambil berusaha menghindar. Walau tak menjewer sungguhan, tetap saja rasanya sakit.
__ADS_1
"Ma, please..."
Bersambung ...